"Keterpaksaan membuat hal nyata menjadi buram, membuat hal jernih menjadi keruh. Tenangkan diri dan buatlah pilihan yang nantinya tak akan kau sesali."
-Detak Rasa-
"Kita pulang?" tanya Rayhan pada Hannah ketika dia telah selesai melaksanakan shalat Magrib.
Hannah mengangguk lalu meraih tas nya, ketika hendak menyampirkan ke pundak, Rayhan malah mengambil alih tas tersebut dan memegangnya.
"Biar Abang bawain," ucap Rayhan, karena kini Hannah masih menggendong Syira yang masih terlelap.
"Na, aku pulang dulu ya? Kamu pulang sama siapa? Gak bawa mobilkan?" tanya Hannah menatap Kinan yang masih duduk.
"Nanti aku hubungi Pak Ahmad, Han," ucap Kinan pada Hannah. Hannah tau Pak Ahmad adalah sopir pribadi keluarga Kinan.
"Kalau gak bareng kami aja," ucap Hannah sambil menatap Rayhan sekilas.
Rayhan hanya menyaksikan interaksi kedua perempuan didepannya tanpa ikut terlibat pembicaraann.
"Gak usah, kamu kamu pulang aja. Udah malam, kasian Syira," ucap Kinan tersenyum membuat Rayhan seketika menatap Kinan.
"Ya udah, aku pulang ya. Cepat sembuh Kin," ucap Hannah membuat Rayhan seketika menyadari sesuatu. Dia menangkap tongkat yang berada di samping kursi Kinan, lalu entah mengapa pandangannya jatuh ke arah kaki Kinan, walaupun tertutup oleh meja, tapi dia dapat menangkap bahwa salah satu kaki gadis itu di perban.
Hampir saja dia melontarkan pertanyaan mengenai keadaan Kinan, tapi langsung di alihkan oleh Hannah.
"Ayo Bang," ucap Hannah membuat Rayhan menahan ucapan yang hendak dia lontarkan pada Kinan.
Rayhan mengangguk, lalu mengikuti langkah Hannah. Tapi sebelum menyusul Hannah yang telah keluar dari kafe, Rayhan singgah ke tempat kasir untuk membayar pesanan Hannah.
"Mas."
Rayhan reflek menoleh kebelakang dan menemukan Kinan tengah berdiri dibelakangnya dan tongkat yang menumpu lengannya.
"Ini, mainan Syiranya ketinggalan," ucap Kinan sambil menyerahkan mainan yang lebih seperti bentuk gantungan kunci.
"Ahh iya, makasih," ucap Rayhan yang di angguki oleh Kinan.
Lalu gadis itu berbalik dan pergi dari hadapan Rayhan.
Rayhan menatap mainan itu, dia tidak ingat kalau pernah membelikan Syira mainan seperti ini. Mungkin saja ini gantungan milik Hannah.
"Mas, ini kembaliannya," ucap sang kasir membuat Rayhan kembali membalikkan badannya dan menerima uang kembalian dari sang kasir.
Akhirnyapun Rayhan keluar dari kafe, berjalan menuju parkiran dimana Hannah telah berdiri di samping mobilnya.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Rayhan heran, padahal dia sudah menyerahkan kunci mobil pada Hannah.
"Aku tidak mau pulang," ucap Hannah membuat Rayhan mengerutkan dahinya bingung.
"Kenapa? Mau kemana lagi? ini sudah malam dek," ucap Rayhan, dia kasihan pada Syira yang pasti sudah kedinginan.
Hannah menyerahkan Syira pada Rayhan, tentu Rayhan menerima dengan bingung.
"Mau kemana?" ulang Rayhan.
"Aku gak mau pulang, kalau Abang mau pulang, pulang aja," ucap Hannah lalu melangkah menjauh dari Rayhan.
"Han," panggil Rayhan menarik Hannah.
"Kamu kenapa? Mama udah khawatir sama kamu karena belum pulang, kamu bilangnya pergi sebentar sama Mama," ucap Rayhan yang masih menahan lengan Hannah.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
RomantikCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k758119.jpg)