[ Completed ]
Hanya sepenggal cerita tentang bagaimana si berandal Danuar memuja sahabatnya sendiri, sosok Jennie yang begitu berharga baginya.
Cintanya.
Gadisnya.
Pancaronanya.
Hingga semakin hari semakin bersinar bersama pemuda, yang bukan dirinya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Di antara doa yang kuusahakan, semuanya tak kutuju pada yang bernyawa; melainkan pada si pemegang semesta. Aku mencintaimu, di lebih dan kurangku."
Tertanda, Danuar.
•••
Di antara teriknya panas matahari yang menusuk kulit. Udara tak bersahabat sebab tak ditemuinya hujan hari ini—bahkan ramalan cuaca pun mengatakan demikian, buat pemuda bernama punggung Danuar itu memilih singgah di kantin prodinya, menyeruput segelas es teh dengan leci di dalamnya.
Ia memilih meja paling sudut—berniat ingin terhindar dari bisingnya cakap manusia. Masih dengan jeans belel pun jaket kesayangannya, Taehyung membuka ponsel di genggaman. Jemarinya bergulir mencari satu informasi—ia masih di sini, berjuang tuk dapat membongkar topeng palsu Jeongguk.
Hingga, menit terus berlalu, hidangan nasi goreng miliknya pun telah tandas—tiba-tiba saja pundaknya terasa dibebani sesuatu.
Taehyung berdecak, kala mengetahuinya, "Anjing, lo."
Jimin Prayaksa lah yang dituju oleh umpatan tertahan milik Taehyung. Pemuda yang baru saja—sok menganget-ngagetinya dengan guncangan pun pekikan—meskipun hasilnya sia-sia. Jimin terkekeh, tertawa keras mendengar dengus serta raut tak bersahabat pemuda itu.
Jimin tak takut sama sekali, kok.
"Elah, santai, bos. Kepala lo lagi mendidih apa gimana?"
"Tolol."
Berdecak—Jimin turut melakukannya, "Coba gitu ditata kosa kata lo supaya sopanan dikit. Apa-apa anjing, apa-apa tolol. Kasar banget, lo."
Taehyung mendengarnya, namun kalimat itu hanya masuk sepintas dalam kinerja otaknya. Pemuda itu lebih memilih fokus pada ponsel, berganti tab terus menerus dari dua aplikasi yang berbeda.
"Ngapain sih, lo?" Jimin bertanya.
Pun Taehyung, menghela napas di sana. Menutup, lalu meletakan ponselnya telungkup di atas meja hingga berbunyi suara sedikit nyaring—pemuda itu menoleh, menatap Jimin yang duduk tepat di sampingnya.
"Jeongguk punya saudara nggak?"
"Hah?"
"Dulu lo SMA, ada info tentang Jeongguk punya saudara, nggak, bangsat?"
Jimin menyerit. Keningnya menekuk, menandakan jika laki-laki itu pun dilingkupi tanda tanya yang besar, "Keluarga Bagaskara yang sekolah di sana ya cuma Jeongguk doang," menahan napas, Jimin menatap Taehyung dengan alis terangkat, "Lo dapet info dari mana?"