Part 38-Sang Nyonya Besar

160 16 1
                                    

Malam itu tepat di tengah-tengah jalanan kota yang sepi, diantara deretan pertokoan yang sudah tutup. Sayup-sayup terdengar suara musik yang mangalun.

Di suatu tempat di kota, di bawah permukaan tanah terus ke bawah sejauh delapan meter. Di balik pintu kayu yang terukir indah dengan simol huruf "L" sebagai lambang kelompok mereka. Yang berarti, Lupin.

-----

Di antara lorong-lorong dengan dinding berwarna gading dan lantai marmer hitam yang di pahat halus. Tirai dan karpet merah terpasang ditiap tiang batunya, bersama lukisan serta pajangan-pajangan lainnya yang bernilai fantastis.

Alunan musik yang menggema di penjuru lorong langsung mengarah pada pintu dengan anak tangga dari kayu yang terhubung pada satu ruangan besar yang kini dipenuhi banyak orang.

Ini adalah perjamuan tertutup yang hanya diadakan setiap beberapa tahun sekali. Khusus untuk menandai seberapa luas koneksi keluarga Lupin.

Percakapan dan semua interaksi di dalamnya menutup status dan identitas, kecuali pada enam orang dengan posisi penting di dalam keluarga. Kalangan bangsawan, orang-orang terkenal, pemilik status tinggi, milyader dan tanpa terkecuali... makhluk dunia lain. Tidak ada yang saling mengenal di tempat ini.

Dengan pakaian serba mewah dan menawan. Mereka semua tetap mengenakan topeng dan topi yang menandai mereka sebagai bagian dari kelompok yang sama.

Malam itu adalah kali pertama aku mengikuti perjamuan ini, setelah berulang kali menolak dengan berbagai alasan. Akhirnya aku menerima undangan itu setelah menimbang-nimbang semuanya. Dengan sebuah syarat.

"Aku tidak percaya aku sedang berada di tempat ini sekarang!" Kalimat Rhinson terdengar diantara pujian-pujian dan kalimat terimakasih yang ia lontarkan pada Arsene Lupin.

Tanpa terganggu dengan wajah Black yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan, pemuda itu berkeliling kesana kemari demi melihat benda-benda mewah serta barang-barang berkelas yang jarang sekali ia lihat.

"Woa! Kak lihat ini, bukankah ini lukisan terkenal yang sering di bicarakan banyak orang itu?" Rhinson bertanya saat matanya memperhatikan dengan seksama lulisan yang terpajang di depannya.

Ya... aku setuju untuk hadir, dengan syarat diperbolehkan membawa satu orang teman. Tapi... apa ini keputusan yang tepat?

"Bukankah lukisan ini seharusnya disimpan di Museum di New York? Bagaimana mereka mendapatkan kopian-nya?"

"The Starry Night, 1889. Lukisan ini asli, tapi aku juga penasaran bagaimana mereka mengkopi-nya dan membawa lukisan itu kesini." Ucap Sakura saat tubuhnya kini sudah berada tepat di belakang Rhinson, membuatnya terkejut.

"K-kapan kau di sini?! Tunggu maksudmu yang di musium-kan itu yang palsunya?!"

"Fokuslah, sudah berapa kali aku mengingatkanmu jika ini bukan pertemuan biasa. Ada banyak orang penting di tempat ini yang tentu saja tujuan mereka hadir bukan hanya sekedar untuk menikmati pesta." Gadis itu berkata dengan nada serius. Membuat Rhinson seketika menelan ludah.

Saat perhatian keduanya masih disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing, seseorang mendadak datang menghampiri Sakura dari belakang.

Dengan lembut pria itu menepuk pundak gadis itu dengan tangan yang berbalut sarung tangan putih. "Kau sudah siap?" Tanyanya membuat Sakura berbalik dengan wajah heran.

"Haruskah anda bertanya?" Gadis itu berkata dengan polos. Meski begitu arti di balik kata-katanya membuat sang pria tersenyum simpul. Kau yang mengajariku untuk selalu siap.

"Aku hanya penasaran, karena ini kali pertama kau hadir. Mereka akan memperkenalkanmu sebagai murid dan orang kepercayaanku. Akan ada banyak orang dengan respon yang berbeda-beda menilai keberadaanmu. Apa kau tidak masalah dengan itu?"

LUPIN BLACK - The Mysterious Treasure HunterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang