[ Completed ]
Hanya sepenggal cerita tentang bagaimana si berandal Danuar memuja sahabatnya sendiri, sosok Jennie yang begitu berharga baginya.
Cintanya.
Gadisnya.
Pancaronanya.
Hingga semakin hari semakin bersinar bersama pemuda, yang bukan dirinya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku terbiasa mendengar suaramu, mengingatnya, lalu menyimpannya dalam bilik memoriku. Seolah itu adalah karya terindah Tuhan untukku setelah suara Ibu."
Tertanda, Danuar.
•••
Malam itu, terasa begitu dingin. Taburan bintang tidak memiliki arti sebab keduanya sama-sama bungkam. Mungkin, ini bukan kali pertama mereka seperti demikian. Namun, tetap, apapun jenis jarak di antara orang terdekat itu—buruk.
"Gue mau minuman anget." Itu Taehyung. Kalimat pertama sejak lima belas menit mereka hening di perjalanan.
Mereka kini menyusuri di taman kota sejak permintaan Taehyung bahwa ia tidak ingin langsung pulang ke kosan. Berjalan beriringan menuju penjual yang mengelar tikar dengan lampu redup, Jennie berjongkok.
"Jahe susu dua, ya, Bu."
"Minum disini, Mba?"
"Iya."
Berakhir dengan Jennie duduk bersila di atas tikar serta Taehyung yang mengikutinya.
"Untung remang-remang. Kalau enggak, mukamu keliatan jelek banget pasti."
"Dih, sejak kapan gue jelek?"
"Sejak kamu berantem-berantem lagi. Udah dibilang, berenti. Tetep aja. Sumbu pendek, huuu!"
Dan Taehyung hanya terkekeh. Kini menghadapkan total tubuhnya ke arah Jennie. Mengusak pucuk kepala Jennie asal, "Bawelnyaaa...,"
"Biarin. Toh, aku gini juga buat kebaikan kamu. Aku nggak pengen kamu luka-luka, Tae. Belum lagi konsekuensinya."
Taehyung terdiam. Matanya menatap Jennie tanpa jeda. Manik kembar milik Jennie menatapnya redup, cemas; Taehyung tahu. Membuatnya kadang berpikir, bagaimana jika redup itu bukan hanya soal tali merah persahabatan yang mengikat mereka?
Ah, Taehyung akan masuk dalam deretan pemuda paling beruntung, mungkin.
Meski nyatanya; tidak akan selalu menjadi jawaban yang telah tervalidasi hingga detik ini.
"Makasih?"
"Buat?"
"Khawatirin gue, lah."
"Ck. Jelas khawatirlah, kamu 'kan—" Sudah siap Taehyung akan kata setelahnya, namun lekas gugur kala presensi si penjual menghampiri mereka.