Bengkel Mas Idang.
Banner bengkel yang terpasang lebar di atas tiang itu adalah tempat Raka biasa bekerja. Bengkel motor yang cukup besar menjadi bengkel yang tidak pernah sepi pengunjung, selalu ramai.
Selain Raka, ada juga Kenzo yang bekerja di bengkel tersebut. Justru, Raka bisa bekerja di sini karena Kenzo.
"Makan dulu, Rak!" Kenzo berteriak dari tempatnya duduk.
Raka yang sedang menangani motor milik pelanggan akhirnya meninggalkan motor tersebut. Ini sudah waktunya makan malam, lagipun sejak tadi ia sibuk bekerja sampai melupakan perutnya yang belum juga terisi.
Raka menghampiri Kenzo dan beberapa teman lainnya, tapi sebelumnya ia sudah lebih dulu mencuci tangan.
Kenzo memberikan sebungkus nasi yang ia beli di warteg depan bengkel dan juga sebotol air mineral pada Raka, Raka menerimanya dengan senang hati.
"Kadang gue bingung sama lo, Rak - Raka mengerutkan alisnya - Lo kan dari keluarga berada, kenapa mau sih kerja di bengkel yang jelas-jelas capek dan ga ada duitnya?"
Kenzo yang mendengar itu terkekeh dengan mulut yang penuh nasi.
Raka menatap Hardian yang merupakan pegawai tetap di sini dan sudah hampir dua tahun lamanya ia bekerja di bengkel ini. Sebelum ia menjawab, Raka memilih menelan nasinya lebih dulu agar tidak tersedak saat berbicara.
"Simpelnya gini, Bang. Lo suka cewe berambut panjang tapi satu sisi lo juga suka sama sih cewe rambut pendek. Keduanya lo suka, tapi sih rambut pendek ini ga di restuin sama orang tua lo. Jalan yang di ambil buat bisa bersama keduanya apa? Selingkuh, kan?" jelas Raka.
Hardian dengan polos mengangguk membuat Kenzo dan satu pekerja lainnya tertawa.
"Ya udah, gitu." ujar Raka kembali memakan nasi miliknya.
"Jadi, orang tua lo ga suka sama sih rambut pendek? Gitu? Jadi lo kabur dan milik kerja di sini?" jawab Hardian yang masih terlihat ngestuck di tempat.
Justin dan Kenzo tepuk jidat masing-masing. Meladeni pria berusia dua puluh dua tahun ini memang cukup sulit di tambah dengan kelemotan yang cukup menguras energi.
Kenzo membuang napasnya kasar, ia melirik Raka yang tersenyum tapi tidak memberikan penjelasan, malah melanjutkan makannya.
"Gini lho Bang. Maksud sih Raka itu, dia sukanya di bidang otomotif tapi orang tuanya lebih dukung ke bidang perusahaan." jelas Kenzo yang sebenarnya.
Hardian mengangguk-angguk saja, ia kembali menyantap nasinya dengan tenang.
"Udah? Gitu doang responnya?" Justin menyambung.
Kenzo mengangguk, "Ngomong sama orang tua ya harus sabar, Tin. Mau di kasarin takut kejang." tutur Kenzo membuat tawa keempatnya mengudara.
Raka selesai dengan makannya. Ia membuang bungkus nasi lalu mencuci tangannya. Kakinya melangkah ke tempat penyimpanan tas, mengambil ponselnya lalu menerima panggilan yang masuk untuk ke dua kalinya.
"Hallo, Assalamualaikum, Bu?"
'Waalaikumsalam. Raka, pulang jam berapa?'
"Sebentar lagi Raka pulang, Bu. Ada apa?"
'Bapak nyariin kamu ini. Main mulu kamu, mah! Cepat pulang!'
"Iya, Bu. Sebentar lagi Raka pulang. Raka tutup, ya, Bu."
Tut... Tut...
Panggilan di putus oleh Raka. Raka dengan cepat mendekat pada Kenzo untuk meminta izin pulang karena ibunya sudah mencari dan ia tidak mau ibunya tau dengan apa yang ia kerjakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
After that [Selesai]
Dla nastolatkówSeries # 7 Abila Nafisa Putri *** Setelah kembali dari Belanda, Abila memulai hidup barunya dengan melanjutkan sekolahnya di SMA Merpati. Di nyatakan sembuh dari penyakit mentalnya membuat Abila sangat bersyukur terlebih lagi ia bisa berkumpul deng...
![After that [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/261807788-64-k413092.jpg)