After : Tiga Puluh Enam

747 72 2
                                        

Jayden di dalam rumah sudah seperti setrikaan yang sering di pakai oleh bibinya untuk melicinkan pakaian. Mondar mandir tidak jelas seperti orang linglung.

Ini semua kerena ibu dan abangnya yang pergi sejak kemarin dan belum kembali hingga saat ini. Di tambah malam sudah datang. Jayden khawatir dengan kedua orang yang begitu ia sayangi.

Hanya tinggal dua orang yang harus ia lindungi. Sudah tidak ada lagi yang bisa melindungi ibunya selain dirinya. Perjuangan bapaknya untuk menjadikan kedua anaknya sukses tidak tercapai karena mata bapaknya sudah tertutup dengan rapat dan sudah tidak bisa di buka kembali.

Hanya doa yang bisa beliau terima.

Jika memikirkan hal yang berbau kematian, entah mengapa kaki Jayden terasa lemas. Ia membayangkan hal-hal tidak terduga yang akan terjadi pada keluarganya.

Jika tidak ada ibu, mungkin kedua anaknya akan berantakan.

Jika tidak ada Raka, dunianya akan sepi.

Dan, jika dirinya yang tiada. Itu bagus, karena dirinya tidak akan merasakan sakitnya di tinggal orang yang di sayang.

Jayden lekas keluar ketikan mendengar suara mobil yang sudah tidak asing lagi di telinganya. Ia bertolak pinggang melihat dua orang yang sejak tadi di tunggu-tunggu.

"Ibu kemana aja, sih?! Pergi ga bilang-bilang tau-tau ngasih kabar cuma bilang 'Ibu pulang besok, ya' apa-apaan itu?!" katanya marah.

Rahmi tersenyum. Mendekat pada anak keduanya lalu membelai sebentar rambut hitam mengkilat milik Jayden.

"Maaf ya, anak gantengnya Ibu. Semalam Ibu sama Abang Raka buru-buru. Mau pamit sana Iden, Iden udah bobo nyenyak sambil peluk guling. Maaf, ya..."

Hatinya melunak? Tentu saja. Hati siapa yang tidak meleleh jika kita marah dan di balas dengan lembut. Di tambah orang itu adalah seorang ibu yang bisa saja marah. Tapi lihat, Rahmi tidak marah sama sekali.

"Ayo masuk, Ibu masakin oseng daging, ya?" Rahmi merangkul Raka yang masih di sampingnya, "Ayo, Ibu bikinin jus mangga buat Abang."

Kedua masuk dengan kedua tangan Rahmi yang merangkul Raka dan menggandeng Jayden.

Di belahan dunia lain. Ada Dava dan Keira yang terjebak rasa lapar dan terpaksa harus berhenti di salah satu caffe terdekat. Mereka tidak pulang seperti yang Dava bilang tadi suatu menjemput Keira.

Mereka lebih tepatnya Keira yang meminta Dava untuk berjalan-jalan mengelilingi Jakarta dengan tujuan bosan. Di rumah Keira hanya sendirian karena kedua orang tuanya sedang ada di rumah nenek dari mamahnya.

Dengan terpaksa Dava mengikuti keinginan teman karibnya sampai malam datang mereka masih ada di jalanan.

Keduanya masuk ke dalam cafe, duduk di tempat yang kosong dan kebetulan cafe ini sedang sepi pembeli jadi tidak begitu banyak pengunjung.

"Untung sepi."

"Kenapa kalau ramai?" tanya Keira.

"Lama dateng makanannya." jawabnya lalu pergi ke tempat pemesanan.

Dava sudah tidak lagi menanyakan apa mau Keira karena tadi di jalan Keira sudah bilang jika dirinya ingin mie instan rasa soto dengan toping keju dan telur mata sapi setengah matang. Benar-benar setengah matang karena gadis itu ingin yang telur kuningnya masih cair. Seperti lava.

Sedangkan untuk minumnya Keira tidak minta yang macam-macam. Gadis itu ingin teh dingin dua gelas.

Selesai memesan, Dava kembali duduk di tempat yang sudah mereka tentukan.

After that [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang