Part 28-Usai Pertarungan

265 33 2
                                    

"Nana, apa kau menemui paman Daichi malam itu?" Sorot mata dingin terpancar dari tatapan gadis itu, yang seolah tak ingin menunjukkan ekspresi apapun selain menantikan jawaban dari pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.

Tepat didepannya seorang wanita paruh baya duduk dengan manis di atas ranjang besi rumah sakit yang menopangnya, berbalutkan selimut rawat inap dan baju khas untuk para pasien. Tatapan sendu ia tunjukkan sekilas pada gadis muda itu sebelum sepasang matanya menjadi basah disertai luapan emosi tanpa alasan. Isakan mulai terdengar, berlanjut dengan suara lirih yang ia keluarkan.

"Iya, aku menemuinya malam itu...."

-----

Gesekan pelan dari pintu yang mulai menutup menghilang dalam sekejap disertai lampu depan toko yang mulai menyala satu-persatu. Pandangan waspada diarahkan Kairi keluar jendela beberapa saat, sampai tagannya menyibakkan gorden disana ketika hendak berbalik.

"Kau terlihat waspada." Toma melontarkan komentar melihat tingkah pemuda itu dengan wajah datar. Kairi hanya tersenyum tipis selum berjalan kearah bangku yang berada di sampingnya.

"Itu reaksi yang wajar, mengingat baru kali ini intel milik Sakura bocor..."

"Setelah sekian lama." Kairi melanjutkan kalimat Noel saat pandangan keduanya berpapasan. Tidak ada ekspresi yang diperlihatkan oleh ketiga lelaki itu selanjutnya, pandangan mereka yang tertuju kesatu arah menandakan ketiganya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Kau belum menemukan alasan di balik itu? Rasanya terlalu mudah jika menganggap kejadian ini persis seperti Kogurei." Toma mengawali keduanya.

"Mmm....mungkin, mungkin saja Sakura memang berniat menyelamatkan anak-anak itu kan?"

"Noel apa kau sedang bercanda? Kita sudah sering melihatnya beberapa bulan ini, aku rasa gadis itu bukan orang yang akan melakukan sesuatu tanpa mendapatkan sesuatu." Ujar Kairi ringan, menarik pandangan Noel dan Toma tanpa reaksi, mereka sadar apa yang dikatakan pemuda itu tidak sepenuhnya salah.

"Dia bertahan di sana selama tiga hari bahkan hampir kehilangan nyawa, apa lagi yang bisa sepadan dengan semua itu?" Toma memandang kearah Kairi dan Noel bergantian, sebelum ekspresi di wajah ketiganya kembali menghilang. Mereka sadar tidak akan menemukan jawaban dari pertanyaan Toma sekarang dan memutuskan untuk menghentikkan pembicaraan di sana.

Para Lupinranger baru saja kembali dari pertarungan hari itu. Sejauh yang mereka tahu masih mendapatkan hasil dari pekerjaan tersebut. Satu koleksi sudah kembali direbut dari tangan gangler, sindikat kejahatan antar dimensi yang menjadi musuh bebuyutan mereka selama hampir tiga tahun belakangan. Meski dengan bayaran yang cukup mahal dengan mengorbankan salah satu intel mereka.

Umika tertidur pulas di tepian ranjang miliknya, setelah semalaman di sibukkan dengan mengurus luka Sakura yang menurutnya cukup serius. Gadis itu akhirnya tertidur dalam posisi duduknya dengan tangan yang masih memegang perban.

Sakura mengerutkan dahi saat wajahnya terganggu dengan helaian rambut yang menempel disana. Rasa sakit langsung menyambut sebagian tubuhnya yang berusaha ia gerakkan, beberapa kali gadis itu harus menyipitkan mata untuk menahan ngilu dari beberapa luka, hingga akhirnya menemukan posisi duduk yang tepat.

Pandangan pertamanya langsung tertuju pada Umika yang tampak pulas di tepian ranjang, bahkan cukup pulas sampai-sampai tidak menyadari Sakura yang sudah sadarkan diri. Gadis berambut pendek itu bahkan sempat mengigau saat gulungan perban di tangannya hendak diambil.

"Sebenarnya siapa yang terluka di sini? Aku atau dia?" Sakura menggelengkan kepala.

Perhatian Sakura kini terhenti pada gulungan perban yang ada di tangannya, lebih tepatnya perban yang kini melilit tangan kanannya. Warna kebiruan yang telah terbungkus di balik kain putih itu cukup mengundang perhatian, membuatnya tersenyum sinis.

LUPIN BLACK - The Mysterious Treasure HunterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang