DR 33. Suatu Takdir

1.3K 218 60
                                        

"Takdir kadang unik. Sudah sempat pasrah, Tuhan malah punya rencana-Nya.

-Detak Rasa-

Kinan menatap undangan yang diberikan Hannah minggu lalu. Waktu seolah berjalan begitu cepat, tidak terasa besok adalah hari pernikahan sahabatnya itu. Tadi dirinya sempat menelepon Hannah, hanya saling bercerita untuk menenangkan Hannah yang gugup sebelum hari pernikahan.

'Mengajak Rafka?'

Tidak, dia tidak pernah memberitahu Rafka perihal itu. Aneh saja tiba-tiba mengajak lelaki itu datang ke pernikahan Hannah, yang mana Rafka tidak mengenal Hannah sedikit pun. Jikapun mengajak Rafka, Kinanpun tidak akan berani memberitahu alasan dibalik ajakan itu.

Kinan bangkit dari duduknya, meninggalkan undangan Hannah di meja belajar dan keluar dari kamar menuju kamar Nasya yang berada tepat disamping kamarnya.

"Dek, besok pulang sekolah ada acara?" tanya Kinan pada Nasya yang tampak serius menghadapi buku-buku belajarnya.

"Besok? Aku ada bimbel mbak. Mbak kan tau sendiri jumat sama sabtu pulang sekolah, aku langsung pergi bimbel," jawab Nasya.

Kinan terdiam, dia mendudukkan tubuhnya di kasur Nasya.

"Kenapa Mbak?"

"Mbak mau ngajak kamu ke nikahannya Hannah," ucap Kinan.

"Wah, mbak Hannah mau nikah?" tanya Nasya yang kini telah memutar tubuhnya menghadap Kinan.

Kinan mengangguk, "Iya, makanya Mbak minta temani sama kamu," ucap Kinan.

"Yah, gak bisa mbak. Besok aku Try Out di tempat bimbel. Sayang aja kalau aku gak ikut," ucap Nasya. 

Pasrah, Kinan menghela nafas. Tampaknya dirinya akan datang sendiri ke pernikahannya Hannah. Niat untuk mengajak Rafka tidak ada dibenaknya.

Hannah hanya mengancam kalau dirinya hadir ke pernikahan bersama Nasya, Rayhan akan di paksa datang ke rumahnya. Bagaimana kalau dia datang seorang diri? Tidak ada ancamankan mengenai itu?

Kinan tersenyum mengenai alibi yang terpikirkan oleh otaknya.

"Lah, Mbak? Kok senyum-senyum sendiri?"

"Ya udah, kamu belajar lagi aja. Mbak balik ke kamar ya," ucap Kinan yang kini telah berdiri dan keluar dari kamar Nasya.

"Kalau kamu datang bersama Rafka di pernikahanku, aku akan berhenti menggoda kalian. Tapi kalau kamu datang bersama Nasya aku akan memaksa Abang untuk datang ke rumah kamu."

Kinan kembali mengingat-ingat ucapan Hannah, tidak ada ancaman kalau dirinya datang sendirian. Malah, dengan datang sendirian dia akan terbebas dari ancaman itu.

Kinan tersenyum, lalu dia merebahkan dirinya ke kasur. Akhirnya malam ini dia dapat tidur dengan tenang setelah beberapa hari belakang ini tidak bisa tidur karena ancaman dari Hannah.

💗💗💗

"Mbak, bukuku ketinggalan. Bentar," Nasya yang baru menyadari bukunya ketinggalan langsung keluar dari mobil.

Kinan hanya mengangguk, lalu melajukan mobilnya keluar dari garasi dan menuju jalanan depan rumah, menunggu Nasya disana.

Sambil melihat-lihat ponselnya, pintu mobil terdengar terbuka. "Udah Sya? Gak ada yang ketinggalan lagi kan?"

"Tumben duduk dibelakang Sya?" tanya Kinan lagi yang kini memutar kepalanya kebelakang. Bertepatan dengan itu pintu depan dibuka.

"Loh, Mas ngapain disini?" tanya Nasya yang kini duduk disamping Kinan.

DETAK RASA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang