[ Completed ]
Hanya sepenggal cerita tentang bagaimana si berandal Danuar memuja sahabatnya sendiri, sosok Jennie yang begitu berharga baginya.
Cintanya.
Gadisnya.
Pancaronanya.
Hingga semakin hari semakin bersinar bersama pemuda, yang bukan dirinya...
Karena nggak mungkin aku bagi dua, jadi aku izin kalau chapter ini lebih dari 1000 kata, ya. Thankyou! Happy reading!💜
•••
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tidak semua orang mampu mengutarakan perasaannya. Sebab jika yang dipertaruhkan adalah utuhnya persahabatanku denganmu, aku belum rela."
Tertanda, Danuar.
•••
Harum hinggap ke arah penciuman seluruh manusia yang ada di sana; meja makan dengan lauk pauk kering juga basah, ditambah dua teko es teh manis yang bulir dinginnya mengalir hingga ke permukaan.
Terhitung lima; Taehyung dan Fatma yang bersebelahan, berhadapan dengan Jennie dan Seokjin—kebetulan pemuda itu juga berada di rumah, serta Sinta yang duduk di tengah menghadap ke empatnya.
"Maaf ya, Bu, seadanya makan minumnya. Kapan-kapan kalau kemari lagi, saya masak lebih-lebih dari ini, ya? Udah dibawain banyak oleh-oleh dari Sulawesi, eh saya nyambutnya begini saja."
Fatma mengangkat telapaknya, menggoyangkan tanda tidak apa, dilanjut dengan suara lembutnya mengudara, "Nggak apa-apa, Ibu. Begini saja sudah repotin Ibu. Maaf, ya."
"Ish. Enggak, kok. Saya seneng lagi punya temen baru? Eh temen 'kan ya, kita?"
"Hahaha, iya. Temen, bu."
"Bunda mah merendah mulu. Ini lauk banyak banget persis ukuran mau nyambut satu keluarga besar, tahu?" celetuk Taehyung.
Seokjin pun disana terkekeh, "Ya latihan buat sambutan nanti ... keluarga besar lo yang dateng, eh? Iya apa iya?" goda Seokjin.
"Yaaa kali aja, lo ada itikad baik di masa depan. Lamar adek gue, misalnya."
"Hah?"
"Abang! Mulutnya!" rajuk Jennie memukul lengan Seokjin yang berada tepat di sampingnya.
"Hahaha, bercanda doang gue?" Lantas menatap Fatma di hadapannya yang sepertinya tengah tersenyum geli—terlihat dari matanya yang menyipit, Seokjin berujar, "Hehe, Tante Fatma, maaf ya, saya bercanda."
"Duh, Bu, maaf, ya? Anak sulung saya memang begitu. Katanya, bercanda bisa buat orang makin akrab."
"Iya, Bu. Nggak apa, beneran. Saya kehibur juga, kok. Nak Seokjin anak yang baik, haha."