"Terkadang hati ingin mengintip takdir agar hidup lebih berencana. Tapi hati baru sadar, Tuhan menyimpan takdir untuk kejutan."
-DETAK RASA-
Sudah satu minggu semenjak pertemuan terakhir Kinan dengan Rafka di tempat nikahan Hannah. Semenjak itu, dia tidak pernah lagi bertemu dengan lelaki itu. Yang biasanya sarapan bersama di rumah Kinan, seminggu ini lelaki itu tidak menampakkan batang hidungnya di setiap pagi ketika sarapan. Sampai Mamapun memberikan pertanyaan kemana Rafka yang Kinanpun tidak bisa menjawabnya.
Untuk menghubungi lelaki itu saja Kinan merasa gengsi. Dia penasaran, namun tidak ingin perasaannya yang ingin tau keadaan lelaki itu menjadi bumerang nantinya yang membuat lelaki itu besar kepala. Intinya, Kinan tidak mau itu terjadi setelah merasa diberi harapan lalu di lupakan begitu saja seolah tidak terjadi apapun.
Sebenarnya, apa yang diinginkan lelaki itu?
Apa lagi-lagi Kinan jatuh kelubang yang sama untuk kesekian kalinya?
"Dek, kamu aja yang ngantarin makanan ke rumah Rafka ya?" ucap Kinan ketika Nasya mendapat petuah dari sang Mama untuk mengantarkan makan malam ke rumah Rafka. Sekalian melihat kondisi lelaki itu yang sudah seminggu lebih tidak datang berkunjung ke rumah.
"Loh, Mama nyuruhnya kita berdua Mbak," ucap Nasya menatap Kinan yang sedang duduk di meja makan dengan pandangan bingung.
"Cuma kamu yang disuruh Mama. Mbak capek pulang kerja, udah nyaman duduk disini. Jadi malas berdiri," alasan Kinan membuat Nasya mengangkat alisnya.
Bukannya pergi, Nasya malah ikut mendudukkan badannya di kursi meja makan.
"Biasanya kan kita berdua ngantarin makananannya Mbak," ucap Nasya membuat Kinan menghela nafas.
"Lagian mbak kan naik mobil, bukan jalan kaki pulangnya. Kerja di kafe juga palingan ngeliatin karyawa kerja sambil nyantap kue. Capeknya dimana Mbak?" tanya Nasya lagi membuat Kinan kelabakan. Tidak ada yang salah dengan ucapan Nasya, semua benar. Hanya saja dirinya malas untuk bertemu Rafka.
"Udah Dek, sana, cuma nganterin makanan doang. Gak jauh dan gak bakal lama," ucap Kinan berusaha membuat Nasya segera pergi mengantarkan makanan itu.
"Ayok Mbak, masa aku sendirian kesana. Cuma nganterin makanan doang, Mbak. Gak jauh dan gak bakal lama. Nanti Mbak bisa sambung duduknya lagi," balas Nasya membuat Kinan menatap adiknya itu dengan kesal.
Kinan terdiam, kembali memikirkan cara agar hanya Nasya yang mengantarkan makanan yang telah disiapkan oleh Mama untuk Rafka. Tapi apa lagi?
"Jujur deh Mbak, pasti terjadi sesuatu sama kalian berdua kan?" tembak Nasya membuat Kinan tersentak.
"Sesuatu apa? Ga ada. Mbak benaran capek kesana. Jadi mending sekarang kamu antar makanannya, keburu dingin, Sya."
"Ayoloh, Mbak dijahilin lagi ya sama Mas Rafka? Makanya Mbak ngambek gini dan gak mau ketemu sama Mas Rafka. Iya kan?" tanya Nasya menaik turunkan alisnya menggoda Kinan.
"Gak tuh."
"Gak mungkin, pasti ada sesuatu nih. Ya udah, nanti aku tanya langsung aja sama Mas Rafkanya. Bye Mbak. Mau nitip salam gak?" ucap Nasya terkekeh di akhir kalimatnya.
"Ga usah, pergi sana."
"Dih, ngusir."
Nasya langsung meraih tempat makan itu dan memasukkannya kedalam kantong tas agar lebih mudah di bawa. Gadis itupun menghilang dari pandangan Kinan. Kinan menghela nafas, semoga Nasya tidak menanyakan pertanyaan aneh pada Rafka, dan semoga lelaki itu tidak mengatakan hal aneh pun. Kenapa mereka berdua meresahkan?
Tidak ingin berpikir lebih lanjut, Kinan memilih untuk bediri dari duduknya, bukan untuk menyusul Nasya ke rumah Rafka, malah Kinan melangkahkan kakinya menuju kamar.
Masa bodoh sama Rafka, Kinan tidak peduli.
🕊️🕊️🕊️
"Ka, itu ada tamu," ucapan seorang wanita dari dapur menyadarkan Rafka yang kini sedang sibuk di depan leptopnya. Dirinya beranjak dari sofa kebesarannya di ruang keluarga, dan berjalan menuju pintu.
"Waalaikumsalam, bentar." Rafka membuka pintu dan melihat keberadaan Nasya yang menyodorkan kantong tas kehadapan Rafka.
"Ada makanan dari Mama. Mas tumben gak kerumah," ucap Nasya membuat Rafka tergelak.
"Kangen Mas ya?"
"Idih, PD. Itu Mbak Kinan yang kangen sama Mas," ucap Nasya blak-blakan membuat Rafka makin tergelak.
"Ayo masuk dulu, ada Mama sama Papa Mas di rumah," ucap Rafka mempersilahkan Nasya untuk masuk.
"Oh ada Om sama Tante? Kapan pulang?" tanya Nasya karena dia tau kalau Papanya Rafka itu bekerja di luar negeri.
"Masuk dulu," ucap Rafka membuat Nasya cengengesan dan melangkahkan kakinya untuk masuk.
"Itu Kinan nanyain Mas?" sambung Rafka mengingat ucapan Nasya tadi.
"Wado, kalian itu ya. Kalau dekat musuhan, kalau jauhan gak ketemuan gini kangen-kangenan. Mending Mas datang ke rumah deh. Sepi rumah kalau kalian gak berantem," ucap Nasya sukses membuat Rafka tergelak.
"Lagian seminggu ini Mas kemana aja sih? Biasanya serapan ke rumah," ucap Nasya yang kini mengikuti langkah Rafka menuju dapur.
"Mas lembur, jadi pulang cuma buat mandi dan ganti pakaian doang. Ngejar target soalnya, biar bulan depan waktunya senggang," ucap Rafka.
"Emang bulan depan ada apa?"
"Ntar kamu juga tau."
"Mending gak usah di kasih tau Mas, kalau malah bikin penasaran. Lagian juga bukan urusan aku juga kan. Yaudah lupakan," ucap Nasya membuat Rafka tersenyum.
"Jadi urusan kamu juga kok."
"Loh? Emang apa?"
"Ntar kamu juga tau."
"Sudah Mas, gak usah kasih tau aku kalau ujung-ujungnya bikin aku penasaran," ucap Nasya membuat Rafka hanya bisa tersenyum menanggapi.
"Ma, ini Nasya bawa makanan," ucap Rafka pada Mamanya ketika mereka telah sampai di dapur.
"Assalamualaikum Tante, wah Nasya ga tau kalau di rumah ada Om dan Tante. Jadi makanannya cuma di bawa sedikit," ucap Nasya menyerahkan kantong tas yang di pegangnya sedari tadi pada Frida.
"Alhamdulillah, ga papa. Ini tante juga lagi masak. Makasih sudah bawa makanan kesini. Nanti kamu bawa ini juga ke rumah ya, tante siapin dulu," ucap Frida menunjuk makanan di atas meja, membuat Nasya hanya bisa mengangguk.
"Sini Tante, biar Nasya bantuin," ucap Nasya mengambil mangkok dan menuangkan sayuran dari panci. Frida mengangguk lalu beralih mengerjakan hal lain.
Rafka meninggalkan mereka berdua di dapur, dan kembali menuju ruang keluarga.
"Siapa yang datang Ka?" Suara Papa menyadarkan Rafka.
"Nasya Pa, bawa makanan," ucap Rafka.
"Adiknya Kinan?"
Rafka mengangguk, lalu kembali menatap leptopnya. Ada beberapa pekerjaan lagi yang harus dia selesaikan hari ini.
"Perihal kamu mau melamar, Kinan sudah tau?"
"Belum Pa, tapi Papa sama Mamanya sudah tau."
---
A/n:
Assalamualaikum!!
Helloo, aku kembali lagi setelah sekian lama gak muncul. Hehehe
Maapkan 💕💕💕
Gimana puasanya? Lancar?
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
RomanceCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k758119.jpg)