Penuh dengan kejutan

353 67 9
                                        

“Dipertemukan, dipermainkan, dipisahkan.”

Aranasya perhatikan dari jauh, ada begitu banyak perubahan dari sikap Dima, terutama terhadap dirinya. Aranasya tidak tahu alasan di balik semuanya. Entah karena masalah dirinya atau masalah di dalam keluarga. Yang jelas Aranasya kini merasa seperti orang asing. Sebelum hubungan seperti desember ke januari. Ada satu kenangan termanis, bisa dibilang tanda perpisahan. Kala itu …

Aranasya tengah duduk di depan kelas seraya membaca buku novel. Dengan di samping ada Jhihan yang tengah bercerita panjang lebar padanya. Aranasya hanya tersenyum dan mengangguk pelan mengiakan perkataannya.

Beberapa menit kemudian Aranasya merasa aneh, kenapa Jhihan malah berhenti bercerita. Saat Aranasya mengangkat wajahnya, sontak ia dibuat terkejut ketika mendapati Dima yang berada di hadapannya.

Tanpa senyum, tanpa sapaan Dima berdiri dengan tatapan tertuju pada Aranasya. Dengan cepat Aranasya alihkan pandangannya pada buku. Sebenarnya Aranasya gugup ketika berhadapan dengannya.

“Jhihan kenapa kamu malah pergi,” gerutu Aranasya dalam hati.

Sebenarnya apa tujuan Dima mendekatinya? Bahkan dia sama sekali tidak berbicara, hanya berdiri di tempat. Ah memang aneh dia, umpat Aranasya.

Aranasya tidak tahan berada di tempatnya saat ini. Tanpa berpamitan pada Dima Aranasya pun pergi masuk ke dalam kelas. Seperti Aranasya yang pergi, begitu pun juga dengan Dima yang pergi kembali ke dalam kelasnya.

Mengenang kisahnya dengan Dima membuatnya tersenyum. Memang Aranasya akui kisahnya sangat indah. Setiap bersama Dima Aranasya merasa bahagia. Entah kenapa Aranasya selalu merasa seperti itu.

Tapi pada akhirnya Dima malah pergi meninggalkan sejuta pertanyaan di benak Aranasya. Dipertemukan, dipermainkan, ditinggalkan. Tak ada yang bisa mengubah skenario Tuhan.

“Ra, lo kenapa sih dari tadi bengong terus?” tanya Jhihan.

Seketika Aranasya tersadar dari lamunannya. “Kenapa Jhi?” tanya balik Aranasya.

“Pasti ini anak mikirin Dima,” sindir Jhihan

Aranasya menggeleng dengan cepat.

“Yaudah ayo jogging,” ajak Jhihan.

Aranasya pun kembali beranjak berdiri. Aranasya dan Jhihan pun kembali berlari kecil mengitari taman yang posisinya tidak jauh dari rumahnya. Tidak heran jika suasana taman ramai dipadati banyak orang-orang. Karena hari ini hari minggu, dimana hari bersantai.

Sudah tiga putaran penuh Aranasya dan Jhihan berlari mengelilingi taman. Jhihan pun berhenti sejenak untuk membeli air mineral. Sementara Aranasya berdiri di tepi menunggu Jhihan.

Aranasya melihat dari jauh Dima berjalan berlawanan arah. Namun, saat Dima menyadari Aranasya melihatnya. Ia terus  melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun pada Aranasya. Tanpa senyum, tanpa sapaan sama seperti kala itu. Jika boleh jujur, hati Aranasya sakit sekali. Kenapa dirinya begitu asing?

“Nih Ra,” ucap jhihan seraya menyodorkan botol air mineral pada Aranasya.

Aranasya memaksakan seulas senyumannya. Lalu ia mengambil botol air mineral itu. Kembali Jhihan dan Aranasya melanjutkan perjalanan menuju rumah.

Sepanjang hari Aranasya selalu saja memikirkan tentang Dima. Kenapa Dima menganggapnya sebagai orang asing? Sebenarnya kenapa dengan dia? Aranasya terus saja bergulat dengan pikirannya sendiri.

Benda pipih itu berdering menandakan ada pesan masuk. Aranasya meraba-raba ponsel yang berada di atas laci. Terpampang dari layar ponsel sebuah pesan masuk dari Adrian. Aranasya mengernyitkan keningnya bingung. Aranasya pun langsung membaca pesan darinya.

Nervous (Completed) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang