"Dimulai dengan janji, dijalankan dengan ibadah, dan dengan penghujung Ridha Allah"
-Detak Rasa-
"Nana.." panggilan yang tidak asing bagi Kinan membuat dirinya menoleh ke arah pintu.
"Hannah? Sinii," ucap Kinan merentangkan tangannya meminta untuk dipeluk.
Hannah tersenyum, lalu menutup pintu perlahan dan berjalan menghampiri Kinan.
"Na, sumpah perasaanku campur aduk. Senang akhirnya kamu menemukan pasangan kamu dan menikah hari ini, tapi aku masih sedih karena kamu tidak bersama Abang. Entah mengapa perasaan Abang sekarang aku ikut merasakannya," ucap Hannah dipelukan Kinan.
"Maaf Han, aku sungguh tidak tau. Aku hanya mencoba untuk menjalani setiap skenario yang telah dituliskan Tuhan, dan mencoba meyakinkan diriku," ucap Kinan.
Hannah menggeleng pelan.
"Tidak, ini bukan salah kamu kok. Ini salah ku dari awal karena mencoba mendekatkan kalian berdua dan memaksa abang untuk mencoba membuka hati lagi setelah kepergian Mbak Indri. Ini bukan salah kamu," ucap Hannah lalu melepaskan pelukannya pada Kinan.
"Tetap saja, walau bagaimanapun. Sampaikan maaf ku untuk Mas Rayhan," ucap Kinan. Hannah mengangguk.
"Sudah, sekarang nikmati kebahagiaan mu Na. Hari ini adalah hari kamu," ucap Hannah.
Kinan tersenyum.
"Makasih Han."
"Ayo, kita keluar sekarang? Tadi Mama kamu manggil aku untuk mengajak kamu keluar, bersama Nasya juga," ucap Hannah yang kini menoleh pada Nasya yang masih sibuk memperbaiki make up nya.
"Ahhh, bentar mbak. Dikit lagi," ucap Nasya yang kini menempelkan tisu pada wajahnya.
Hannah mendekat, "Mau di apain?"
"Ini terlalu tebal, mbak. Aku aneh sendiri ngeliat wajahku," ucap Nasya sambil mengurangi make up di wajahnya.
"Ih gak papa, cantik kok," ucap Hannah memperhatikan wajah Nasya.
"Enggaa, aneh ini mbak," ucap Nasya lagi.
"Udah, jangan dihapus lagi. Malah ini kamu kelihatan pucat," ucap Hannah memperhatikan wajah Nasya.
"Yah, gimana dong? Kok aku aneh sendiri sama wajahku kalau di make up in," ucap Nasya pasrah sambil melihat wajahnya di kaca.
"Itu karena kamu jarang make up kali Sya, padahal cantik kok kalau kamu di make up in, gak keliatan pucat. Sini biar mbak make up in kamu," ucap Hannah sambil melihat-lihat alat make up yang ada didepan Nasya.
"Lah, aku gak pernah make up-an mbak, paling cuma bedakan doang biar ga muka bantal kalau ke sekolah," ucap Nasya.
Hannah tersenyum.
"Sini, biar mbak bantu," ucap Hannah lalu mengambil alih alat-alat make up didepan Nasya.
Akhirnya lima belas menit waktu yang dibutuhkan Hannah untuk memperbaiki make up Nasya.
"Aneh Mbak," keluh Nasya lagi.
"Engga Sya, bagus kok. Kamu harus biasakan deh ngeliat wajah kamu pake make up biar ga aneh sendiri," ucap Hannah tertawa singkat.
"Iya, cantik kok Sya," Ucap Kinan yang sedari tadi melihat dan menunggu Nasya selesai di make up.
"Aneh mbak," keluh Nasya lagi.
"Engga, cantik kok. Percaya sama mbak," ucap Kinan lagi.
Nasya manyun, lalu mengangguk singkat. "Yaudah, yok mbak kita keluar," ucap Nasya lalu berjalan menghampiri Kinan, begitu juga dengan Hannah.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
RomansaCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k758119.jpg)