DR 37. Terlambat Melangkah

1.1K 197 65
                                        

"Kehilangan adalah cara terbaik untuk mengajarkan cara ikhlas tanpa batas."

-Detak Rasa-

"Kamu yakin?"

"Ya Allah, Bang. Yakin! Coba aja dulu. Sebelum janur kuning melengkung, abang masih punya kesempatan kok. Lagian Kinan belum ada bahas-bahas tentang pernikahan sama aku, itu artinya tidak ada yang terjadi antara Kinan sama lelaki yang namanya Rafka itu," ucap Hannah meyakinkan Rayhan.

Saat ini, tepat selesai shalat Isya, Rayhan dan Hannah beserta kedua orangtuanya yang berada di mobil yang berbeda kini sedang dalam perjalanan menuju rumah Kinan.

Dengan segala hasutan yang disampaikan oleh Hannah, akhirnya Rayhan termakan hasutan itu untuk mencoba datang ke rumah Kinan dan menyampaikan keinginannya untuk melamar sahabat adiknya itu.

Jangan menyerah sebelum mencoba, bang.

Ucapan dari Hannah terngiang-ngiang di benak Rayhan. Akhirnya dia setuju dengan ajakan Hannah untuk datang ke rumah Kinan malam ini sebelum semua terjadi dan sebelum semuanya berakhir penyesalan. Setidaknya dia harus mencoba. Diterima atau tidak itu akan menjadi urusan belakangan.

Sampai dikediaman Kinan, Rayhan dan Hannah beserta kedua orangtuanya turun dari mobil. Hannah mengambil langkah untuk jalan lebih dahulu membunyikan bel rumah tersebut.

"Assalamualaikum, Om." Salam Hannah ketika pintu dibuka oleh lelaki yang seumuran dengan Papanya.

"Waalaikumsalam, oh kamu temannya Kinan ya? Hannah bukan?" tanya Zain-Papa Kinan didepan pintu.

Menyadari Hannah yang tidak datang sendiri, Zain mempersilahkan Hannah dan keluarganya untuk masuk kedalam rumah.

"Silahkan duduk."

"Terimakasih Om. Iya Om, saya Hannah temannya Kinan," ucap Hannah menjawab pertanyaan dari Zain didepan pintu masuk tadi.

"Iya, saya masih ingat kok. Kalian sering bertemu di kafe kan?" tanya Zain yang mungkin lebih kesuatu pernyataan.

"Iya Om."

"Mau ketemu Kinan ya? Kebetulan sekali tadi habis shalat Isya Kinan keluar sama Nasya. Mau makan di luar katanya. Apa perlu Om telepon biar Kinan pulang?" tanya Zain pada Hannah.

"Oh, tidak usah Om. Sebenarnya kami kesini ingin bertemu sama Om dan Tante," jawab Hannah.

"Oh, sama Om dan Tante? Bentar Om panggilkan Tante kebelakang," ucap Zain meninggalkan Hannah dan keluarganya sesaat untuk memanggil Naya.

Hannah menatap Rayhan sesaat, Rayhan hanya bisa memaksakan senyumnya ketika perasaannya yang campur aduk dengan kedatangan mereka mendadak kesini.

"Papa masih bingung dengan kedatangan mendadak kita kesini, apalagi Papa yang belum kenal dengan wanita yang kamu dan Hannah katakan tadi siang sama Papa. Tapi apapun yang terjadi Papa dan mama akan tetap menerima pilihan kamu, karena ini kamu yang akan menjalani," ucap papa pelan disamping Rayhan.

Rayhan mengangguk singkat. Memang semuanya terjadi secara mendadak. Ini dikarenakan dia tidak ingin terlambat dan menyesal dengan itu, biar sekarang dia menurunkan egonya menuruti saran Hannah untuk datang ke rumah Kinan sebelum semuanya benar-benar terlambat.

"Sebentar ya, Tante sekalian bikin minum biar ngobronya enak." Senyum Zain ketika kembali ke ruang tamu sendirian.

Hening sesaat sampai kedatangan Naya ke ruang tamu dan meletakkan gelas minuman dan kue di meja. Kemudian ikut duduk disamping Zain setelah menyapa kedatangan tamu yang pastinya hanya Hannah yang Naya kenal.

DETAK RASA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang