Mirip Seperti Kucing. Sangat Menggemaskan
.
.
.
Romero tersentak kaget saat pintu ruangan tersebut ditutup secara kasar. Ia semakin menunduk dalam, tau jika ia telah melakukan kesalahan.
Tanda pengenalnya yang terpasang di saku kemejanya ditarik hingga terlepas.
Malvin yang melakukan hal itu menatap sejenak tanda pengenal tersebut lalu kembali menatapnya.
Senior sekaligus Kepala KSM Orthopaedi dan Traumatologi di rumah sakit tempatnya bekerja saat ini.
"Seharusnya kamu tidak jadi dokter kalau cuma mau membunuh pasien!" ujar Malvin pelan, namun datar dan tanpa ekspresi menatapnya.
Tapi, Romero tau jika pria itu sangat marah padanya.
"Maaf, Dokter Malvin..."
Malvin mengacungkan tanda pengenal Romero menunjuk pria itu. "Seribu kali pun kamu minta maaf sudah tidak ada gunanya. Untung saja pasien yang kamu tangani dapat diselamatkan berkat bantuan Dokter Noval, kalau tidak? Bukan hanya kamu yang dapat masalah, saya dan tentunya rumah sakit ini juga!"
Hampir saja nyawa pasien yang ditangani Romero tidak terselamatkan karena ia yang tidak fokus saat melakukan operasi fusi tulang. Fusi tulang dilakukan dengan cara menyatukan beberapa tulang menjadi satu.
"Renungkan apa yang baru saja kamu lakukan selama dua minggu. Setelah itu kamu putuskan, apakah kamu memang pantas jadi dokter atau tidak!" Setelah mengatakan itu Malvin meletakkan tanda pengenal Romero di meja lalu keluar meninggalkan Romero yang mengepalkan kedua tangannya erat.
Menghembuskan nafas kasar, semua karena hubungannya dengan Rali yang renggang atau malah sudah putus. Apalagi, ia mengetahui Rali masuk rumah sakit lagi. Rasa cemas selalu menyerangnya.
Penasaran bagaimana kondisi Rali.
Apa penyebab wanita itu melukai dirinya lagi?
Apakah sudah membaik?
Apakah lukanya parah atau tidak?
Sungguh, Romero merindukan wanita itu.
Mengambil tanda pengenalnya, ia keluar dari ruangan tersebut dan berhenti melangkah saat melihat di luar ruangan ada Gibran.
"Abis di marahin lo?"
Dengan senyum hampa Romero mengangguk pelan. Temannya itu menepuk pundaknya pelan memberinya ketenangan.
"Gak usah ambil hati apapun yang manusia kutub itu bilang. Emang gitu orangnya!"
Romero tersenyum geli mendengar perkataan Gibran. Tentu saja sangat mengenal sepupunya sendiri yang dipanggil manusia kutub.
"Awas lo kalau dia denger!" Romero menyikut pelan perut Gibran.
"Alasan gue gak mau ambil spesialis orthopaedi karena dia. Pasti jadi juniornya makan hati mulu karena kata-katanya yang pedes."
"Bukannya lo udah biasa? Kan dari kecil udah kenal."
"Walaupun udah biasa, tapi emang kata-katanya dia tuh nyelekit banget. Gue orangnya gak baperan, tapi kalau dia yang ngomong gue bakal baper."
Romero tertawa. Meski tertawa, tapi hatinya gelisah. Kini ia memiliki masalah dengan pekerjaannya. Meski tidak di pecat, tapi ia sudah mendapatkan peringatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
EXONERATE
ChickLit[series3] #PROJECT 3 ___________ ⚠️21+ EXONERATE : "Bebas dari segala beban hidup yang selama ini dirasakan". __________ Copyright ©2021, NanasManis start [20/2/21] end [5/5/21]
