Siswa siswi dengan seragam Panca Buana sudah tiba lima menit yang lalu. Siswa atau siswi yang membawa motor di arahkan oleh satpam untuk memarkirkan kendaraan dengan teratur agar lahan bisa di pakai untuk motor yang lain.
Kurang lebih dua puluh motor dengan dua sampai tiga orang di atas motor itu mulai turun. Guru yang ikut sudah lebih dulu masuk. Yang hadir di sini rata-rata siswa siswi yang namanya tercantum dalam koordinat kelas.
Dan, sudah dapat di pastikan jika Lia, Okta, Ririn ada di sini. Mereka semua bergantian masuk, membagi menjadi tiga kelompok agar tidak terlalu penuh. Masalahnya murid dari Merpati juga masih di sini.
Keira menyingkir memberikan ruang untuk guru yang baru saja datang. Ia mendekat pada Dava ikut melanjutkan membaca yasin.
Di lantai atas tepatnya di kamar Jayden. Abila terdiam di depan pintu mengetahui fakta jika Raka dan Jayden adalah adik kakak. Yang membuatnya tambah diam adalah keadaan Jayden yang terlihat hancur.
Kamar laki-laki itu berantakan. Kaca lemari pecah dengan serpihan di mana-mana. Buku-buku sekolah, hiasan dinding, kasur dan terakhir yang membuat Abila khawatir dan memutuskan untuk masuk ke dalam adalah keadaan tangan Jayden yang belum Raka sadarin.
Abila dengan cepat turun ke lantai satu mencari keberadaan ART di rumah ini. Ia ingin meminjam kotak P3K.
"Bi, Bila minta P3K, Bi. Cepat!" paniknya sampai membuat asisten rumah tangga itu berlari menghampiri kotak itu berada.
"Nih, Non." Abila menerimanya. "Makasih, Bi."
Abila berjalan cepat menaiki anak tangga dengan wajah khawatir. Sampai di atas, Abila menerobos masuk membuat Raka yang sedang menenangkan Jayden dengan cara memeluknya itu menoleh.
"Kenapa?" tanyanya tanpa suara.
Gadis itu hanya menampilkan senyum seolah tidak ada kejadian yang serius.
"Jayden..."
Raka mengerjit. Abila kenal dengan adiknya?
Jayden. Laki-laki itu melepaskan pelukannya kemudian menatap Abila kaget. Mulutnya terbuka tapi tidak mengeluarkan suara. Air mata yang berbicara.
Abila tersenyum, "Boleh Bila minjam tangannya?"
Jayden dengan polosnya memberikan kedua tangannya namun Abila hanya mengambil yang kanan. Raka melotot melihat luka di tangan adiknya.
"Jay..."
"Gue ga papa, Bang." ucap Jayden lesuh.
Abila selesai mengobati luka di tangan Jayden. Ia menutup kotak P3K itu lalu menatap Jayden dengan senyum. Pandangannya dalam.
"Jayden... Butuh pelukan?" di rentangkan kedua tangannya membuat Jayden kembali menangis di dalam dekapan Abila. Kakak kelas yang dahulu pernah ia tolong. Tidak, yang pernah mengajaknya bermain dalam satu drama yang sama.
Abila lakukan yang sama dengan Raka tadi, menepuk-nepuk punggung Jayden.
"Jayden... Kamu bisa dengar suara Bila, kan?"
Jayden mengangguk.
"Dengar Bila, ya."
"Bila tau Jayden seperti apa. Bila juga tau, Jayden pasti kuat. Bukan cuma Jayden yang hancur, tapi Raka juga."
"Jayden. Raka siapa Jayden?" Abila bertanya. Ini pengalihan topik agar Jayden lebih bisa mengendalikan diri
Dalam isak Jayden menjawab, "Abang."
Abila melirik Raka yang terduduk lemas di dekatnya. Laki-laki itu memperhatikan interaksi antar adiknya dan juga teman barunya.
"Lihat, Raka Nangis, ga? Raka melukai dirinya sendiri? Enggak, kan."
KAMU SEDANG MEMBACA
After that [Selesai]
Teen FictionSeries # 7 Abila Nafisa Putri *** Setelah kembali dari Belanda, Abila memulai hidup barunya dengan melanjutkan sekolahnya di SMA Merpati. Di nyatakan sembuh dari penyakit mentalnya membuat Abila sangat bersyukur terlebih lagi ia bisa berkumpul deng...
![After that [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/261807788-64-k413092.jpg)