DR 3. Permainan Hati

4.5K 399 16
                                        

"Jangan mainkan hati dia, kalau hati kamu sendiri tak ingin dipermainkan."

-Detak Rasa-

"Saya telah menyampaikannya pada Ayah dan Ibu saya. Mereka setuju. Jadi kapan saya boleh menyampaikan niat saya pada orangtua kamu?"

Tidak ada kalimat yang terlontar dari mulut Kinan, dia terdiam. Kinan menatap Rafka tidak percaya. Lidahnya kelu dan jantungnya berdetak begitu cepat. Tangannya mengepal begitu saja.

Sedangkan Rafka menunggu tanggapan dari Kinan, dia terus menatap gadis didepannya itu.

Beberapa detik kemudian, tawa yang ditahan Rafkapun pecah, membuat Kinan menatap Rafka kesal.

"Kamu lucu," kekeh Rafka masih dengan tawanya yang terdengar.

Kinan meraih gelas minum Nasya hendak melemparkan pada lelaki brengsek didepannya. Ucapan lelaki itu tidak bisa di golongkan bahan candaan karena ucapan itu mampu membuat jantungnya berdebar.

"Kin.. Itu gelas," ucap Rafka mengangkat kedua tangannya membuat tameng, agar terhindar dari gelas yang hendak di lemparkan Kinan ke arahnya.

Kinan menghela nafas panjang, lalu meletakkan gelas itu kembali ke atas meja.

Rafka kembali melanjutkan tawanya membuat Kinan semakin kesal menatap lelaki didepannya itu.

"Gak lucu," ucap Kinan kesal.

"Saya cuma lagi latihan kok, ingin tau aja reaksi kamu gimana," ucap Rafka terkekeh.

Kinan berdiri dari duduknya, masa bodoh dengan meninggalkan tamu sendirian di meja makan. Dia tidak peduli jika nanti Mamanya akan mengomel karena meninggalkan Rafka sendirian.

"Kin..," panggil Rafka ketika Kinan pergi dengan mengabaikannya.

Setelah punggung Kinan hilang di balik pintu, Rafkapun menghentikan tawanya. Lalu terdiam menatap kursi yang tadi diduduki oleh Kinan. Senyumnya terbit lalu beranjak dari ruang makan dan kembali ke ruang tengah berkumpul bersama orangtuanya.

〽️〽️〽️

Kinan menjatuhkan badannya di kasur, menenggelamkan wajahnya di bantal. Memukul bantal tersebut hingga luapan emosinya tersalurkan.

"Bodoh Kinan! Bisa-bisanya kamu menganggap dia serius. Kapan sih lelaki itu serius pada kamu? Gak pernah!" Kinan kembali memukul-mukul bantalnya. Jika bantal itu adalah wajah Rafka, dirinya tidak akan segan-segan membuat wajah itu babak belur.

"Kin, saya ingin ngomong sesuatu, dan ini serius. Jadi, bisa ubah wajah kamu jadi tersenyum. Kamu cantik loh Kin kalau tersenyum. Jangan jutek terus," ucap Rafka yang tidak mempan membuat Kinan tersenyum.

Bagaimana bisa tersenyum setelah lelaki itu membuatnya basah kuyup karena tercebur kedalam kolam yang ada di rumahnya. Dan itu gara-gara Rafka yang sengaja melepaskan Tredi, kucing Nasya yang mengejar dirinya. Kinan cukup takut dengan hewan berbulu yang berada di pangkuan Rafka saat ini.

"Apa?" tanya Kinan yang tengah terduduk dipinggiran kolam, memainkan kakinya dengan air.

"Saya suka sama kamu, dan saya ingin serius sama kamu. Jadi saya ingin membawa Ayah dan Ibu menemui Papa kamu," ucap Rafka membuat Kinan terdiam lalu menoleh pada lelaki itu.

Kinan tidak tau harus menjawab apa dan bersikap bagaimana. Dia antara yakin dan tak yakin dengan ucapan lelaki itu. Yang namanya Rafka tetaplah orang yang sering membuat amarahnya naik dan berujung dengan Kinan yang sering mengabaikan lelaki itu dan kadang bersikap jutek pada Rafka.

DETAK RASA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang