17 bulan kemudian
Semburat layung senja mulai menggelap tak kala sebuah mobil hitam mengkilat tengah memasuki pelataran luas dan berhenti tepat di depan sebuah supermarket. Hanya dalam waktu hitungan detik, tidak lagi terdengar suara deru mesin mobil tersebut yang nyatanya kini telah di matikan oleh sang pengendara. Tangannya bergerak lincah melepaskan seatbelt yang di kenakannya sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil miliknya.
Pintu mobil bagian kemudi yang terbuka dari dalam dan di susul kemudian oleh sepasang kaki panjang dengan sepatu hitamnya. Hingga kejadian selanjutnya memperlihatkan sesungguhnya sosok tinggi dari seorang pria tampan yang lantas melangkah menuju pintu masuk supermarket. Membuka pintu dan kembali mengayunkan langkah kakinya memasuki serta melewati pintu kaca supermarket tersebut.
Dari sirat wajah tampan sang pria, cukup jelas menunjukkan gurat kelelahan yang tampak begitu kentara. Helaan nafas lelahnyapun seringkali terdengar setiap kali hembusan nafas beratnya lolos dari hidung mancung miliknya. Ingat saja bahwa pria itu memang cukup merasa lelah setelah seharian ini bekerja di rumah sakit ASAN Medical Center. Tidak hanya cukup berperan sebagai seorang dokter, melainkan pria itu juga berperan lain sebagai direktur rumah sakit ASAN Medical yang mulai di pimpinnya sekitar 1 tahun lalu.
Bahkan lengan kemeja yang sekarang ini di kenakannya telah di gulung asal hingga sampai sebatas siku dan memperlihatkan sepasang tangan berotot miliknya. Tangan itu masih saja tetap terlihat kokoh, meski pada kenyataannya pria itu telah kehilangan beberapa kilo dari bobot tubuh sebelumnya.
Sebagian kemeja berwarna birunya pun tampak terlihat mencuat keluar dari jalur yang pada awalnya di masukkan ke dalam celana bahan hitam membalut kaki jenjangnya.
Pria tersebut terus saja melangkah dan mengantarkannya pada deretan panjang troli yang tampak berjejer rapi di sana. Setelahnya, salah satu tangan besarnya terulur dan menarik satu troli yang nantinya akan di gunakan untuk mengisi barang belanjaannya.
Kembali kaki panjangnya melanjutkan langkah dan secara bergantian berhenti di depan rak demi rak yang sepertinya telah di hapalnya dengan cukup baik untuk mendapatkan apa yang di inginkannya. Kemungkinan besar yang dapat di simpulkan di sini adalah karena sang pria terlalu sering berbelanja di supermarket tersebut. Di ikuti pula oleh sepasang mata hitamnya yang terus bergerak acak ke arah samping kanan maupun kiri. Sedangkan tangan besarnya dengan cekatan mengambil satu persatu barang yang di inginkannya, untuk kemudian di masukkan ke dalam troli sembari mendorongnya.
Jika melihat dari gerak geriknya, pria muda itu tampak tergesa. Hal itu terlihat dari bagaimana cara pria itu mendorong troli dengan langkah lebarnya. Seakan tidak memiliki keinginan ataupun alasan untuk lebih berlama lama berada di tempat seperti ini. Hingga senyum tipisnya mulai tercipta tak kala merasa bahwa kegiatan untuk memilih barang belanjaannya telah selesai.
Oh , bukankah melakukan hal seperti itu cukup melelahkan! Tentu saja akan sangat melelahkan jika hal itu di lakukan seorang diri.
Rasanya justru akan lebih menyenangkan jika hal seperti ini bisa di lakukan bersama seseorang. Pasangan hidupnya, mungkin! Semoga saja keinginannya tersebut bisa segera terwujud dan terealisasikan dalam waktu dekat ini.
Sampai pada akhirnya, ada bagian di mana pria itu kini tampak mulai menekuk dan memberengutkan wajah tampannya. Bibir tipis pria itu kini turut pula bergumam serta mengumpat tidak jelas di belakang seorang wanita paruh baya yang tengah memilih barang belanjaannya. Posisi wanita itu berada tepat di depan troli dan sedang di dorong pria tersebut.
Akibatnya, rasa lelah fisik yang kini di rasakan tubuhnya setelah bekerja seharian ini terasa mengganda menjadi 2x lipat lebih dari sebelumnya. Lelah dan sangat lelah.
