BK - 4 : ceroboh dan keras kepala

1.1K 154 6
                                        

Jangan lupa vote dan komentarnya ya :)

Happy reading!

.

.

" Kau butuh bantuan?"

Suara merdu dari mulut pemuda di depannya kini hanya mampu ia balas dengan diam. Hati dan pikirannya masih terlalu terkejut dengan apa yang kini lihat di depannya itu. Sesosok pemuda yang sejak awal masuk SMA selalu ia perhatikan dengan diam-diam dan secara sembunyi setiap harinya dimanapun dan kapanpun, kini sedang berdiri di depannya dan menawarkan bantuan padanya. Jadi jangan salahkan dirinya yang masih diam seperti patung bodoh sembari terus menatap objek pemuda tampan itu. Sungguh ia masih tidak menyangka akan bertemu dengan pemuda yang sangat ia kagumi itu secepat ini.

" Kau mendengarku?"

Pemuda itu kembali bertanya sembari berjalan mendekat kearahnya, mungkin karena sejak beberapa menit yang lalu pertanyaan yang pemuda ajukan tak kunjung ada jawaban darinya.

" Jangan mendekat!" Reflek Sakura berteriak, saat jarak pemuda tampan itu dengannya sudah makin dekat.

Bodoh! Rutuknya dalam hati.

Mengapa ia berteriak seperti orang ketakutan karena ingin diapa-apakan oleh seseorang?

Tolol memang!

Sakura menggigit bibirnya cepat, setelah sesaat matanya menangkap ekspresi heran pemuda itu, mungkin saat ini Sasuke menganggap dirinya gadis gila. Tamatlah sudah harga dirinya di depan pemuda yang selama ini ia kagumi.

Bodoh kau Sakura!

" Eh..maksudku, tidak usah kesini Kak, aku bisa mengatasinya sendiri. Hehe"

Tanpa menunggu pemuda itu angkat bicara lagi, Sakura segera membenarkan kalimat yang sebelumnya salah.

Pemuda itu mengangguk-ngangguk tanda mengerti, "Kau mau membawa banyak buku itu kemana?"

Mungkin saat ini dewi keberuntungan sedang memihak padanya, untuk beberapa menit kemudian ia bisa menjawab dan menata percakapan dengan pemuda itu seperti orang pada umumnya, tidak seperti awal tadi ia seperti orang gila yang parnoan. Mungkin karena efek terkejut yang luar biasa bisa bertemu dengan pemuda tampan bak pangeran seperti Sasuke.

" Ke ruang guru, Kak. Dilantai paling atas." Jawab Sakura sembari telaten menata buku yang sebagian masih berceceran di area tangga.

" Kenapa kau tak menggunakan lift saja?"

Sakura menghentikan aktivitasnya mengumpulkan buku, untuk melirik manusia tampan di depannya yang kini sudah duduk di ujung atas tangga dengan pose yang menurutnya sangat keren dan menakjubkan. Padahal mungkin orang lain akan memandangnya biasa saja. Tapi untuk Sakura, semua hal yang dilakukan Sasuke adalah hal terindah dan menakjubkan yang pernah ia lihat.

" Kau melamun lagi."

Sakura tersentak dan merasa malu setengah mati tertangkap basah melamun sembari memandang lekat pemuda tampan itu. Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal sebentar lalu kembali menata buku-buku yang masih berserakan, menutupi rasa malunya sebaik mungkin.

" Ah maaf, anu itu liftnya sudah mati jika sudah jam segini."

Ya, lagi-lagi ia menjawab pertanyaan Sasuke dengan jawaban bodoh yang tidak masuk akal. Sejak kapan lift sekolah bergengsi ini sudah dinonaktifkan saat sore-sore begini, bahkan kadang sampai tengah malam pun lift akan terus beroperasi dengan syarat orang yang akan menggunakannya memiliki kartu akses khusus untuk menggunakan lift diluar jam pelajaran. Seperti hari ini, saat sore hari hampir menjelang petang.

Namun sayangnya, Sakura bukan siswi pada umumnya, ia hanya siswi penuh kekurangan yang sangat beruntung bisa masuk ke SMA bergengsi favorit seperti sekolah ini. Jangankan untuk mengurus biaya pembuatan kartu khusus akses lift, untuk biaya operasional sekolah per bulan sekaligus biaya pembelian alat tulis dan buku untuk sekolah saja Sakura masih sangat kesulitan untuk membayarnya, jadi ia rasa tak perlu membuang waktu dan uangnya hanya untuk mendapatkan kemudahan akses berpergian dengan fasilitas lift.

Sakura menghembuskan nafas lega saat semua buku yang jatuh dan tercecer kini sudah terkumpul dalam dekapannya, siap untuk diantarkan ke ruang guru kelasnya yang siang tadi mengajar, lalu sesegera mungkin ia harus kembali ke lantai dua untuk masuk ke ruang seni, karena hari ini adalah pertemuan pertama sekaligus perkenalan antar anggota eskul seni periode kedua tahun ini. 

Jika ia terlambat, maka sudah pasti namanya akan buruk dan dicap sebagai "murid tingkat satu yang pemalas."

Dilihat dari sikap Sasuke yang hanya diam tak kembali menimpali dirinya dengan pertanyaan lagi, Sakura rasa pemuda itu sudah paham bahwa dirinya hanya seorang siswi dari keluarga miskin yang tidak memiliki akses ekslusif dan kemampuan untuk menggunakan fasilitas lift di sekolah ini. Maka sebelum melangkah menuju tempat Sasuke duduk, Sakura menyempatkan untuk menundukkan kepalanya, berusaha menyampaikan salam sebelum pamit untuk pergi dari hadapan pemuda itu.

" Maaf Kak saya permisi pamit dulu, ada hal lain yang harus saya kerjakan setelah mengantar buku-buku ini."

Sekilas sebelum melangkah lebih jauh, Sakura melihat pemuda itu ikut berdiri, "Aku tidak bisa menjamin kau akan tiba di ruang guru tanpa menjatuhkan puluhan buku itu lagi."

" Hah? Apa maksudmu?!" suara tanya bernada tinggi, yang terdengar bodoh dan tidak sopan reflek keluar dengan sendirinya. Otomatis Sakura mengigit bibirnya cepat.

Mulut sialan!

Sasuke melangkah lebih dulu di depannya, mengacuhkan perkataan tak sopan yang terlontar dari mulutnya, hingga saat mereka sama-sama sudah berada dilantai yang Sakura tahu lantai ke-4 yang berisi ruangan kelas milik kelas 12, pemuda itu melanjutkan perkataannya,

" Lewat lift saja. Aku akan mengantarmu." 

Suara perintah terdengar jelas dari nada pemuda itu. Sebelah tangan pemuda itu teracung sembari menampilkan kartu yang sudah sangat Sakura kenali, kartu akses lift ekslusif.

Sakura mengerjap bingung, " Eh, sungguh tidak apa-apa Kak. Lagipula ini tinggal satu lantai lagi." Tolak Sakura dengan nada tidak enak.

" Selain ceroboh, kau keras kepala juga."

Sahut Sasuke dengan nada yang jelas Sakura tangkap sedang kesal. Mau tak mau, Sakura akhirnya hanya bisa diam, takut jika menanggapi lebih jauh lagi Sasuke akan lebih marah dan kesal lagi dengannya sehingga menghadiahkan dirinya dengan kata-kata yang lebih menusuk dari yang baru saja didengarnya.

" Ikut aku."

Perintah Sasuke selanjutnya sembari berjalan menuju lift yang berada ditengah-tengah lantai itu, yang langsung diangguki pasrah oleh Sakura.

Sakura patuh mengekor mengikuti langkah pemuda itu, sembari kedua matanya berkeliling menjelajah sudut lantai itu, warna cat dan ukuran gedungnya terlihat sama dengan lantai ruangan kelas 10 yang ditempatinya, hanya saja jika dilantai 4 ini ada balkon luas dan teduh di ujung bangunan. Disepanjang balkon yang dapat ditangkap penglihatannya, ada beberapa bangku panjang serta sofa yang disediakan disana.

Ah, rasanya begitu menyenangkan jika bisa beristirahat disana sembari menikmati semilir angin yang berhembus disela-sela waktu saat sedang beristirahat ditengah penatnya belajar.

" Kau terlalu banyak melamun." Suara bernada tak sabaran kembali terdengar.

Atensi Sakura buyar lalu langkahnya ikut terhenti, kepalanya menoleh ke sumber suara dimana pemuda itu sudah terlihat berdiri di dalam lift.

Bodoh! Lagi-lagi dirinya kedapatan melamun seperti orang bodoh. Tanpa menunggu lama, ia langsung berlari menuju lift yang pintunya hampir menutup kembali karena sudah terlalu lama membuka.

" Ah maafkan aku."

Ucapnya menyesal sembari memperbaiki tatanan buku dalam dekapannya yang sudah tidak rapih lagi. Jujur, membawa buku sebanyak itu sangat menguras tenaganya, apalagi ditambah ia berlari melewati tangga dari lantai 2.

.

.

A/N :

Stay healthy and happy guys <3

BUKAN KAMU [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang