[ Completed ]
Hanya sepenggal cerita tentang bagaimana si berandal Danuar memuja sahabatnya sendiri, sosok Jennie yang begitu berharga baginya.
Cintanya.
Gadisnya.
Pancaronanya.
Hingga semakin hari semakin bersinar bersama pemuda, yang bukan dirinya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hidupku habis. Aku tidak tahu kiamat datang secepat dan sesakit itu."
Tertanda, Danuar.
•••
Ada banyak hal yang gadis itu pinta pada Tuhan. Ada banyak harapan yang memenuhi belah bibirnya kala telapaknya menengadah panjatkan doa. Di setiap lima waktu yang Jennie dirikan—diakhirinya dengan wajah penuh damba atas kuasa yang Maha Kuasa.
Jennie ingin, keluarganya diberi sehat dan bahagia. Diberi tempat yang baik kelak di sisi-Nya. Dan ya—terselip satu nama yang tiga tahun ke belakang sering muncul dalam doanya. Tentang kebahagiaan pemuda itu; pemuda yang selalu menjadi tamengnya—sosok Danuar yang selalu ada bersamanya. Figur seorang sahabat lelaki yang dahulu hanya menjadi dongeng dalam mimpi indah Jennie.
"Ya Allah, Danuar anak baik. Tolong tempatkan dia di antara orang-orang pilihanmu. Bahagiakan dan sehatkan dia, Ya Allah."
Maka, jika memang benar Taehyung selalu mendoakan Jennie—seperti candaan malam kemarin tentang bagaimana Taehyung menempatkan Jennie dalam pintanya—nyatanya, gadis itu juga sama besar mendoakannya.
"Ada banyak hal yang memang nggak pernah bisa aku temuin di orang lain selain Danuar, Gguk. Dia—lain. Sahabatku itu, punya hal unik yang kayaknya cuma dia yang punya."
Maka Jeongguk menghembuskan napas. Ia yang sejak awal duduk bersila memunggungi Jennie, menoleh ke belakang, menatap Jennie yang kini terbaring—di atas rumput yang dilapisi jaket tebalnya. Gadis itu menatap langit. Taman yang begitu indah; yang entah bagaimana Jeongguk menemukannya. Taman ini seolah tersimpan apik di balik mentrapolit Ibukota, tidak banyak yang mengunjungi, bahkan.
"Kamu sayang dia?" tanya Jeongguk.
"Jelas. Dia sahabat aku."
"Sebesar apa?"
"Besar. Sewajarnya aja, sih. Kenapa emang?"
Terdengar Jeongguk yang terkekeh halus, "Kalau sainganku buat dapetin kamu itu dia, susah. Jadi—"
Jennie beranjak dari baringnya, terduduk menatap Jeongguk penuh tanya, "Maksud kamu, aku sama dia, punya potensi lebih dari sepasang sahabat?"
"Ya, iya. Tapi biarpun gitu, aku bakal terus maju. Biar bisa bikin kamu jadi hak patenku."
Lantas Jennie tertawa setelahnya. Jeongguk itu pemuda spontan dengan berbagai rasa menyenangkan yang khas. Jeongguk punya caranya sendiri untuk membuat Jennie bahagia—dalam rona merah muda di pipinya.
"Emang udah pasti aku mau jadi hak patenmu?"
"Loh, emangnya kamu nggak mau?" balas Jeongguk menaik-turunkan alisnya.
Membuang wajah ke arah kanan, Jennie pipinya panas sekali mendengar ke jayus-an Jeongguk. Pemuda itu baru saja menyatakan cinta—membuat Jennie tertegun untuk beberapa detik setelahnya, sebelum memutuskan untuk memberi satu tawaran.