"Senyum bisa dipalsukan, tapi kebahagiaan tidak."
-Detak Rasa-
"Oh kalian saling kenal?" Gibran tampak berpikir ketika melihat Hannah dan lelaki didepannya itu saling pandang.
Rayhan menghela nafas, lalu memutuskan kontak pandangannya pada Hannah dan menoleh pada Gibran.
"Maaf Pak, mungkin lain kali saya datang lagi kesini. Tiba-tiba saya harus pergi sekarang karena ada panggilan mendadak pekerjaan."
"Maaf juga saya datangnya kelamaan, tadi saya ke ruangan dulu sebelum kesini," ucap Gibran.
Rayhan berdiri, tersenyum pada Gibran. "Mungkin saya bisa minta nomor ponselnya? Nanti saya hubungi Bapak lagi," ucap Rayhan.
Gibran tampak mengangguk, "Boleh, hubungi saja saya. Kalau nanti nemu jadwal yang pas kita bisa bicara lagi," ucap Gibran lalu menyebutkan nomor ponselnya.
"Makasih, kalau begitu saya pamit dulu. Maaf sudah menganggu waktunya," ucap Rayhan.
"Tidak-tidak, malah saya yang harus minta maaf karena membuat Mas menunggu terlalu lama," ucap Gibran.
Rayhan hanya bisa tersenyum. "Kalau begitu saya permisi," ucap Rayhan lalu pergi dari tempat itu.
Hannah masih mematung, pandangannya mengikuti kepergian Rayhan.
"Han, kamu kenapa? sini duduk," ucap Gibran lalu duduk dimeja yang sama dengan Rayhan tadi.
Hannah mendudukkan badannya, namun pandangannya masih mengikuti arah punggung Rayhan. Hatinya berkecamuk, antara tetap berada disini atau menyusul Rayhan dan menjelaskan semuanya. Tapi keberadaannya disini juga untuk menjelaskan suatu hal pada Gibran.
"Han?" panggil Gibran lagi.
Hannah meremas tangannya, lalu beralih menatap Gibran. Gibran tampak tersenyum padanya.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Gibran sambil melihat-lihat menu yang memang tersedia disetiap meja.
"Mas, perutku gak enak. Aku ke toilet sebentar ya?" ucap Hannah pada Gibran.
Gibran mendongak, "Kamu sakit?" khawatirnya.
Hannah memaksakan senyumnya, "Gak, cuma mau ke toilet sebentar," ucap Hannah.
"Ya udah, kalau masih sakit nanti aku antar kamu pulang," ucap Gibran.
Hannah hanya mengangguk lalu langsung keluar dari kafe. Pandangannya mencari-cari keberadaan Rayhan. Tempat utama yang dicari Hannah adalah parkiran, di parkiran kafe tidak terlihat mobil Rayhan, lalu dia berjalan ke gedung fakultas, memutar pandangannya mencari mobil yang mungkin saja milik Rayhan.
Hannah merutuki dirinya karena lupa membawa ponsel, dia meninggalkan slingbag nya di kafe. Hannah kembali menggigit bibirnya, menahan semua rasa kebingungan yang semakin menambah beban perasaannya. Antara tetap mencari Rayhan dan menjelaskan semuanya atau kembali ke kafe menemui Gibran dan menjelaskan hal yang tentunya lebih berat untuk disampaikan.
Hannah terdiam, kakinya kaku untuk bergerak kemana dia harus melangkah.
Untuk saat ini dia benar-benar bingung, dadanya juga semakin sesak setelah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Dia ingin menangis namun tidak ingin diketahui oleh orang yang berlalu lalang, sudah pasti orang-orang akan memandang dirinya dengan pandangan bingung.
Hannah masih terdiam di tempat, seharusnya dia kembali saja ke kafe karena tidak mungkin Rayhan masih berada di sekitar fakultas. Tapi dirinya masih belum siap untuk menjelaskan semuanya pada Gibran.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
RomanceCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k758119.jpg)