BK - 23 : hari yg tenang (?)

774 121 8
                                        

Yuk biasakan menekan vote dulu sebelum baca. Terima kasih! 😘

Happy Reading!

• • •

Sasuke sibuk mengunci diri di kamarnya selepas membantu asisten rumah tangga membersihkan rumah bersama dengan Itachi, walaupun ditengah prosesnya mereka berdua tetap bertengkar mulut dan fisik satu sama lain.

Dirinya yang selesai mandi kemudian merasakan lelah yang sedikit menghampiri, memutuskan berbaring sejenak pada sofa santainya. Kemudian ingatannya perlahan tertuju pada buku bercover merah muda milik seorang gadis berhelaian serupa. Senyumnya perlahan mengembang tanpa sadar.

Tangannya kemudian meraih buku itu, perlahan membuka lembar demi lembar, membaca teliti dan seksama. Sasuke perkirakan sudah ada kurang lebih 50-an puisi di dalamnya beserta dengan kata-kata random yang ditulis gadis itu.

Benar apa yang dikatakan gadis itu tempo hari, masih banyak karya puisi Sakura yang minim majas dan diksi. Hanya beberapa karya yang menurut Sasuke bisa dimasukan sebagai antologi.

Sebagian puisi karya seseorang adalah penggambaran kehidupan dan perasaan orang itu disuatu masa atau waktu tertentu.

Sasuke yang belum mengenal Sakura saat masih sekolah menengah pertama tak bisa mendalami makna yang tersirat dalam puluhan karya puisi gadis itu.

Namun ada satu puisi yang seolah mencubit jiwa Sasuke ketika netranya menangkap satu kalimat pembuka yang sederhana.

Fiksi Tentang Ayah

Dekapmu adalah memori saat ku terjaga

Dongengmu sekadar pengantar lelap dimasa belia

Romanmu laksana embun yang kabur

Kasihmu tak meluap hinggaku dewasa

Pundakmu tak muncul kalaku terluka

Usap tangan kokohmu tak terulur kalaku kepayahan,

Manakala ku tergugu, kau selayaknya fiksi yang tak pernah ada

Terdiam, terpatung, dan terpasung,

Membuatku tersenyum dan terluka bersamaan

Teringat kau sosok yang ingin kucinta dan kubenci sekaligus,

Kau ayahku dimasa lalu.

- Haruno. S

Mungkin jika tempo dulu Naruto tidak pernah menceritakan sebagian memori masa kecilnya tentang Sakura, ia tidak akan mengerti bahwa gadis itu memiliki kisah dan luka pelik dimasa kecil.

Walau dirinya tidak mampu berempati secara dalam, namun ia seolah ikut merasakan bagaimana perihnya Sakura ketika mencurahkan afeksi dalam bentuk sebuah puisi.

Hingga ketika tangannya membuka lembar terakhir buku itu, tinta hitam yang menyusun kalimat puisi itu masih terlihat tebal dan baru. Berbeda dengan puisi-puisi sebelumnya yang ia baca, puisi di halaman terakhir seolah menunjukkan puisi yang dibuat oleh Sakura baru-baru ini.

Kisah untuk Semesta

Alkisah,

Pada dongeng yang diceritakan penguasa,

BUKAN KAMU [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang