"Walau hanya satu masalah yang terselesaikan, yakinlah masalah lainpun akan ikut teringankan dengan selesainya satu masalah itu."
-Detak Rasa-
"Dek, apapun yang terjadi kedepannya. Kamu harus memilih langkah ini. Kamu harus jujur dan katakan semua alasan mengapa kamu telah melakukan tindakan ini pada dia. Abang tau ini berat, tapi Abang disini bersama kamu, kamu gak sendirian. Abang di pihak kamu." Rayhan menatap adiknya itu sambil memberikan keyakinan pada adiknya itu bahwa masalah ini harus segera terselesaikan. Tidak baik jika terus menghindari masalah yang nantinya bukan malah mengurangi tapi malah menambah masalah itu.
"Tapi Bang.."
"Dek, ini yang terbaik."
Hannah meremas jemarinya pelan. Untuk berbicara jujur memanglah sangat sulit, tapi bukankah kebohongan akan menambah suatu permasalahan yang akan lebih sulit untuk diselesaikan?
"Maaf, saya terlambat," ucapan seorang membuat kakak beradik itu menoleh ke arah sumber suara.
"Hannah? Kok bisa disini?" tanya lelaki itu bingung dengan keberadaan Hannah didepannya.
Hannah memaksakan senyumnya, lalu beralih menatap Rayhan.
"Maaf meminta Anda malam-malam kesini. Karena saya yakin kalau siang hari, Anda sibuk di kampus, jadi saya tidak ingin menganggu," ucap Rayhan.
"Iya, tidak apa. Malam ini saya luang," ucap Gibran, lelaki yang datang menemui Rayhan di sebuah kafe karena telah membuat janji sebelumnya untuk ketemuan.
"Jadi sebelumnya, kenalkan saya Rayhan, kakaknya Hannah," ucap Rayhan membuat Gibran menatap Rayhan tidak percaya. Lalu pandangannya beralih pada Hannah dimana Hannah hanya bisa mengangguk pelan.
"Ah, saya minta maaf Mas. Saya tidak tau kalau Mas adalah saudaranya Hannah. Sekali lagi saya minta maaf," ucap Gibran yang merasa bersalah karena tidak mengetahui hal itu.
"Jadi, yang waktu itu?" Gibran kembali mengingat pertemuannya dengan Rayhan pertama kali. Dimana disana juga ada Hannah.
"Sebenarnya ada hal penting yang ingin saya sampaikan, tapi ini bersangkutan dengan hubungan kalian berdua. Jadi lebih baik jika Hannah yang menyampaikannya pada kamu," ucap Rayhan menatap Gibran dan Hannah bergantian.
Gibran mengalihkan pandangannya pada Hannah. Sedangkan Hannah masih tertunduk, dirinya masih belum sanggup untuk menyampaikan keadaan sebenarnya pada Gibran.
Masih belum ada kata yang keluar dari mulut Hannah, akhirnya Gibran kembali bersuara.
"Ada apa Han? Ngomong aja," ucap Gibran.
Rayhan hanya bisa diam, dia akan membiarkan adiknya itu untuk menjelaskan. Karena ini adalah masalah antara adiknya dengan Gibran jadi sebisa mungkin lebih baik Hannah yang menyampaikan.
"Mas, maafkan aku," ucap Hannah pelan.
Gibran mengerutkan keningnya. Bingung dengan permintaan maaf Hannah.
"Minta maaf kenapa?"
"Maaf kalau sebelumnya aku tidak pernah memberitahu Mas pada orang tuaku dan juga Bang Rayhan," ucap Hannah.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
Storie d'AmoreCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k758119.jpg)