[ Completed ]
Hanya sepenggal cerita tentang bagaimana si berandal Danuar memuja sahabatnya sendiri, sosok Jennie yang begitu berharga baginya.
Cintanya.
Gadisnya.
Pancaronanya.
Hingga semakin hari semakin bersinar bersama pemuda, yang bukan dirinya...
Sebelum mulai, aku mau ngasih tau, aku gak bakal ninggalin wp kok. Inget dulu? Kasusnya sama.
Sampe saat ini, wp bagiku tuh kayak sarana buat aku nyalurin apa yang aku imajinasiin di kepala, yang insyaallah bikin kalian seneng.
Urusan real life tokoh yang jadi visualisasi disini, ya, kita gak punya ranah buat atur2. Selama mereka seneng, ya aku ikut seneng. Sederhana aja wkwk.
Sekalian deh, mau nanya, apasih yang bikin kalian masih nunggu buku ini? Semoga jugaa kalian masih inget alur, wkwk :p. Happy reading💜
•••
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dalam catatku, ini hari yang bersejarah, sebab kalian berdua bertemu jua. Semoga masih ada pertemuan-pertemuan lain, diluar sekadar silahturahmi saja, ya?"
Tertanda, Danuar.
•••
Langkahnya terburu pun napasnya memburu. Isi kepalanya kacau.
Maka ketika jemarinya meraih dingin besi dari kenop pintu ruangan serba putih dengan tangan gemetar dan melihat bagaimana kondisi di dalam—Taehyung Danuar Saka sungguhan lemas. Ia melangkah cepat ke arah brankar rumah sakit. Berhadapan langsung dengan sang Ibu; yang kini merentangkan tangannya. Hanya mata menyipit yang dapat Taehyung pandangi untuk kali pertama.
Ammanya, tersenyum. (Ibunya.)
"Sini."
"Haish! Amma. Kenapa bisa!?" tanya Taehyung ketus. Meski begitu, ia tetap merengsek ke pelukan sang Ibu. Ini pertemuan mereka setelah enam bulan terakhir. Dan ya, Taehyung begitu membenci pertemuan kali ini sebab melihat pergelangan kaki kanan sang Ibu yang diperban.
Fatma sendiri hanya terkekeh halus di balik cadar cokelatnya. Jemarinya mengusap surai kasar Taehyung, "Ketusnya masih sama, hm?"
"Ck!"
Selagi mengurai rengkuhan mereka, Fatma mengusap pipi sang anak—basah. Putranya menangis? "Katanya, mau Ibu yang kesini. Udah dituruti kok malah ketus?"
"Ponsel Ibu nggak rusak 'kan? Tahu fungsi benda itu, huh?"
"Apa memang?"
"Komunikasi. Segitu susah?" desis Taehyung penuh penekanan. Ya, Danuar terbiasa berucap tegas nan bulat di hadapan keluarganya. Dominan yang turun dari darah sang Ayah—Fatma terkekeh kembali.
Awalnya, Fatma kira ia hanya akan mendapati sosok Danuar yang menjemputnya lalu protes tentang kedatangannya yang tiba-tiba ini. Namun, merekam bagaimana manik arang sang anak yang berkaca—bahkan terlalu sembab untuk yang pertama kalinya, Fatma paham jika Danuarnya masih sama.