[ Completed ]
Hanya sepenggal cerita tentang bagaimana si berandal Danuar memuja sahabatnya sendiri, sosok Jennie yang begitu berharga baginya.
Cintanya.
Gadisnya.
Pancaronanya.
Hingga semakin hari semakin bersinar bersama pemuda, yang bukan dirinya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Fuck all of this. Gue cuma mau jujur. Gue cinta lo."
Tertanda, Danuar.
•••
Hamparan kapas jingga di atas langit, menjadi bukti pukul berapa ia termenung. Menghabiskan waktu lebih dari satu jam lamanya hanya untuk menikmati semilir angin dari atas gedung, terpaku atas beberapa masalah yang datang bagai teriakan yang berdengung.
Membuatnya pusing.
Rooftop universitas, ia pilih sebagai wadah dalam perputaran otak, juga inginnya dalam temukan ketenangan.
Taehyung Danuar Saka—pemuda yang kini mengambil bilah rokok ke tiga jika dihitung; mendongak menatap langit dari posisi baringnya.
"What the hell is going on here? Suntuk banget muka lo."
Maka Taehyung berdecak malas sesaat setelah menghembuskan asap rokok ke udara. Pemuda itu bangkit, menatap penuda lain yang presensinya kini terduduk tak jauh dari tempatnya berada.
"Bacot," umpat Taehyung sarkas.
Maka di sana Jimin Prayaksa terkekeh. Ia melirik Taehyung singkat, agaknya sedikit remeh, "Lo kalau ada masalah ya cerita. Terlalu lama dipendem sendiri, jadi penyakit yang ada."
Taehyung terdiam.
Bibirnya tak lagi berminat pada sebatang rokok yang masih lumayan utuh. Ia membuangnya, berdiri untuk menginjak putungnya yang masih menyala hingga tandas mati.
"Nggak usah banyak ngomong."
"Tapi gue mau banyak ngomong. Mau nasehatin lo, kalau lo perlu orang lain di hidup lo. Liat sekarang, lo ditinggal Jennie larinya ke siapa, coba? Temen deket juga kayaknya jarang. Apa nggak punya?"
Mungkin ... Taehyung patut untuk menyumpahi Jimin atas kelancangan pemuda itu. Namun ia tak bisa. Bahkan tungkainya tak berpindah sedikitpun. Membiarkan Jimin kini turut bangkit, dan berdiri tepat di sampingnya.
"Gue orang yang peka sama sekitar, Tae. Suka ambil spekulasi, yang ajaibnya sering bener. Lo ... suka sama Jennie, ya?"
Taehyung menoleh cepat—sebab selain Sang Ibu dan Seokjin—tak ada yang mengetahuinya.
Atau mungkin ada, tapi tak berani tuk tanyakan kebenarannya?
Maka Taehyung di sana mendengus sinis, "Lo tau dari mana?"
"Sejak gue pindah ke kost, satu situasi yang selalu narik perhatian gue yaa—tatapan lo kalau mobil hitam yang sering jemput Jennie dateng, wah, serem banget, asli. Biarpun lo natapnya dari jauh, gue rasa semua orang yang liat pasti paham, kok. Cuma mereka nggak segamblang gue buat ngomong sama lo gini."