"Jika memendam rasa kepadamu begitu sulit, tapi mengapa hati terasa enggan menyerah hingga detik ini."
-Detak Rasa-
Kinan memarkirkan mobilnya didalam garasi, lalu keluar dari mobil dan berjalan membuka pintu untuk masuk kedalam rumah. Kakinya terhenti ketika melihat Tredi yang dengan antengnya tiduran di kursi tamu tiba-tiba bangun dan menatap dirinya.
Kinan meremang, merinding melihat hewan berbulu itu. Jika Tredi lepas, sudah dapat dipastikan siapa dalang yang melepaskan hewan berbulu itu. Nasya maupun Mama tidak akan melepaskan hewan berbulu itu didalam rumah karena tau Kinan kurang suka dengan hewan yang satu itu.
Kinan menghela nafas, mengambil langkah sejauh mungkin menghindari Tredi dengan berjalan disamping dinding sambil terus memantau kucing itu, berjalan perlahan untuk melewati ruang tamu. Tapi sialnya, Tredi malah bangun dan berjalan mengikuti dirinya dari belakang.
"Rafkaa!!!" Teriak Kinan kesal ketika Tredi terus mengikuti langkahnya.
"Namanya Tredi Kin, bukan Rafka," ucap Rafka yang datang dari ruang makan menatap Kinan.
"Kenapa di lepas?!" ucap Kinan kesal sambil mempercepat langkahnya menuju ruang makan. Mengira di ajak untuk bermain, Tredi-kucing itu malah berlari mendekat ke arah Kinan berusaha menggapai kakinya untuk di elus.
"Nasyaa!!" teriak Kinan memanggil adiknya itu untuk menyingkirkan Tredi darinya, karena Rafka tidak akan membantunya disaat seperti ini. Malah lelaki itu tampak senang diatas penderitaannya terbukti ketika Rafka hanya tertawa menatap Kinan dan Tredi yang saling kejar.
"Iya Mbak?" terdengar suara Nasya dari arah halaman belakang.
Rafka tampak tersenyum puas melihat Kinan yang terus menghindar dari Tredi, sepertinya kucing itu telah salah pengertian, mengira Kinan mengajaknya untuk main.
Lihat? Tredi masih saja mengejar Kinan ketika gadis itu duduk di atas kursi makan dengan menaikkan kedua kakinya.
"Dia cuma mau main Kin, bukan mau makan kamu," ucap Rafka yang masih menyaksikan adegan kejar-kejaran Kinan dan Tredi sambil bersandar pada dinding memperhatikan.
"Kenapa Mbak?" Tiba-tiba Nasya datang menghampiri mereka berdua.
"Ituu, kucingnya di kandangin dulu," ucap Kinan menunjuk Tredi yang berada dibawah kursinya.
"Tredi? Bukannya tadi dia dikandang?" ucap Nasya lalu menggaruk tengkuknya, menunduk mencari keberadaan kucing itu.
Kinan langsung menghunuskan tatapan tajam pada Rafka, siapa lagi dalangnya selain lelaki didepannya yang masih saja tertawa melihat tingkahnya.
"Loh? Lepas?" tanya Nasya menoleh pada Rafka ketika lelaki itu mengambil Tredi dan memangkunya.
"Iya, lepas," ucap Rafka tersenyum.
"Yaudah, sini aku masukin," ucap Nasya meminta Tredi dari pangkuan Rafka.
"Gak, gak usah. Biar sama Mas aja," ucap Rafka menolak sambil mengelus Tredi dengan tangannya. Kucing itu tampak menikmati perhatian yang diberikan oleh Rafka.
Kinan mengangkat alisnya bingung menatap Rafka dan Nasya bergantian. Apa lagi yang direncanakan lelaki itu?
"Oh ya udah, aku balik ke belakang dulu ya Mbak. Oh ya Mas, itu sambalnya udah di ambil?" tanya Nasya membalikkan badannya menatap Rafka.
"Belum," ucap Rafka menyengir, membuat Nasya melangkahkan kakinya menuju dapur mengambil sambal yang dia butuhkan.
Ada yang aneh, kemana Mama dan Papanya? Biasanya mereka akan berkumpul di ruang keluarga pada jam segini. Kinan mulai berdiri, ketika melihat Nasya yang berlalu dari hadapannya menuju halaman belakang, penasaran dengan apa yang tengah terjadi di halaman belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
RomanceCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k758119.jpg)