"Cinta hadir bukan karena paksaan, dia hadir karena tulus untuk bersemayam di hatimu."
-Detak Rasa-
"Sambil nunggu karyawan aku datang, jadi kenapa kamu kesini? Gak mungkin hanya sekedar makan kan?" tanya Kinan yang menatap Hannah sesekali pada gadis mungil yang tampak anteng berada di pangkuan Hannah.
"Ini tentang kamu dan Abang," ucap Hannah membuat Kinan menautkan alisnya mendengar ucapan itu.
Ada apa antara dirinya dan Rayhan?
"Aku? Abang kamu? Kenapa?" tanya Kinan bingung, karena sudah lama dia tidak bertemu lagi dengan Rayhan, terakhir di bengkel saat dia menjemput mobil.
"Kamu mau ya nikah sama Abang," Kinan kaget mendengar penuturan Hannah, kalimat yang terlontar dari mulut Hannah tidak seperti pertanyaan tapi lebih ke pernyataan. Ada apa dengan sahabatnya itu? Kenapa mendadak seperti ini?
"Han, kamu kenapa sih? Kenapa ngomong kayak gitu?" tanya Kinan tak suka.
"Pliiss, aku mohon. Kamu mau ya?" ulang Hannah lagi sambil menyatukan kedua telapak tangannya ke depan memohon pada Kinan.
Kinan terdiam, masih bingung dengan sikap Hannah seperti ini.
"Na," panggil Hannah ketika Kinan hanya terdiam menatap dirinya.
"Kamu gak bisa ngomong seperti ini Han, lagian kenapa juga tiba-tiba kamu minta aku nikah sama Abang kamu?" tanya Kinan yang demi apapun dia tidak paham dengan isi kepala Hannah.
"Naa," ucap Hannah setengah merengek lalu entah mengapa gadis didepannya itu mulai menangis.
Tentu hal tersebut membuat Kinan tambah bingung. Apalagi bocah kecil di pangkuan Hannah sudah bergerak tidak nyaman.
"Han, tenang dulu. Aku bingung dengan kamu begini," ucap Kinan bingung harus melakukan apa, ingin mendekat ke arah Hannah untuk memeluknya, tapi Kinan butuh tongkat untuk berjalan ke arah Hannah.
"Mau ya Na?" ucap Hannah lagi.
"Mending kamu tenangin diri kamu dulu Han, itu anak yang di pangkuan kamu sudah bergerak tidak nyaman. Takutnya nanti dia juga ikut nangis. Aku bakal semakin bingung kalau kalian berdua menangis disini," ucap Kinan berusaha menenangkan Hannah.
Hannah tampak berusaha tenang, juga dia mengusap punggung anak yang berada di pangkuannya agar duduk dengan tenang.
Cukup lama Kinan memberikan waktu untuk Hannah hingga gadis didepannya itu tenang, barulah dia kembali membuka suara.
"Jadi, kenapa kamu tiba-tiba datang kesini?" tanya Kinan, mungkin itu adalah pertanyaan pembuka yang pas untuk memulai obrolan mereka.
"Ingin menemui kamu," jawab Hannah, membuat Kinan menghela nafas. Bukan jawaban seperti itu yang ingin dia dengar.
"Oke, jadi kenapa kamu tiba-tiba minta aku nikah sama Abang kamu?" tanya Kinan ke pokok permasalahan yang terjadi saat ini.
"Aku pengen mastiin Abang nikah sama kamu sebelum aku menerima lamaran lelaki yang di jodohkan Papa sama Mama," ucap Hannah.
"Kamu masih belum memutuskan untuk menerima lelaki itu?" tanya Kinan kaget, setaunya Hannah sudah lama dilamar oleh lelaki yang katanya di jodohkan oleh orang tuanya.
"Belum," jawab Hannah pelan.
"Ya Allah Han, gak baik kamu menggantungkan lamaran lelaki itu selama ini. Apa yang tengah kamu pikirkan? Masih menunggu Gibran?" Tebak Kinan di akhir pertanyaannya, tidak menyangka jika Hannah berani menggantung lamaran selama ini. Kira-kira sudah sebulan lebih semenjak Kinan datang ke kafenya untuk curhat bahwa ada seorang lelaki yang datang melamarnya.
"Aku bingung Na, aku ingin menolak tapi aku tidak ingin membuat Papa dan Mama sedih, mereka sangat mengharapkan lelaki itu untuk menjadi menantunya. Aku tidak sanggup melihat mereka sedih karena ulah ku," jawab Hannah.
Kinan terdiam, masih mencerna lika liku kehidupan Hannah.
"Jadi, sekarang kamu mau nya gimana Han? Tidak baik menggantungkan lamaran selama ini, lelaki itu berhak tau apa yang kamu inginkan," ucap Kinan lagi yang membuat Hannah hanya menunduk diam sambil mengusap kepala anak yang berada di pangkuannya.
"Kamu masih menunggu Gibran?" tanya Kinan.
Hannah tidak menjawab.
"Cobalah untuk meminta kepastian pada Gibran, setidaknya kamu juga harus bicara dengannya. Apa dia memang ingin menikahi kamu atau bagaimana. Lagian, sampai kapan kamu akan menunggu Gibran? Perasaan kamu saat ini yang menunggu Gibran, mungkin juga dirasakan oleh lelaki yang kini tengah menunggu jawaban kamu. Kamu tidak boleh begini Han," ucap Kinan.
Hannah menunduk dalam.
"Aku harus bagaimana, Na?"
"Aku tidak punya hak untuk menentukan pilihan yang kini tengah membingungkan kamu, karena ini menyangkut masa depan kamu, Han," ucap Kinan. Tentu seharusnya Hannah lah yang memutuskan pilihan itu, karena dialah yang akan menjalani masa depannya.
"Makanya Kin, aku menawarkan pada kamu. Kamu menikahi Abang, dengan begitu aku akan menerima lamaran lelaki itu," ucap Hannah menatap Kinan.
"Apa hubungannya dengan aku menikahi Abang kamu Han? Aku masih belum paham kenapa kamu meminta hal ini," ucap Kinan yang kini menatap Hannah dengan kebingungan luar biasa.
"Ini Syira, anaknya Abang," ucap Hannah menatap anak kecil yang kini berada di pangkuannya.
Kinan terdiam, dia berhasil mengingat siapa gadis kecil yang berada di pangkuan Hannah tersebut, dia adalah anak yang memanggil Rayhan dengan sebutan Papa ketika mereka berada di bengkel pada pertemuan terakhir mereka.
"Ibunya sudah meninggal dua tahun yang lalu, jadi selama dua tahun ini hanya Abang yang merawatnya. Jadi dua tahun terakhir ini aku sering tinggal bersama Abang untuk membantunya menemani Syira. Bagaimanapun juga, Abang yang sibuk, pasti kewalahan mengurus Syira sendirian," ucap Hannah yang memainkan jemari anak yang bernama Syira itu.
Kinan masih diam, sedikit shock dengan fakta yang baru saja dia ketahui.
"Aku ingin Abang menikah lagi agar Syira punya sosok ibu, agar anak ini tidak kehilangan begitu saja ketika Aku yang tidak bisa lagi sering-sering menemaninya karena telah menikah, aku tidak ingin Abang yang harus mengorbankan pekerjaannya untuk merawat Syira sendirian. Aku yang sering bersama Syira hanya ingin memberikan perhatian seperti seorang ibu pada anaknya, agar Syira tidak kehilangan perhatian dari yang namanya seorang ibu. Aku kasihan pada Abang dan Syira. Makanya, aku ingin memastikan Abang menikah sebelum aku menerima lamaran lelaki itu, aku akan merelakan Gibran jika dengan begitu tidak ada orang yang tersakiti," ucap Hannah.
Kinan terdiam, tidak mampu mengucapkan sepatah katapun. Tatapannya berhenti pada Syira yang kini masih terdiam di pangkuan Hannah.
"Kenapa harus aku, Han?" tanya Kinan pelan, dia bingung dengan posisinya saat ini.
"Karena Abang mencintai kamu, Na. Makanya aku tidak akan seberani ini pada kamu jika Abang tidak mencintai kamu," ucap Hannah.
Entah mengapa Kinan merasakan perunya melilit, dia tidak pernah berada pada posisi ini dan tidak tau bagaimana harus menghadapi hal ini.
"Han, jujur aku tidak tau harus bagaimana. Tapi untuk mengabulkan keinginan kamu masih terasa mustahil bagi aku, Han. Ini sangat mendadak dan aku tidak mengenal Abang kamu. Kami hanya bertemu beberapakali dan itu juga karena kecelakaan."
Hannah terdiam menatap dirinya.
"Aku mohon Na," ucap Hannah lagi.
"Han, maaf. Tapi aku tidak bisa."
---
A/n:
Assalamualaikum!!
Kinan dan Hannah kembali menemani kalian 😍
Ayok, vomentnya jangan lupaa
Ig: came_sa
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
RomansaCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k758119.jpg)