DR 9. Ada Apa dengan Rayhan?

2.4K 306 41
                                        

"Tetap berusaha menjaga hati yang sudah berpemilik, tapi apa masih bisa hati yang berpemilik ini dimiliki orang lain?"

-Detak Rasa-

Rayhan memijit kepalanya pelan, tidak tidur semalaman memang sudah langganannya ketika dinas malam, tapi tetap saja tubuhnya butuh istirahat dengan yang namanya tidur. Setelah memarkirkan mobilnya, perlahan dia membuka pintu rumahnya. Ruangan gelap menyambutnya karena ini masih pukul setengah 5 subuh dan dapat Rayhan pastikan Hannah belum bangun.

Setelah meletakkan kunci mobilnya di meja, Rayhan melangkahkan kakinya menuju dapur untuk meminum segelas air hangat, lalu berjalan ke kamar tamu untuk memastikan dua orang yang tengah tidur disana masih tertidur lelap. Rayhan membuka pintu, dan benar saja Hannah dan Syira masih tidur. Rayhan berjalan menghampiri Syira, berjongkok di pinggir kasur dan meletakkan telapak tangannya pada dahi Syira.

"Masih panas," gumam Rayhan lalu menatap putrinya iba. Tak berkata apapun, hanya menatap wajah tidur Syira yang lelap sambil mengusap-usap kepalanya pelan.

Cukup lama mengusap kepala Syira, akhirnya Rayhan berdiri lalu mengecup singkat pipi Syira. Barulah dia keluar dari kamar Syira dan berjalan ke kamarnya yang berada disebelah kamar tamu. Rayhan memutuskan untuk membersihkan dirinya, masih ada waktu setengah jam lagi hingga waktu subuh tiba.

🕊️🕊️🕊️

Rayhan mengerjapkan matanya ketika badannya dipukul pelan. Berusaha mengembalikan kesadaran ketika dia menangkap tangan seorang anak kecil yang terus memukul badannya, berusaha membangunkan.

"Papah.." ucapnya terus sambil memukul lengan Rayhan.

Rayhan tersenyum, lalu menarik Syira kedalam pelukannya.

"Anak Papa udah bangun?" tanya Rayhan sambil menatap Syira.

Gadis kecil itu mengangguk tersenyum, lalu menjatuhkan kepalanya ke dada Rayhan dan mengalungkan tangannya pada badan Rayhan. Dapat Rayhan rasakan putri kecilnya itu belum sepenuhnya sembuh katika merasakan panas tubuh Syira.

"Bang, Aku pergi kerja dulu. Syira udah makan dan udah minum obat juga. InsyaAllah nanti aku pulang pukul 5, abang dinas malam lagi kan? Oh iya, tadi aku udah lebihin masak buat siang juga. Jangan lupa makan Bang! Bisa stress aku kalau ngurus dua bayi sekaligus. Daahh Bang. Assalamualaikum!" ucap Hannah lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Rayhan.

"Waalaikumsalam," ucap Rayhan akhirnya, lalu matanya menatap ke arah jam yang berada di atas nakas.

Masih pukul setengah delapan pagi, Rayhan menatap Syira yang masih betah berada diatas badannya, merapikan anak rambut Syira lalu memeluk Syira sambil mengusap punggung gadis itu.

"Tidur lagi yuk, Papa masih ngantuk," gumam Rayhan lalu memejamkan matanya kembali. Tidak butuh waktu lama, Bapak dan anak itu sudah kembali menyelam kedalam mimpi.

🕊️🕊️🕊️

"Kinannya ada?"

Hannah yang datang ke kafe Kinan untuk makan siang langsung menanyakan keberadaan Kinan pada salah satu pegawai yang bekerja di kafe itu.

"Ada Mbak, mau Saya panggilkan?" tanya pegawai itu sopan.

"Iya boleh, tapi Saya mau pesan dulu," ucap Hannah lalu menyebutkan pesanannya dan pegawai itupun langsung mencatat.

"Bentar ya Mbak, Saya panggilkan Mbak Kinannya," ucap pegawai itupun lalu meninggalkan Hannah.

Hannah mengangguk, lalu membuka ponselnya. Mengetikkan pesan pada Rayhan untuk memastikan lelaki itu tidak lupa makan karena mengurus Syira. Kebiasaan buruk Rayhan adalah melupakan segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan dirinya jika telah bersama Syira. Dia akan melupakan makannya dan tidak akan pernah melupakan makan Syira, dia akan melupakan kebutuhan tidurnya dan tidak akan melupakan kalau Syira harus tidur siang dan tidur malam tepat waktu. Lelaki itu memang sangat butuh pendamping hidup untuk mengingatkan hal itu pada Rayhan untuk menjaga dirinya sendiri, karena Hannah tidak mungkin bisa melakukan itu semua setiap hari.

"Han," panggil Kinan lalu duduk di depan Hannah.

"Ada apa?" tanya Kinan.

Hannah menyimpan ponselnya, lalu menyesap minumannya yang ternyata sudah tersedia didepannya.

Hannah masih belum berbicara, hanya menatap Kinan dalam. Membuat Kinan mengangkat alisnya bingung.

"Han, kenapa?" tanya Kinan lagi.

"Aku lupa nelpon kamu tadi malam," ucap Hannah.

"Ohh, ya gak papa kok. Gak masalah," balas Kinan.

"Jadi, kenapa kamu kemaren? Kok bisa ketemu sama Abang?" tanya Hannah.

"Ohh , itu .." Kinan menggaruk tengkuknya, menghindari tatapan Hannah. Berusaha mencari jawaban.

"Na, kenapa? Aneh aja Abang tiba-tiba ngusir kamu kayak kemaren. Dia gak pernah melakukan hal itu pada orang lain, setau aku dia itu sopan banget pada orang-orang. Kaget aja dia kayak gitu ke kamu," ucap Hannah.

Kinan masih terdiam.

"Naa, ayo lahh, ada apa kamu dengan Abang?" tanya Hannah lagi.

"Itu, kemaren aku gak sengaja nabrak mobil abang kamu," ucap Kinan.

Hannah tampak kaget. "Kok bisa?"

"Hmm itu, sebenarnya Nasya yang bawa mobil, waktu itu aku lagi fokus sama hp, jadi gak tau juga gimana kejadiannya, tiba-tiba Nasya udah nabrak mobil Abang kamu," ucap Kinan membuat Hannah kembali mengingat kejadian tadi pagi saat memanaskan mobilnya hendak pergi kerja. Ada mobil Rayhan tapi bukan mobil yang biasanya dia pakai kerja berada didalam garasi, dan mobil itu biasanya Rayhan letakkan di rumah Ayah dan Ibunya, sangat jarang Rayhan menggunakan mobil itu. Kebingungan Hannah mengapa mobil yang biasanya Rayhan pakai pergi untuk bekerja tidak ada dirumah terjawab begitu saja.

"Kamu sama Nasya gak papa kan?" tanya Hannah memastikan.

"Aku sama Nasya gak Papa, tapi kayaknya Abang kamu ada yang terluka, karena waktu ke rumah sakit, Abang kamu sering megang kepalanya. Makanya aku datang waktu itu untuk memastikan. Tapi malah di usir," ucap Kinan pelan di akhir kalimatnya.

"Kayaknya Abang baik-baik aja deh," ucap Hannah.

"Lalu mobil kamu gimana?"

"Di bawa ke bengkel sama orang kenalan Abang kamu, aku gak tau siapa. O iya, aku juga gak tau dibawa ke bengkel mana, Ya Ampun gimana ini? Gimana cara aku jemput mobilnya?" tanya Kinan yang panik sendiri.

"Abang gak ngasih tau?" tanya Hannah bingung.

Kinan terdiam, lalu mengingat kartu nama yang diberikan Rayhan.

"Han, boleh minta tolong gak?" tanya Kinan menatap Hannah memohon.

"Minta tolong apa?"

"Tolong tanyain mobil aku di bawa ke bengkel mana, biar nanti aku yang jempu kesana," ucap Kinan.

"Abang benaran gak ngasih tau mobil kamu dibawa kemana?" tanya Hannah memastikan, tidak mungkin juga Rayhan membawa mobil orang pergi tanpa ngasih tau alamat bengkelnnya.

"Iya, Abang kamu cuma ngasih kartu nama, suruh ngehubungi buat nanya alamat bengkelnya," ucap Kinan.

Hannah terdiam. Kenapa Abangnya itu harus nyuruh Kinan buat ngehubunginya buat nanya alamat bengkel bukan langsung ngasih tau alamat bengkelnya aja? Padahal itu bengkel adalah milik Abangnya, tidak mungkin kan Abangnya itu tidak punya kartu nama bengkel yang berisi alamat bengkelnya?

Hannah masih terdiam, membuat Kinan menebak-nebak pikiran Hannah saat ini. Takut jika Hannah menolak membantunya. Bagaimanapun juga, semenjak di usir dari rumah sakit itu Kinan jadi tidak berani lagi menemui Rayhan.

"Han, mau ya bantuin aku?" tanya Kinan lagi.

Hannah menoleh pada Kinan, lalu tersenyum.

"Mending kamu langsung hubungi Abang aja Na."

---
A/n:

Assalamualaikum!!

Gimana dengan part ini? 😁

Part 10 udah selesai nih, mau Up kapan? Bolehlah tinggalkan jejak 😉

Ig: came_sa

DETAK RASA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang