DR 8. Kecamuk Rasa

2.6K 293 14
                                        

"Bersabarlah hati, walau bukan labuhan pertama kelak kamu akan menemukan labuhan terakhirmu."

-Detak Rasa- 

"Ini ongkosnya Pak, sekalian antar mereka pulang," ucap lelaki di depan Hannah menyadarkan.

"Eh? Kami turun disini saja Mas," ucap Hannah menolak. Dia berencana memastikan kalau lelaki di depannya itu baik-baik saja.

Masih ada banyak keanehan yang dia rasakan pada lelaki itu. Tampak berusaha menutupi kejadian pada saat kecelakaan tadi. Lelaki itu beralasan karena dia lupa menghidupkan lampu sein saat berbelok, padahal saat Kinan melihat belakang mobil lelaki itu tadi, lampu seinnya menyala.

Dia yakin, kalau disini sebenarnya Nasyalah yang salah, tapi masalahnya kenapa Nasya bisa menabrak mobil itu?

"Lupakan masalah ini, mobil kamu sudah sampai di bengkel. Nanti misscall saya, saya akan mengirimkan alamat bengkelnya ke kamu," ucap lelaki tersebut lalu keluar dari mobil.

Kinan hendak menyangkal namun terdiam ketika lelaki itu menyuruh sang sopir untuk berangkat. Dia menghela nafas, lalu menoleh pada Nasya yang masih menatapnya dengan rasa bersalah. Mungkin setiba di rumah nanti, Kinan akan meminta Nasya untuk menceritakan kronologinya.

Baru saja Taksi tersebut berjalan, tampak seseorang yang Kinan kenal baru saja melintas hendak masuk kedalam rumah sakit.

"Pak! Pak! berhenti disini Pak!" ucap Kinan membuat sopir Taksi tersebut menginjak rem lalu menoleh ke arah Kinan.

"Kenapa Mbak?"

Mengabaikan pertanyaan sang sopir, Kinan menoleh pada Nasya.

"Kamu pulang sendirian ya? Mbak turun disini," ucap Kinan lalu membuka pintu mobil.

"Mbak, tapi Mbak," ucap Nasya tidak terima kalau dia ditinggalkan begitu saja.

Tiba-tiba ingatannya tentang Papa yang melarang Nasya untuk naik Taksi terlintas. Papa sangat melarang anak-anaknya untuk naik Taksi demi keselamatan.

"Ayo turun," ucap Kinan akhirnya.

"Pak, maaf ya Pak. Kami sampai disini aja," ucap Kinan yang mau tak mau di angguki oleh sopir tersebut.

Setelah kepergian Taksi tersebut, Kinan kembali mengarahkan pandangannya pada pintu masuk rumah sakit, di sana masih ada Hannah-wanita yang dia lihat tadi sedang menelepon dengan seseorang.

Segera Kinan mengeluarkan ponselnya, menghubungi Pak Ahmad-sopir pribadi Papanya, meminta agar menjemput Nasya di rumah sakit.

Setelah memastikan Pak Ahmad bisa menjemput Nasya ke rumah sakit, lalu Kinanpun menarik lengan Nasya berjalan mendekat ke arah Hannah.

"Mbak, mau kemana?" ucap Nasya berusaha mengikuti langkah Kinan.

"Bentar, Sya. Kamu tunggu disini sebentar ya? Mbak mau ketemu teman disana," ucap Kinan mendudukkan Nasya disalah satu kursi yang berada di halaman rumah sakit, lalu dia sedikit berlari mengejar Hannah yang akan masuk kedalam rumah sakit itu.

"Han! Hannah!" panggil Kinan membuat Hannah seketika menoleh kebelakang.

"Nana? Kamu ngapain disini?" tanya Hannah kaget.

"Ahh, ituu," Kinan bingung harus menjawab apa.

"Bukannya sudah saya bilang, kamu pulang saja? Kenapa masih disini?" Suara bariton yang tiba-tiba hadir membuat Hannah dan Kinan langsung menoleh ke arah pemilik suara.

"Bang?" ucap Hannah bingung lalu menoleh pada Rayhan dan Kinan bergantian.

"Maaf Mas, tadi saya mau ketemu sama Hannah," ucap Kinan kikuk, dipojokkan satu arah membuat dia lupa dengan tujuan awalnya tadi.

DETAK RASA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang