DR 25. Jaga Emosi

2.1K 272 48
                                        

"Janganlah menghadapi suatu masalah dengan kepanikan, bukan menyelesaikan malah akan menambah beban hati dan pikiran."

-Detak Rasa-

"Mas Rafka kecelakaan di depan kafe,Mbak. Sekarang aku ada di rumah sakit, Mas Rafka masih ditangani sama dokter, Mbak bisa kesini?" tanya Daffa pada Kinan.

Kinan terdiam, rasa panik mulai merasukinya.

"Mbak?" panggil Daffa menyadarkan Kinan.

"Rumah Sakit mana?" 

"Rumah Sakit Mitra Jaya, Mbak." 

"Tunggu sebentar, Mbak akan segera kesana," ucap Kinan lalu langsung mematikan ponselnya. Tanpa berpikir panjang, dia bergegas menuju kamar. Mama yang berada didapur memandang Kinan dengan tatapan bingung. 

"Kamu mau kemana?" tanya Mama ketika Kinan telah keluar dari kamar dan menuruni tangga.

"Kenapa perbannya di lepas? tongkat kamu mana?" Rentetan pertanyaan dari sang Mama yang kebingungan melihat Kinan yang begitu panik.

"Rafkaa."

"Kenapa Rafka?" tanya Mama bingung menatap Kinan.

Nasya keluar dari kamarnya, ikut penasaran dengan apa yang telah terjadi diluar kamar.

"Mbak, kenapa?" tanya Nasya mendekat.

"Rafka kecelakaan, Ma. Kinan mau ke rumah sakit. Kinan pergi dulu Ma," ucap Kinan menyalami tangan sang Mama lalu segera berjalan menuju pintu keluar.

Masih dengan pandangan bingung, Mama dan Nasya mengikuti Kinan menuju pintu keluar. 

"Kamu mau nyetir?" tanya Mamanya menatap Kinan tidak percaya ketika melihat anaknya itu memegang kunci mobil.

Kinan menoleh,  menatap sang Mama lalu mengangguk samar.

Tanpa jeda, Mama langsung meraih kunci mobil itu dari tangan Kinan. 

"Gimana cara kamu bawa mobil? Perhatiin juga keadaan kamu, Na," ucap Mamanya menatap Kinan tidak percaya.

"Kinan bisa kok, Ma. Kaki Kinan udah baikan, gak sakit lagi," ucap Kinan sambil memperhatikan kakinya.

Mama masih menatap Kinan tidak percaya. Kunci yang dipegangpun diserahkan pada Nasya. Nasya menatap kunci ditangannya dengan pandangan tidak mengerti akan maksud Mamanya.

"Kamu yang bawa mobil, antarin Mbak mu ke rumah sakit," ucap Mamanya seolah paham kebingungan Nasya. 

"Tapi_" 

"Kabarin Mama keadaan Rafka, kalau perlu Mama bakal nyusul nanti," ucap Mama pada Kinan memotong ucapan Nasya.

Kinan mengangguk.

"Ayo Sya," ucap Kinan lalu berjalan lebih dahulu menuju mobilnya yang berada di garasi.

Nasya masih memandang Mamanya, dia ingin menolak tapi tidak bisa dia lakukan karena Mama yang menyuruh. Akhirnya diapun menyalami tangan Mama dan berjalan mengikuti Kinan menuju garasi.

"Mbak, aku perlu ganti baju. Gak mungkin kan pakai baju rumah gini?" tanya Nasya pada Kinan yang berjalan didepannya.

"Pakai aja itu Sya."

"Begini?" tanya Nasya sambil menatap bajunya sekilas.

Tanpa menoleh, Kinan mengangguk.

"Gak papa, kamu tunggu di mobil aja nanti. Gak usah keluar kalau malu," ucap Kinan membuat Nasya menghela nafas. Mau tak mau akhirnya dia memang harus menemani kakaknya itu.

DETAK RASA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang