9. Promise and Punishment

73 6 3
                                        

❛❛ Ketakutan yang dihadapi oleh rasa panik hanya menjadikannya penyakit❜❜❀

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

❛❛ Ketakutan yang dihadapi oleh rasa panik hanya menjadikannya penyakit❜❜

•°•════ஓ๑♡๑ஓ════•°•❀



Aku berjalan mengendap-endap sembari memegangi bantal yang aku ambil dari sofa. Berjalan menghampiri pintu pagar lalu mengambil napas untuk menguatkan mental.

Pintu besi yang ada di depanku ini ku buka dengan cepat dan mengambil aba-aba untuk memukul seseorang yang menggangguku malam ini. Namun, gerakan ku terhenti di udara ketika melihat Mark yang sedang terkejut melihatku.

Lantas dia tertawa kecil dan berkata, "Gue lupa kalo lo sendirian di rumah."

"Gue kira siapa. Gue takut tau gak!" Sungutku dengan kesal.

Mark melangkahkan kakinya mendekatiku. "Makanya gue balik lagi. Biar lo gak takut."

"Pulang aja. Gue udah biasa sendiri. Ini bukan pertama kalinya bunda pergi kok." Elakku.

Sama seperti sebelumnya, walaupun aku menolak, Mark tetap memaksaku untuk menurutinya. Kali ini, Mark menarik pundakku, dia menutup pintu pagar lalu masuk ke rumahku tanpa persetujuan ku.

"Ya! Mending gue sama bang Doy daripada lo!" Gerutu ku sembari berjalan memasuki rumah.

"Bang Doy? Doyoung? Emang siapa lo?" Tanya Mark penasaran.

"Manusia." Jawabku dengan hati tak niat.

Aku berjalan mendahuluinya sembari menghentakkan kaki ku kasar. Sesampainya kami di dalam, aku bertanya pada Mark saat dia tengah melihat-lihat ruangan tamu. Hanya pertanyaan klise.

"Lo mau minum apa?"

Mark menoleh ke arahku kemudian menggeleng, "Enggak. Gue kesini bukan mau jadi tamu, tapi ngejaga lo."

"Sekalian nanya, apa yang lo takutin di sekolah? Manusia?" Dia melangkah lebih dekat padaku.

Aku gelagapan, "A-ah? Menurut lo emang apaan?" Aku malah bertanya balik.

"Jangan takut. I'm always beside you, Saeri." Kata Mark dengan nada lembut dia menepuk-nepuk pucuk kepalaku dengan pelan setelahnya.

Detik berikutnya aku dibuat terkejut karena Mark menarik punggungku untuk membawanya masuk ke dalam pelukannya. Tangannya bergerak mengusap punggung kecilku.

Satu kata dalam pikiranku, nyaman. Meski aku harus buang jauh-jauh rasa itu.

Aku mendorongnya pelan untuk melepaskan dekapan penuh ketulusan itu. Tetap saja, aku harus menjaga diriku sendiri. Aku benar-benar tak mempercayainya. Maka itu hal-hal buruk di pikiranku mulai datang.

It's Okay! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang