After : Dua Puluh Sembilan

725 68 3
                                        

Hari itu tiba. Tapi Abila nampak santai dan terlihat tidak perduli. Humairah memperhatikan anaknya yang terlihat tenang memakan nasi goreng buatannya.

Abila sama sekali tidak panik padahal bisa saja hari ini adalah hari apesnya. Persembunyiannya selama hampir delapan bulan akan sia-sia jika sampai ketahuan.

Abila pun belum menemukan laki-laki pengganti Lio. Jika sudah mungkin dirinya tidak akan sepanik ini. Abila bisa membuat Lio sakit hati dengan kenyataan jika dirinya sudah memiliki pengganti.

Abila menyingkirkan piringnya, mengambil segelas air putih untuk di teguk. Ia melirik Humairah yang terlihat intens memperhatikannya.

"Kenapa, Bund?"

Humairah menggeleng, melahap nasinya membuat Abila tertawa.

"Kalau katahuan hari ini ya gapapa. Mungkin emang udah takdir Bila di pertemukan oleh mereka semua." tiba-tiba saja Abila berucap seperti itu.

Humairah menghela, bingung harus mengatakan apa. Anaknya begitu peka dalam segela hal. Dan jika Abila tiba-tiba bertingkah layaknya gadis polos, oh, tentu saja itu hanya sandiwaranya saja.

"Bunda khawatir..."

Abila tersenyum, "Apa yang Bunda khawatirin? Semua akan baik-baik aja Bund."

"Bunda takut Lio belum bisa lupain kamu dan saat dia tau kamu memang benar ada di sini, dia jadi ingin milikin kamu lagi,"

"Ya gapapa. Mungkin Lio emang jodoh Bila yang udah Tuhan siapin, tapi cara Tuhan kasih Lio itu sedikit ekstrim. Banyak rintangan-

"Huuuss! Ngaco kamu!" potong Humairah. Abila terkekeh pelan.

"Lio udah punya adikmu, ingat!" lanjut Humairah mewanti-wanti.

"Ya, Bund. Iya tau."

Abila beranjak dari duduknya. Mengamit tas yang ia sampirkan di sandaran kursi lalu menyalimi Humairah.

"Bila berangkat dulu ya, Bund."

Humairah mengangguk, "Hati-hati. Kalo udah ngerasa terkepung kamu telepon Yanto aja, ya, sayang,"

"Hadapin dong, Bund. Masa nelepon Pak Yanto." jawaban yang terdengar yakin. Padahal hati Abila sampai sekarang masih jedak-jeduk ga jelas.

Humairah menyentil kening anaknya, berkecap kesal, "Anak ini, ya. Terserah kamu aja!"

Gelengan dan tawa menjadi satu. Bundanya lucu jika sudah mode khawatirnya nyala.

"Yaudah, ah. Bila berangkat dulu. Bunda santai aja, ya. Assalamualaikum!"

"Waalaikumsallam!" Humairah menjawab dengan gelengan. Abila terlalu santai.

Sampai di depan Abila di kejutkan dengan munculnya Yanto dan Dodi secara tiba-tiba. Dua pria berumur itu menatap Abila.

"Apa?" tanya Abila heran.

"Sesuai apa yang Nona katakan kemarin. Saya sudah utus dua puluh orang untuk berjaga di depan gerbang sekolah Nona. sepuluh orang yang menyamar menjadi penjaga toilet, tukang sapu dan lainnya. Mobil putih Nona sudah stay di pintu belakang sejak subuh. Kepala sekolah Nona sudah kami ajak kerja sama dan beliau dengan senang hati mau membantu. Untuk dektetif, intel atau mata-mata sudah di lumpuhkan. Tapi, untuk murid-murid kami tidak bisa berbuat apapun, Nona." jelas Yanto dengan akhir kalimat yang terdengar lesu.

Abila menghembus napas, "Anak murid memang sulit di kendalikan. Tapi tidak apalah, kalian sudah menjalankan yang terbaik."

"Maaf, Nona. Ririn baru saja memberi kabar jika teman-temannya sudah siap untuk ke sekolah Nona namun sebisa mungkin Ririn dan sepupu Nona menghalangi kepergian mereka,"

After that [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang