"Ucapan adalah doa, jadi gak ada salahnya kan kalau Saya berucap demikian? Mending, kamu Aamiin-in aja, Kin."
-Detak Rasa-
Sampai sore ini, Kinan masih terduduk di salah satu meja di kafe. Pegawai yang lain menatap Kinan bingung, karena tidak biasanya sudah pukul enam sore dan Kinan masih berada di kafe.
"Mbak, Mbak gak pulang Mbak? Kerjaan disini biar kami yang handle," ucap Yosep salah satu pegawai kafe.
"Iya, bentar lagi. Kamu lanjut kerja aja," ucap Kinan yang mau tak mau di angguki oleh Yosep lalu pergi meninggalkan Kinan.
Kinan menatap ponselnya, masing ragu untuk memencet tombol panggil pada nomor yang sudah dia ketik. Kepalanya masih merangkai kata-kata yang pas untuk menanyakan keberadaan mobilnya saat ini, karena dia tidak bisa pulang tanpa mobil itu. Untung saja kemaren Papa dan Mamanya tidak sadar kalau mobilnya tidak ada di garasi, dan untungnya Pak Ahmad bisa di ajak bekerja sama untuk tidak menyampaikan bahwa dirinya dan Nasya dijemput di rumah sakit.
Sudah setengah jam berlalu tapi Kinan masih belum menemukan jawaban, dia masih menatap ponsel seraya memikirkan kata-kata yang tepat.
"Kin.., kenapa belum pulang?"
Kinan mendongak menatap Rafka yang kini berdiri tepat di depannya.
"Rafka?" ucap Kinan kaget lalu menyimpan ponselnya.
"Kenapa belum pulang? Udah hampir setengah tujuh. Tidak biasanya kamu masih di kafe jam segini," tanya Rafka.
Kinan menggaruk tengkuknya, kembali berusaha mecari alasan.
"Ada masalah?" tanya Rafka lalu duduk didepan Kinan, meletakkan minuman yang dia pesan di meja.
Kinan mengangguk pelan.
"Kenapa?"
"Mobil aku, .."
"Mobil kamu kenapa? hilang?" tanya Rafka kaget lalu mengarahkan pandangannya ke tempat parkir. Tidak ada mobil Kinan disana.
"Benaran hilang? Kok bisa? Emang mobil kamu gak ada alarmnya kalau dicuri?" tanya Rafka cemas.
"CCTV ada kan? ruang monitornya dimana?" tanya Rafka yang tiba-tiba panik.
"Yosep!" teriak Rafka.
"Iya Mas!" Yosep berjalan mendekat ke arah Rafka.
"Kenapa bisa mobilnya hilang? Satpam yang di depan kemana?" tanya Rafka.
Kinan memijit kepalanya.
"Loh? Mobil Mbak Kinan hilang?" ucap Yosep yang tiba-tiba juga panik.
"Bukan! Bukan!!" ucap Kinan membuat Yosep dan Rafka menoleh pada Kinan.
"Bukan, mobil Mbak gak hilang kok Sep. Jadi kamu kembali kerja aja ya?" ucap Kinan memaksa senyumnya pada Yosep.
"Ohh, bukan ya Mbak. Ya udah Mbak, saya ke belakang dulu," ucap Yosep lalu meninggalkan Kinan dan Rafka.
"Lalu mobil kamu kemana?" tanya Rafka.
"Di bengkel," jawab Kinan.
"Kok bisa masuk bengkel? Mogok di jalan?" tebak Rafka.
"Nggak," ucap Kinan membuat Rafka gemas sendiri karena Kinan tak kunjung menjawab pertanyaan intinya.
"Lalu?" Rafka berusaha sabar.
"Nabrak mobil orang," jawab Kinan pelan.
"Astagfirullah, Kamu gak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Rafka lalu memperhatikan Kinan dari atas sampai bawah.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
RomanceCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k758119.jpg)