19. Extraordinary Day

49 6 0
                                        

Cr: on pict

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Cr: on pict

❛❛ Banyak pesan tersirat di dalam momen kita. Akhirnya aku mengetahui itu❜❜
❀•°•════ஓ๑♡๑ஓ════•°•❀

Sabtu di pagi hari, di sambut suara burung yang memanggil dan sinar matahari yang membuatku bangun dari tidur panjang ku. Ku awali pagi ini dengan senyuman dan juga harapan. Hari ini pasti akan indah, ku harap.

Setelah membersihkan kotoran di mataku, aku pergi masuk ke dalam kamar mandi yang jaraknya tiga langkah dari ranjang. Sesudahnya mandi, aku mengganti pakaiannya dengan gaun selutut berwarna beige lalu menata rambutku. Menjadikannya satu cepol di atas kepalaku, sengaja mengikuti Yuna agar aku terlihat baru. Hehe.

Setelah semuanya selesai, aku turun menuju dapur untuk sarapan bersama bunda dan lainnya— maksudnya paman Byun dan bibi Han.

"Wahh nona rapih banget." Aku mendengar paman Byun bersuara.

"Saeri cantik banget! Tumben." Sahut paman Byun.

Ekhm, maksud paman Baekhyun aku tidak cantik sebelumnya, iya?

Sedangkan bunda hanya menatapku dengan ekspresi datar.

"Siapa yang izinin kamu keluar?" Kali ini bunda bertanya dengan ekspresi yang sama.

"Tolong, bunda~" Aku merengek.

"Saeron, jangan larang Saeri, dia juga mau bebas." Tukas paman Byun.

Lalu bunda menoleh ke arah paman Byun dengan sinis dia berkata.

"Kamu punya hak buat larang saya?" Tanya Saeron dengan sarkas. "Kamu mau banget jadi ayahnya? Sampai kayak gini." Lanjutnya.

Paman Baekhyun menghela napas lalu menjawab, "Maaf."

"Aku bosen dirumah. Selama ini bunda larang aku buat berinteraksi sama orang-orang di luar, bunda selalu larang aku ke luar."

"Karena di sana bahaya. Bunda gak ngejagain kamu. Bunda udah ngasih rumah sebesar ini, apa kurang nyaman buat kamu?" Tanya wanita di depanku.

"Aku udah gede. Aku bersyukur banget tinggal di rumah ini. Tapi aku juga butuh waktu di luar. Aku bisa mandiri." Begitu ujarku.

"Byun, kamu denger itu? Dia bisa mandiri." Bunda berujar pada pria yang duduk di sampingku.

"Oke. Pergi sana. Bawa hape kamu. Berbuat sesuka kamu." Putusnya.

"Bi, tolong bekalkan nasi ini. Kayaknya saya bakal telat." Dia mulai berdiri dan mengambil tas miliknya.

It's Okay! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang