DR 13. Sebuah Panggilan

2.3K 289 24
                                        

"Jangan memberi hati jika hati yang kau beri akan kau minta kembali, karena hati bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah untuk di permainkan."

-Detak Rasa-

Seperti yang dikatakan Rafka tadi malam, dia akan mengantarkan Kinan menjemput mobil ke bengkel karena lokasi bengkel dan kantornya sejalan. Pukul delapan pagi, Rafka telah menunggu di depan rumah Kinan, menunggu di dalam mobil sambil memainkan ponselnya.

Ketukan pada kaca mobil menyadarkan Rafka, lalu dia membuka kunci pintu mobilnya dan Kinanpun masuk kedalam mobil itu.

"Nasya udah berangkat?" tanya Rafka ketika menyalakan mobilnya.

"Udah, tadi di antar Pak Ahmad," ucap Kinan, karena biasanya Kinanlah yang mengantarkan Nasya ke sekolah sebelum pergi ke kafe.

Rafka mengangguk lalu melajukan mobilnya.

Tidak ada pembicaraan yang terjadi didalam mobil. Kinan sibuk dengan ponselya membalas pesan dari Hannah semalam yang belum sempat dia balas.

Kinan: "Itu Rafka."

Balas Kinan begitu saja, Tidak menunggu waktu lama, tampak Hannah mengetikkan sesuatu padanya. Apalagi ini? Plis Han, jangan mulai.

Hannah: "Segitu takutnya kamu sama Abang sampai minta tolong sama si Rafka itu?"

Kinan terdiam, lalu menoleh sekilas pada Rafka yang berada didepannya sibuk menyetir. Dia teringat belum sempat memarahi Rafka dengan ucapannya kemaren pada Abang Kinan, tapi disisi lain bukannya harus memarahi, Kinan juga belum berterimakasih pada lelaki itu karena telah menolongnya. Anggap saja impas dengan Kinan yang memaafkan ucapan Rafka yang keterlaluan kemaren.

Saya Suaminya.

Kinan menghela nafas ketika kalimat itu masih terngiang di kepalanya, Rafka masih orang yang sama kan? Tidak men-filter mulutnya jika telah bersama Kinan, menyampaikan sesuatu dengan blak-blakan yang kadang membuat hati Kinan ketar-ketir memikirkannya.

Lagi-lagi Kinan menghela nafas. Lalu menatap layar ponselnya.

"Kenapa?" tanya Rafka membuat Kinan kembali mengangkat wajahnya menatap jalanan lurus di depan.

"Gak papa," jawab Kinan lalu kembali menatap ponselnya hendak membalas pensan Hannah.

"Gak papa nya cewek itu maknanya luas, jadi mending jujur aja," ucap Rafka.

"Ya gak papa, gak ada masalah," ucap Kinan lagi.

Rafka terdiam, barulah Kinan kembali mengetikkan balasan pada Hannah.

Kinan: "Bukannya takut, hanya tidak menemukan kata yang pas untuk minta maaf."

Hannah: "Tanpa kamu minta maaf pun, Abang sudah memaafkan kamu kok. Jadi siapa Rafka?" 

Siapa Rafka?

Tentu lelaki menyebalkan yang kini berada didepannya.

Kinan: "Teman."

Hannah: "Aku baru tau kalau kamu punya teman cowok, biasanya kamu selalu menghindar sama cowok-cowok yang ingin mendekati kamu. Punya apa Rafka sehingga kamu luluh? Apa jangan-jangan kamu dan dia, piiiippp?"

Kinan mengangkat alisnya.

Kinan:"Apaan Piip?"

Hannah: "Kamu pasti tau tanpa aku sebutkan, Na."

Kinan: "Apaan?"

Hannah: "Kamu mah selalu gitu. Na, aku pernah bilang kan kalau Abang suka sama kamu? Tau gimana reaksi Abang ketika nerima telepon dari orang yang ngaku sebagai suami kamu?  Ya pasti kaget lah Na. Udah ya Na, Aku mau kerja. Titip salam sama Abang, kamu lagi perjalanan buat jemput mobil kan? Daah, calon kakak ipar."

DETAK RASA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang