"Kadang kepedulian dari seseorang membuat hati salah sangka. Dia hanya peduli atas dasar kemanusiaan tapi terasa begitu spesial."
-Detak Rasa-
"Rafka mana?" Kinan yang baru saja bergabung di meja makan, berbisik pelan pada Nasya yang telah duluan menyantap sarapannya.
"Wah, Mbak. Tumben nanyain Mas Rafka?" Nasya menatap Kinan jahil, efek suara Nasya yang tidak berbisik malah membuat Mamanya menoleh padanya.
"Ayo makan Na, nanti kamu telat loh," ucap Mamanya sambil menyerahkan sebuah piring yang sudah terisi nasi kehadapan Kinan.
Kinan menerima piring itu, lalu mendudukkan badannya disamping Nasya. Hari ini hanya mereka bertigalah di meja makan, karena Papanya yang bertugas ke luar kota dan Rafka yang entah kemana.
"Rafka udah duluan ke kantor, katanya ada pekerjaan yang belum selesai. Jadi kalian naik taksi aja ya?" ucap Mamanya menatap Kinan dan Nasya bergantian.
Kinan terdiam, dia tau betul kalau Mamanya itu sangat anti jika mereka berdua naik taksi karena khawatir dengan keselamatan. Suara Mamanya terdengar terpaksa untuk mengatakan hal itu, kecemasan orang tua memang berbeda, mereka akan over protective pada keselamatan anak-anaknya.
"Kalau gak biar Kinan yang antar Nasya, Ma," tawar Kinan yang langsung mendapat tatapan bingung dari Mama dan Nasya.
"Kamu mau bawa mobil?" tanya Mamanya bingung.
Kinan mengangguk.
"Ih, jangan. Gimana cara Mbak bawa mobil pakai satu kaki gitu?" tanya Nasya melirik ke arah kaki Kinan.
"Mbak coba aja, mana tau bisa," ucap Kinan yang langsung mendapat gelengan serentak dari Nasya dan Mamanya.
"Kalian naik taksi aja. Biar Mama yang pesankan," ucap Mamanya lagi.
Nasya hanya menatap Kinan untuk meminta persetujuan, akhirnya dia mengangguk karena tidak ada pilihan lain selain menggunakan jasa online tersebut.
Selesai sarapan, Kinan dan Nasya bersiap-siap untuk berangkat. Untuk Kinan, jadwal kuliahnya memang lebih sering jam pagi. Biasanya hanya satu mata kuliah saja, dikarenakan dia bukan lagi untuk menyelesaikan S1 nya melainkan untuk menyelesaikan S2 yang matakuliahnya lebih sedikit dan lebih banyak waktu untuk penelitian.
"Mbak bakal ngantarin kamu dulu, baru deh nanti Mbak ke kampus. Lagian kamu takutkan sendirian di Taksi," ucap Kinan ketika dirinya dan Nasya berjalan bersama menuju Taksi yang telah sampai di depan gerbang rumanya.
Nasya menyengir, "Mbak tau aja, tapi Mbak gak bakal telat kan ke kampusnya?"
Kinan menggeleng, dia memiliki waktu yang lumayan banyak untuk mengantarkan Nasya ke sekolahnya sebelum datang ke kampus. Memastikan adiknya sampai dengan selamat ke sekolah lebih penting baginya ketimbang memastikan dirinya tidak terlambat masuk kelas untuk kuliah pagi ini.
Setelah memgantarkan Nasya dengan selamat sampai sekolah, barulah Taksi tersebut putar balik dan menuju kampus Kinan. Hendak turun dari Taksi, tiba-tiba satu notifikasi pesan masuk dari Rafka muncul dari layar ponselnya. Mengabaikan sesaat, Kinan memilih untuk keluar dari Taksi lebih dahulu dan membayarnya.
Setiba di kelas, barulah Kinan kembali mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan membuka pesan Rafka.
Rafka: Kin, jangan kabur. Hari ini saya yang bakal ngantarin kamu ke RS. Mau saya jemput di rumah apa di kafe?
Kinan menautkan alisnya bingung.
Kinan: Yang mau kabur siapa?
Kinan bahkan tak ingat kalau hari ini adalah jadwal dia akan check up terakhir dan melepaskan perban di kakinya. Melirik kakinya sesaat, Kinan tersenyum akhirnya hari ini sampai juga. Dia akan kembali berjalan normal tanpa harus membawa tongkat kruk kemanapun dia pergi.
Ponsel yang telah Kinan ubah mode nya dengan mode getar, terlihat menyala dan bergetar sesaat menandakan ada pesan masuk.
Rafka: Saya kan bisa baca pikiran kamu. Jemput di rumah apa di kafe?
Kinan tampak berpikir, untuk memudahkan Rafka sebenarnya di jemput ke kafe memang lebih cepat ketimbang harus ke rumah. Tapi untuk hari ini sepertinya dia bakal di kampus sepanjang hari sampai Nasya pulang sekolah, karena dia telah berjanji untuk pulang bersama dengan adiknya itu dengan Taksi.
Rafka: Di rumah aja ya, karena saya bisanya agak sorean, takut kamu bakal nunggu lama di kafe. Saya udah minta izin sama dokternya untuk terlambat, karena ada pekerjaan kantor yang harus saya selesaikan hari ini.
Kinan membaca pesan itu dengan menghela nafas. Apa gunanya bertanya kalau lelaki itu bisa memutuskannya sendiri?
Kinan: Ya udah.
🕊️🕊️🕊️
Kinan dan Nasya sampai di rumah pukul empat sore, bergegas Kinan membersihkan badan dan mengganti pakaiannya agar nantinya jika Rafka sampai dirumah, dia bisa langsung berangkat ke rumah sakit.
"Gimana Mbak? Belum ada kabar dari Mas Rafka?" tanya Nasya yang kini juga tengah menunggu kedatangan Rafka di ruang tamu, karena Kinan meminta adiknya itu untuk ikut bersamanya.
"Belum," ucap Kinan sambil melirik ponselnya.
Sudah satu jam lebih mereka menunggu, dan sekarang sudah lewat pukul lima sore. Takutnya dokter yang akan memeriksanya terlalu lama menunggu dan Kinan merasa tidak enak hati.
"Hubungi aja Mbak," ucap Nasya lagi menatap Kinan, tampaknya adiknya itu sudah lelah menunggu.
Kinan melirik ponselnya ragu, takut jika nanti dia menganggu Rafka karena tadi pagi lelaki itu bilang kalau hari ini dia banyak pekerjaan.
Kenapa tidak besok saja?
Suara dari benak Kinan menyadarkannya. Apa sebaiknya besok saja? Lagian dia masih bisa betah dengan tongkat dan perban yang melilit kakinya.
"Dek, kamu ganti baju aja. Mbak bakal hubungi Mas Rafka supaya besok aja ke rumah sakitnya. Mungkin dia sekarang lagi sibuk di kantor. Mbak juga gak enak kalau merepotkannya. Atau gak nanti kita tunggu Ayah pulang aja," ucap Kinan pada Nasya.
"Benaran nih Mbak?" tanya Nasya.
Kinan mengangguk.
"Aku malas kalau nanti ganti baju lagi. Benaran gak jadikan hari ini, Mbak?"
Kembali, Kinan mengangguk. Kalaupun nanti Rafka tiba-tiba datang, biar dia saja yang ke rumah sakit tanpa merepotkan adiknya itu.
Nasyapun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya setelah mendapat anggukan dari Kinan.
"Gak jadi pergi?" Mama yang tiba-tiba datang dari arah dapur, membuat Kinan mendongak.
"Besok aja Ma, mungkin Rafka lagi sibuk," ucap Kinan.
Mama menganggukkan kepalanya, "Mungkin Iya, tadi pagi aja dia gak sarapan di rumah. Ada proyek baru lagi mungkin dari kantornya," ucap Mama.
Kinan hanya mengangguk, tidak tau pasti apa yang kini tengah dilakukan oleh Rafka.
"Besok aja, Mama yang temanin ke rumah sakit," ucap Mama lalu kembali berjalan ke arah dapur.
Kinan menatap ponselnya, masih belum berani untuk menghubungi Rafka. Cukup lama terdiam, getaran pada ponselnya membuat Kinan segera menoleh pada layar segi empat itu. Dia menghela nafas ketika yang menghubunginya bukanlah dari Rafka.
"Assalamualaikum Daf, ada apa?" tanya Kinan pada salah satu pegawai dari kafe yang tiba-tiba menghubungi dirinya.
"Waalaikumsalam Mbak, anuu_," ucap Daffa dari seberang telepon tampak ragu.
"Kenapa? Ada masalah di kafe?" tanya Kinan mencoba menebak.
Terdiam sesaat dari seberang telepon.
"Bukan Mbak, itu Mas Rafka," ucap Daffa lagi dengan suara gemetar.
Kinan menegakkan tubuhnya. "Kenapa Rafka?"
"Mas Rafka kecelakaan di depan Kafe Mbak."
----
A/n:
Assalamualaikum!!!
Hai haii
Jangan lupa vomentnya 😘
Ig: came_sa
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
RomanceCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k758119.jpg)