Un jour au mauvais = hari yang burukRegi sudah tak sabar membuka botol wine ketika ada di depan kasir. Sambil meneguk langsung wine dari botol, dia menyerahkan uang 20 euro untuk membayar dua botol wine. Bapak tua di konter kasir memberikan tatapan aneh walau tidak bertanya sama sekali.Sepertinya dia sudah sering melihat perempuan frustasi yang melarikan diri pada minuman.
Melihat Instagram Mathias membuat mood-nya jadi buruk. Dia butuh sesuatu untuk menghibur diri. Kakinya melangkah ke supermarket. Berkeliling di lorong supermarket tanpa tujuan,dia berhenti di rak wine. Aneka jenis wine tersedia dengan harga murah sekitar lima Euro sampai yang mahal. Di Paris wine bukan minuman mewah. Tidak perlu beli di toko wine khusus. Di supermarket pun berjajar wine dengan bermacam merk macam teh botol di Alfamart. Perancis terkenal memiliki perkebunan anggur; Bordeaux, Médoc dan Bourgogne. Regi tidak tahu jenis wine apa yang harus dibeli. Pokoknya dia pingin minum. Secara asal Regi mengambil botol bertuliskan Merlot. Harga sekitar sembilan Euro dengan botol model tanpa sumbat gabus yang lebih mudah dibuka.
Hanya dengan satu putaran tangan, botol sudah terbuka. Tanpa pikir panjang Regi meneguknya. Rasanya kesat, pahit membakar kerongkongan. Aroma tajam anggur menyeruak hidungnya. Regi nyaris tersedak tetapi dia tidak peduli. Dia terus meneguk wine sambil berjalan lalu berhenti di sebuah bangku. Tangannya gatal untuk mengintip isi Instastory Mathias. Regi, jangan dibuka lagi, perintah otaknya. Tetapi tangannya bertindak lain. Terpampang gambar Mathias yang masih berpesta ria. Mathias mengangkat gelas minuman macam sedang toast ke arah seorang perempuan. Mereka menjatuhkan diri di sofa dan tertawa lepas.
Regi menarik nafas sedih. Dia sudah menyia-nyiakan kesempatan berpesta bersama Mathias. Sekarang dia sendirian di tengah ramainya Paris yang katanya kota romantis itu. Dia mengincar Mathias tetapi dengan tololnya menolak diajak ke pesta. Harusnya malam ini dia sedang bersenang-senang bersama Mathias. Regi, kamu memang bodoh, Regi tak henti memaki diri sendiri.
Regi membuka botol kedua. Malam semakin larut. Angin malam menampar-nampar pipi dan lehernya. Asupan alkohol membuat badannya sedikit hangat. Dia harus segera pulang. Kepalanya seringan balon yang siap dilepas ke udara. Ketika berjalan langkahnya terasa melayang-layang.
Matanya mulai mengabur ketika membaca jalur Metro. Regi menyandarkan tubuh di tembok stasiun. Tidak banyak orang yang menunggu malam itu. Otaknya memerintahkan untuk mencari tempat duduk tetapi dia kesulitan berjalan. Kaki bergerak ke kiri dan ke kanan secara serampangan. Dia sempat menabrak tiang dan jatuh terjerembab. Tidak terasa sakit, dia malah merasa geli. Regi tertawa cekikikan sendirian. Orang yang berdiri di dekatnya bergeser menjauh ketika dia berjalan mendekat. Regi menyapa mereka. Tak ada yang membalas sapaannya. Dasar orang Paris, judes-judes. Tatapan aneh orang-orang terlihat lucu. Tak tahan dia kembali cekikikan sendiri.
Kereta datang ketika Regi sudah menghabiskan setengah botol wine. Perasaannya semakin gembira tak terkira. Raut wajah orang-orang di sekelilingnya sangat lucu. Muka mereka selonjong ketimun dengan bibir selebar badut. Regi tak tahan melepas tawa. Bahkan ada pria yang jenggotnya berpindah ke kuping. Pria itu memberikan Regi tempat duduk dan menjauhkan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Rendezvous in Paris (Completed)
ChickLitCERITA INI BAGI MEREKA YANG SUDAH BERUSIA 18 TAHUN KE ATAS. MENGANDUNG BANYAK KONTEN DEWASA. Sepanjang hidup Regita Hapsari , 27 tahun, berada di bawah pengawasan ketat orang tuanya. Hidupnya terlalu lurus, cenderung membosankan. Ketika memulai hidu...