"Belajarlah memiliki sebelum kehilangan, agar kau tau beharganya seseorang ketika dia pergi."
-Detak Rasa-
"Kinan!!" Rafka reflek melepaskan Tredi dan berjalan mendekat ke arah kolam.
Kinan yang merasakan tubuhnya melayang begitu saja, membuat dia memejamkan mata dengan kuat sebelum tubuhnya jatuh dengan sempurna kedalam kolam.
"Kinan!" terdengar kembali dengan samar panggilan dari Rafka dari atas kolam.
Kinan membuka matanya, berusaha untuk naik ke atas permukaan namun kakinya terasa sakit ketika mencoba untuk mendayung ke atas. Sekuat tenaga Kinan mencoba kembali untuk naik, namun tetap saja kakinya tidak bisa di ajak untuk bekerja sama. Pergelangan kakinya sangat sakit ketika digerakkan.
Rafka tampak panik ketika Kinan tak kunjung naik, dia tau kalau Kinan pandai berenang, jikapun Kinan tak kunjung sampai di permukaan itu artinya ada yang tidak beres. Diapun berteriak memanggil Nasya yang masih berada di dapur sedang mencuci piring, mendengar panggilan itu membuat Nasya bergegas menghampiri Rafka.
"Mbak Kinan kenapa?" Nasya tak kalah panik ketika Rafka yang malah menatap kolam renang.
"Bantu Kinan naik," ucap Rafka menyuruh Nasya untuk segara membantu Kinan.
Bukannya Rafka tidak mau membantu, hanya saja dia tau kalau dia punya batasan di rumah ini. Jikapun dipaksa, Kinanpun pasti akan tidak suka jika dia menyentuh gadis itu.
Tanpa berpikir panjang, Nasyapun masuk kedalam kolam. Membantu Kinan untuk naik ke permukaan.
"Mbak, Mbak gak papa?" tanya Nasya ketika mereka berdua telah sampai dipinggiran kolam.
Kinan hanya mengangguk, dia memegang pergelangan kakinya yang terasa sangat sakit.
"Kaki Mbak sakit?" tanya Nasya ketika melihat Kinan yang terus meringis memegang pergelangan kakinya.
Rafka tampak panik, ikut berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Kinan dan Nasya.
"Ke rumah sakit ya?" tawar Rafka ketika melihat Kinan yang terus meringis memegang pergelangan kakinya, perasaan bersalah menghantuinya.
Kinan menggeleng, namun air matanya tidak dapat dia tahan lagi. Kinan menangis sambil memegang kakinya. Tentu Nasya dan Rafka tambah panik dibuatnya.
"Mbak, ke rumah sakit aja ya?" ucap Nasya tambah cemas melihat keadaan Kinan.
"Sya, bantu Kinan kedepan, biar Mas yang bawa ke rumah sakit, Mas siapkan mobil dulu," ucap Rafka panik lalu berlari masuk kedalam rumah.
"Ayo Mbak, takutnya nanti kaki Mbak kenapa-napa," ucap Nasya membantu Kinan berdiri. (🔑 memandang)
Kinan menegakkan tubuhnya, kemudian berjalan dengan Nasya sebagai pegangannya, pergelangan kakinya terasa sangat ngilu, dia tau kalau saat jatuh tadi pergelangan kakinya mengenai pinggiran kolam.
Tampak Rafka telah menyiapkan mobilnya. Saat melihat Kinan dan Nasya telah sampai di ambang pintu, Rafkapun membuka pintu mobil bagian belakang. Nasyapun membantu Kinan untuk masuk.
"Sya, kasih tau Mama kalau kita ke rumah sakit, sekalian ambil baju ganti," ucap Rafka membuat Nasya mengangguk lalu berlari kembali masuk kedalam rumah.
Rafka masuk kedalam mobil, lalu menutup pintu kemudi. Dirinya menoleh ke belakang, Kinan hanya menatap dirinya dalam diam.
"Maaf," ucap Rafka begitu saja.
Kinan hanya diam, tampak enggan menanggapi. Dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, berusaha menghindari Rafka.
"Kiin," panggil Rafka lagi namun tidak mendapat tanggapan dari Kinan. Rafka menghela nafas, bagaimanapun juga dia sadar kalau ini terjadi karena ulah dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
RomansaCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k758119.jpg)