Peduli atau kasihan?

366 69 11
                                        

"Peduli sama rasa kasihan itu beda tipis."

Aldi Pramudi

Suasana hati Aranasya kini sedang membaik. Entah apa yang membuatnya terlihat bahagia seperti ini. Di sepanjang perjalanan menuju kantin senyum Aranasya masih mengembang dengan sempurna. Bahkan sampai beberapa dari lelaki yang melewatinya terpikat akan senyumnya.

Gilang menepuk pundak Dima dengan pandangan tertuju pada Aranasya. "Gila senyumannya manis banget," puji Gilang.

Dima mengernyitkan keningnya bingung. Dima pun menoleh ke belakang memastikan siapa orang yang Gilang maksud. Melihat Aranasya tersenyum membuat Dima juga ikut tersenyum.

Dima tidak munafik, senyum Aranasya benar-benar manis, bahkan kecantikannya semakin terpancar kala ia tersenyum. Aranasya menoleh ke samping tepat pada Dima. Menyadari Dima tengah menatapnya, Aranasya langsung menundukkan pandangannya seraya tersipu malu.

Rasanya Dima ingin mencubit pipi Aranasya karena ia bertingkah menggemaskan. Dima pun langsung mengalihkan pandangannya.

"Lo berdua ada apa sih Dim?" tanya Gilang.

"Maksud lo?" tanya balik Dima.

Gilang berdecak sebal. "Gue benci nih modelan cowok kayak gini," jawab Gilang.

Galang menepuk pundak Dima seraya bertanya, "Maksud si Gilang, lo sama Ara baikan apa jadian?"

Bukannya malah menjawab pertanyaan dari Galang. Dima malah menanggapinya dengan senyuman.

Gilang mengelus dada bersikap sabar menghadapi Dima. "Sabar gue mah ngadepin kulkas 3 pintu," gerutu Gilang.

Tak lama kemudian, tiba-tiba datanglah Natalie bersama kedua sahabatnya. Natalie yang melihat Dima tengah berkumpul bersama Gilang dan Galang, langsung menghampirinya. Tanpa diminta oleh Dima, Natalie duduk di sampingnya. Sedangkan kedua sahabat Natalie memilih tempat duduk yang lain.

"Hai Dim," sapa Natalie.

Namun, Dima masih bersikap dingin, tak ada tanggapan darinya. Di sisi lain Aranasya diam-diam memperhatikan Dima dari jauh. Aranasya tidak munafik, dirinya kini terbakar api cemburu.

"Jhi aku ke toilet bentar ya," pamit Aranasya.

"Oh yaudah nanti gue pesenin," kata Jhihan.

Aranasya pun berlalu pergi keluar dari area kantin. Sebenarnya Aranasya enggan melihat pemandangan tidak mengenakan hati. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa menghindarinya.

Tanpa berpamitan kepada Gilang dan Galang, Dima  pun berlalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya. Sontak hal itu menimbulkan pertanyaan di benak Natalie.

Dima berjalan lebih cepat, berusaha menyamai langkah Aranasya. Menyadari Dima yang berada di samping kanannya, Aranasya dibuat bingung olehnya. Bukankah Dima tadi tengah duduk bersama Natalie? Kenapa tiba-tiba Dima malah mengikutinya? Itulah percakapan yang terjadi di dalam hatinya.

Saat hendak berada di depan toilet. Dima malah menghalangi akses jalannya. Toilet pria dan wanita saling bersebelahan. Posisi toilet pria di sebelah kiri dan toilet wanita di sebelah kanan.

"Permisi, aku mau lewat," kata Aranasya dengan pandangan menunduk.

"Kenapa lo gak berani natap gue?" tanya Dima.

Kenapa Dima malah mempertanyakan hal itu? Jelas-jelas Aranasya tidak berani menatapnya dalam jarak dekat. Dan yang Aranasya takutkan, ketika Dima tahu mengenai perasaannya kala melihat manik-manik matanya. Ada yang pernah mengatakan bahwa, seseorang akan tahu mengenai perasaan melalui tatapan matanya atau bahkan tingkah lakunya.

Nervous (Completed) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang