It's Okay! Karya fiksi penggemar pertama dari Nanawooda. Update setiap hari Sabtu. Bercerita tentang seorang laki-laki yang berasal dari Kanada yang pindah ke Korea Selatan sebagai pelajar bernama Mark Lee. Ia sangat menyayangi ibunya, tapi sayang p...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❛❛Tau gak, kenapa gue selalu ikutansenyumkalolosenyum?Karena cuma itu kebahagiaan terkecil yang gue punya.❜❜ ❀•°•════ஓ๑♡๑ஓ════•°•❀
"Iya. Because today is my birthday."
Mark mengatakan hal itu dengan sangat santai. Tentu itu membuatku terheran-heran dan juga terkejut. Aku sempat diam sebentar setelah menarik tanganku yang tadinya berada di atas kepala Mark. Setelah itu aku baru berteriak.
"YAK! KENAPA BARU BILANG?! KENAPA JUGA LO NGOMONG SESANTAI ITU?!" Pekik ku di ruangan yang sepi itu.
"Ya, kenapa? Apa ulang tahun harus dirayain setiap tahunnya? Kenapa begitu? Selama ini gue gak makan kue dan sup itu di hari ultah gue, gue masih hidup sampai sekarang. Walaupun gak bahagia, sih." Dia mengangkat bahunya sekali lagi.
Aku terdiam setelah mendengar ucapan itu. Apa kalian menyetujuinya? Aku tidak terlalu, sih. Aku selalu dibuatkan sup rumput laut dan kue di hari ulangtahun tapi perasaan ku tetap saja kosong seperti tidak ada artinya.
"Gue sempet mikir buat makan sup itu hari ini sama lo. Karena gue mau panjang umur." Dia berucap lagi.
"Yaudah! Lo pesen online aja sekarang." Tukas diriku.
"Tapi kita udah makan." Dia membalas.
"Gak apa-apa! Lo pesen kuenya juga sekalian. Lo tau? Perut gue itu punya cadangan."
Laki-laki berwajah tirus itu tertawa tanpa suara. Lantas ia mengambil ponselnya dan mengutak-atik barang tersebut sebentar hingga akhirnya dia pamit untuk menaruh boneka kelinci yang sedari tadi ia peluk itu ke kamarnya.
"Eum... gue ikut, boleh? Gue kepo sama isi rumah lo." Aku bertanya dengan ragu-ragu.
Dia mengangguk dan membalas, "Sure."
Aku tersenyum lebar, ikut bangkit dari sofa dan menggenggam tangannya kemudian kami mulai melangkah berjalan. Entahlah mengapa aku menjadi canggung ketika berjalan seperti ini, aku hanya melihat-lihat beberapa furnitur dan hiasan di ruangan-ruangan tersebut tanpa melihat dan mengobrol dengannya.