BK - 11 : surat kedua

920 128 0
                                        

Oh iya, mau ngasih tau aku ada cerita sasusaku baru judulnya "The Light in Your Eyes." 

Jangan lupa ditengok, terus diramein yaaa.


Jangan lupa pencet votes dulu sebelum lanjut baca.

Happy Reading!

. . .

Matahari sudah mulai terik, namun tak jua membuat gerombolan siswa-siswa yang berkumpul pada stan-stan indoor maupun outdoor kehilangan antusias. Sudah lima hari berjalan sejak senin lusa, tak ada yang mampu Sakura kerjakan selain datang ke perpustakaan, kantin atau berdiam diri sejenak di taman samping lapangan, melirik sekilas teman-temannya yang lain sibuk dengan kegiatannya di acara yang diadakan OSIS tahun ini. Walau sudah melihat kesibukan itu berulang kali tak juga membuat hatinya tak sedih, sungguh ia merasa nelangsa. 

Kadang ketika hatinya benar-benar tak berdaya, tak sadar ia memikirkan macam-macam hal hingga sampai berandai kalau saja keadaan ekonominya masih sama dengan ketika keluarganya masih utuh. 

Namun secepat kilat ketika sadar, ia mengutuk dirinya sendiri, berandai dengan hal muluk selalu membuatnya tertimbun ke dalam kekecewaan dan kesakitan yang semakin dalam. Sakura sadar hidupnya sudah melelahkan, jadi ia tidak mau repot-repot lagi menambah beban pikirannya dengan memikirkan masa lalunya bersama orang brengsek.

" Sakura, kau tidak pulang?" Suara tanya dari Karin memecah pikirannya yang rumit.

Gadis itu memerhatikan penampilan Karin yang memakai baju santai, celana training dan hoodie kebesaran. Berbeda jauh dengan penampilannya yang rapih menggunakan seragam layaknya saat jam belajar mengajar masih berjalan. 

Kegiatan OSIS selama seminggu penuh tidak menganjurkan dress code seragam, aktivitas yang bersifat hiburan sekaligus edukasi diluar jam pelajaran itu membebaskan semua peserta yang ikut untuk bisa tampil sesukanya namun masih tetap menerapkan norma sopan santun. 

Melihat begitu banyaknya siswa yang berseliweran menggunakan baju bebas yang santai, kehadirannya yang berbeda seringkali membuatnya menjadi pusat perhatian. Sakura paham bahwa dirinya memang tidak tahu diri, harusnya memang ia mendekam dalam rumah saja. Tapi sayangnya, ia tidak bisa. 

Ibunya yang sudah lama sakit lemah jantung, mengharuskan beliau untuk mengurangi pekerjaan dan memperbanyak beristirahat di rumah. Sakura bisa saja berbohong kalau seminggu penuh sekolah libur, tapi ia malas menanggapi pertanyaan ibunya ketika mungkin ibunya berpapasan dengan tetangga yang anaknya kebetulan bersekolah sama dengannya, namun masih berangkat sekolah karena ada kegiatan diluar jam pelajaran. 

Jadi untuk menghindar dari pertanyaan dan dirinya yang mungkin berbohong, ia tetap berangkat ke sekolah, walau ia tahu ia akan mati kebosanan. 

Tapi ia tak peduli, masih banyak hal yang harus dipikirkan dihidupnya yang rumit dibandingkan hal-hal remeh temeh. Karin juga teman-teman beasiswa yang lain memang serentak meliburkan diri, selain karena alasan tidak ada yang bisa dikerjakan jika mereka tetap berangkat, mungkin karena ada rasa sedih ketika melihat teman-teman yang bisa berpartisipasi di acara Happy and Smart Weeks sedangkan mereka hanya bisa melihanya dari kejauhan. Dan Sakura sangat paham bagaimana rasanya.

Sakura menyempatkan terkekeh. 

" Aku bingung di rumah saja. Ada baiknya aku tetap berangkat, masih banyak buku di perpustakaan yang mengantri minta dibaca." Ucapnya berusaha melucu. 

Tentu Sakura bohong, ia memang suka membaca tapi ia tidak se-freak itu dalam hal membaca selama satu minggu penuh. Gadis itu hanya mencari alibi saja, malas juga menjelaskan pada orang lain, walaupun ia lumayan dekat dengan Karin, ia tidak mau dirinya dikasihani karena cerita kehidupannya yang rumit.

BUKAN KAMU [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang