"Jangan sampai rasa penasaran ini membuat diri ini hanyut begitu jauh oleh suatu aliran, hingga tidak tau cara untuk kembali."
-Detak Rasa-
Raihan memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe, siang ini sepulang dinas dia telah berjanji akan menjemput adiknya di kafe yang berada tepat diseberang rumah sakit tempat dirinya bekerja. Kebetulan belum makan siang, dia berniat untuk makan terlebih dahulu di kafe tersebut sebelum pulang ke rumah.
Saat memasuki kafe, Raihan langsung mengarahkan pandangannya mencari keberadaan Hannah-adiknya. Dan menemukan Hannah yang tengah memainkan ponselnya di meja paling sudut kafe. Langkahnya menghampiri Hannah, tangannya menarik ponsel yang dimainkan adiknya itu.
Hannah kaget dan mendongakkan kepalanya, menatap lelaki didepannya dengan pandangan waspada.
"Abang!" kesal Hannah lalu berusaha mengambil kembali ponselnya dari tangan Raihan.
"Main hp terus," ucap Raihan lalu menyimpan ponsel adiknya itu disaku kemejanya. Perilaku Raihan membuat Hannah cemberut, memandang tajam saku kemeja abangnya itu.
Raihan duduk di hadapan Hannah, meraih menu didepannya lalu memanggil pelayan yang kebetulan lewat disampingnya. Mengabaikan sang adik yang terus memandang tajam dirinya, lebih tepatnya memandang saku kemejanya.
"Siang Mas, mau pesan apa?" tanya pelayan tersebut sopan.
Raihanpun menyebutkan pesanannya, setelah selesai menyebutkan makanan dan minuman yang akan menjadi menu makan siang, pandangannya pun beralih pada Hannah.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Raihan pada adiknya itu sambil menyerahkan menu yang ada di tangannya ke hadapan Hannah.
Seketika Hannah memgembangkan sersenyumnya ketika mendengar tawaran itu. "Samain aja," ucap Hannah yang langsung di angguki oleh Raihan.
"Yang saya pesan tadi di double-in aja ya Mbak," ucap Raihan yang di angguki pelayan tersebut. Setelah mengulang menyebutkan pesanan Raihan tadi, pelayan itupun pergi meninggalkan meja mereka berdua.
Pandangan Raihan beralih pada Hannah yang tengah menatap keluar jendela, tampaknya adiknya itu telah melupakan ponselnya.
Satu pertanyaan seketika melintas di otak Raihan.
"Kamu tidak kerja?" tanya Raihan membuat Hannah langsung menoleh.
"Ambil cuti, hari ini aja kok," ucap Hannah nyengir.
"Kenapa?" tanya Raihan yang mulai mengintrogasi adiknya itu. Tidak biasanya Hannah mengambil cuti hanya untuk makan dan duduk di kafe ini.
"Ya gitu, lagi pengen dinginin otak aja," ucap Hannah sambil menggedikkan bahunya lalu dia kembali menghindari tatapannya dari Raihan dengan menatap keluar jendela.
"Dinginin otak kenapa harus ke sini? Di rumah aja atau di kamar kamu juga bisa, berdiri aja tuh di depan ac," ucap Raihan membuat Hannah menoleh malas ke arah Abangnya itu.
"Bang, jangan mulai deh," ucap Hannah yang kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Karena pembicaraan semalam ya?" tembak Raihan membuat Hannah menatap Abangnya itu lalu kembali mengangkat bahunya, tidak berniat untuk menjawab pertanyaan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETAK RASA [END]
SpiritualCinta tak harus selalu lantang diucapkan. Kadang ia tumbuh dalam diam, terjaga dalam doa, dan diuji dalam keikhlasan. Kinan dan Rafka-dua tetangga yang saling mengenal sejak lama. Persahabatan mereka hangat, sederhana, namun menyimpan rasa yang tak...
![DETAK RASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/191298605-64-k83133.jpg)