"Bongkahan es tidak akan selamanya mengeras. Ada kalanya dia mencair disaat sang mentari datang. Adakalanya dia kembali mengeras dikala sang mentari pergi."
-Detak Rasa-
Hannah: "Nana, ada yang suka sama kamu nih. Aku kenalin ya? Mana tau jodoh."
Hannah tersenyum setelah mengirim pesan tersebut pada Kinan.
Kinan: "Han, aku tau kalau kamu tertekan dengan perjodohan yang dilakukan oleh orang tua kamu, jadi jangan balas dendam kayak gini dengan ngejodohin aku juga. Balas dendam gak baik Han, walaupun pada orang yang berbeda.
Hannah yang mendapat balasan pesan dari Kinan mengernyitkan dahi bingung.
"Kenapa?" tanya Raihan melirik adiknya sekilas, lalu kembali fokus menyetir.
"Hah?? Oh gak papa kok bang," ucap Hannah lalu kembali mengetikkan pesan untuk membalas pesan Kinan.
Hannah: "ih, siapa juga yang balas dendam. Lagian aku punya niat baik kok, biar sahabatku ini gak kelamaan jomblo. Mana tau jodoh kamu dari perantara aku kan? Hehe."
Hannah tersenyum lalu kembali mengirim pesan tersebut pada Kinan.
"Masih waras kan dek?" tanya Raihan karena melihat Hannah yang senyum-senyum sendiri melihat ponselnya.
Hannah menoleh, "Masak adik sendiri di bilang gila sih bang?"
〽️〽️〽️
Makan malam telah terhidangkan di meja makan, Kinan menjatuhkan badannya dikursi sambil meregangkan badan. Dilihatnya jam dinding yang telah menujukkan pukul tujuh malam, namun Papa masih belum pulang dari Masjid.
"Papa belum pulang ya Mbak?" Nasya ikut duduk disamping Kinan sambil melihat makan malam yang telah dibuat oleh Mama dan Kakaknya.
"Belum, apa Papa dengar pengajian ya?" tanya Kinan namun hanya mendapat gelengan tidak tau oleh Nasya.
Tidak lama kemudian terdengar gelak tawa dari arah ruang tamu, "Ya gak papa, kadang sesuatu yang menantang itu dapat membuat kamu bekerja lebih keras. Semoga berhasil ya, Om do'a kan semoga kamu berhasil dengan proyek baru kamu." Suara Papa semakin terdengar jelas yang artinya Papa berjalan ke arah ruang makan.
"InsyaAllah Om, semoga proyek ini berhasil." Terdengar suara lelaki lawan bicara Papa, tanpa melihat wajah lelaki itupun Kinan sudah dapat menebak orang yang bersama Papa masuk ke ruang makan.
Kinan mengusap wajahnya, menghembuskan nafas lalu memalingkan wajahnya seketika.
"Kenapa Mbak?" tanya Nasya menoleh.
"Ehh? Gak papa kok."
Papa dan Rafka- lelaki yang menjadi teman ngobrol Papa telah sampai di ruang makan.
"Ayo duduk, kita makan dulu. Sya, panggil Mama Nak!" ucap Papa pada Rafka dan Nasya yang langsung di angguki oleh mereka berdua.
Rafka duduk disamping Papa dan tepat didepan Kinan, Kinan semakin menundukkan wajahnya. Malas untuk sekedar menyapa lelaki didepannya.
Rafka hanya tersenyum melihat tingkah Kinan, sadar kalau gadis itu sedang tidak ingin bertemu dengan dirinya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia memang selalu menyempatkan diri untuk makan malam bersama dengan keluarga Nasya, merasa tidak enak jika harus menolak kebaikan keluarga ini yang menawarinya untuk makan malam bersama.
"Kok lama Pa? Ada pengajian di mesjid?" tanya Nasya pada Papa yang datang bersama Mamanya.
"Gak ada, tadi kebetulan ketemu Rafka didepan. Ngobrol bentar," ucap Papa yang mendapat anggukan dari Nasya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
RomanceCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k758119.jpg)