DR 30. Sebuah KODE

1.3K 216 36
                                        

"Kadang perhatian kecil sering terabaikan, padahal perhatian itu terasa besar ketika yang menerimanya dapat tersenyum bahagia."

-Detak Rasa-

"Na, ini jatahnya Rafka, mau kamu antar sekarang atau nanti?" tanya Naya pada Kinan yang baru saja sampai di rumah.

Mamanya itu masih tampak sibuk di dapur, dan Kinan melihat 'jatah' yang dimaksud sang Mama di atas meja yang sudah terbungkus plastik dengan rapi. Beberapa kotak makanan berisi lauk dan nasi terbungkus rapi oleh plastik yang bisa membuat Kinan membawa makanan itu dengan sekali bawa.

"Nasya mana Ma?" tanya Kinan karena biasanya dia bersama dengan adiknya itu mengantar makanan ke rumah Rafka.

"Masih belum pulang, ada tugas kelompok katanya," ucap Naya membuat Kinan mengangkat alis bingung.

"Tumben," ucap Kinan begitu saja, karena adiknya itu tidak pernah mengerjakan tugas kelompok sampai magrib begini, biasanya paling lambat adiknya itu sampai di rumah sebelum magrib.

"Tugasnya mau dikumpul besok katanya, jadi Nasya minta izin sama Mama pulang agak malaman. Pak Ahmad sudah disana kok nungguin Nasya," ucap Naya membuat Kinan mengangguk, kemudian kembali merapikan plastik makanan itu.

"Antar sekarang aja deh Ma," ucap Kinan sambil mengambil kantong plastik yang berada di atas meja tersebut lalu segera keluar dari rumah dan berjalan menuju rumah Rafka yang berseberangan dengan rumahnya.

Setelah menekan bel beberapa kali, Kinan terdiam sesaat ketika yang membuka pintu bukanlah Rafka melainkan Mamanya Rafka-Tante Frida.

"Assalamualaikum Tante," salam Kinan lalu meraih tangan Tante Frida untuk disalami.

"Waalaikumsalam, wah Kinan? Sini, masuk-masuk," ucap Frida tersenyum hangat mempersilahkan Kinan masuk.

Kinan mengangguk pelan, merasa tidak enak jika menolak tawaran Tante Frida. Jikapun Rafka yang mempersilahkan sudah pasti dia akan menolak tawaran itu mentah-mentah.

"Tante kapan pulang?" tanya Kinan mengikuti langkah Frida ke ruang tengah.

"Siangan tadi, ini kalau gak dikasih tau kalau anak ini sakit mungkin tante gak akan pulang," ucap Frida melirik Rafka yang terduduk di sofa ruangan tengah itu. Kinanpun ikut melirik lelaki itu.

"Kamu yang kasi tau Mama?"  ucapan dari gerakan mulut Rafka tanpa bersuara.

Kinan menggeleng, dia tidak pernah memberitahu Tante Frida kalau Rafka kecelakaan.

"Siapa?" 

Kinan hanya mengangkat bahunya tidak tau. Lalu berjalan menuju dapur mengikuti langkah Tante Frida.

"Ini ada makanan Tante dari mama, nanti kalau ada waktu Tante datang ke rumah ya," ucap Kinan sambil mengeluarkan kotak makanan tersebut dari plastik.

"Wah, makasih loh udah bawain makanan segala. Ini kebetulan juga Tante mau ke supermarket untuk beli bahan-bahan makanan. Ini kulkas isinya kosong, tante jadi bingung, Rafka makan apa selama ditinggalin," ucap Frida yang kembali melirik anaknya yang masih berada di ruang tengah.

Kinan hanya bisa tersenyum.

"Kamu temani Tante ya?" tanya Frida membuat Kinan menoleh pada wanita itu.

Tidak enak menolak, Kinan hanya menganggukkan kepalanya.

"Ya udah, kita shalat magrib dulu. Selesai shalat baru kita pergi ya?," tanya Frida membuat Kinan mengangguk.

"Kinan pulang dulu Tante, nanti selesai shalat Kinan kesini lagi," ucap Kinan.

"Iya, bilangin makasih sama Mama kamu ya," ucap Frida membuat Kinan mengangguk.

DETAK RASA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang