Aku menatap pantulan ku di cermin sebelum seketika membenturkannya kepalaku langsung ke cermin karena aku menyadari tingkah bodohku ini.
Aku sedang tidak memperhatikan penampilanku
Aku tidak sedang peduli dengan penampilanku
Aku tidak perlu menjaga image ku
Aku mengatakan hal hal itu pada diriku sendiri untuk menenangkanku, untuk menyakinkanku bahwa aku tidak melakukan semua itu, yang pada kenyataannya hal hal itu adalah hal hal yang aku perhatikan saat ini.
Siapapun, tolong selamatkan aku dari memukul diriku sendiri.
Aku menarik nafas panjang sebelum menoleh melihat jam yang sudah waktunya untuk aku pergi. aku mengambil tasku, dan tas tenteng yang berisi jaket jimin.
Dalam seluruh perjalanan, aku masih menyakinkan diriku sendiri dengan mengatakan itu setiap kali aku merapikan rambutku atau pakaianku.
Aku sendiri merasa frustasi dengan ketidak sinkronan pikiranku dan tindakanku
Sejujurnya, aku tidak banyak berharap dari pertemuan ini, tapi dengan dia yang sangat jelas mengisyaratkan bahwa ini kencan, sangat tidak sopan jika aku tidak berdandan. Sejujurnya itu bentuk penyangkalan diriku sendiri lagi
Walaupun aku bingung dan terganggu untuk saat ini dengan tingkahnya dan situasi ini, perlu diketahui bahwa aku tidak merasakan apapun kepadanya selain antusai yang tidak aku mengerti berasal dari mana.
Apakah karena statusnya sebagai artis yang membuatku seperti ini? aku tidak dapat memutuskan kenapa. jadi tolong jangan bertanya kepadaku.
Aku berjalan dengan pelan menuju sungai Han dan tidak tahu harus pergi kemana ketika sudah sampai disana. Tidak mungkin aku harus menyusuri setiap sudutnya kan?
Akhirnya pertama tama aku akan pergi sepanjang jalan menuju ke tempat terakhir kami bertemu sambil melihat ke sekeliling, kalau saja aku tidak sengaja melihatnya menunggu di tempat lain
Kalau boleh jujur, aku datang terlambat 30 menit dari waktu janji kami, atau lebih tepatnya waktu janji yang hanya dia sepakati saja. aku hanya tidak ingin menunjukkan antusiasme ku dan aku juga sedikit tidak menghargai caranya untuk mengajakku keluar.
Tapi masalahnya adalah, ketika aku sudah sampai di tempat duduk terakhir kami bertemu dan tidak melihat siapapun, aku memutuskan untuk menunggu. Tapi begitu aku duduk, aku dapat melihat kertas klip yang tertempel di kursi. Aku mengambil dan membacanya
--maaf, sepertinya kita harus mengatur waktu lain
hubungi aku begitu kau melihatnya
010------
NB:jangan lupa untuk membawa jaket hitamku—Aku melihat catatan itu untuk waktu yang lama, memutuskan pro dan kontra, sebelum aku memasukkan kertas klip itu ke dalam tas tenteng yang ada jaketnya dan berdiri meninggalkan tempat itu
aku tidak pernah mengerti jalan pikirannya. bagaimana bisa dia dengan entengnya menyertakan nomor telfon pada catatan di tempat seperti ini?
apakah dia bodoh atau ceroboh, aku tidak bisa mencari perbedaanya.
Pada saat ini, aku tidak merasakan apapun. Tidak ada kekecewaan atau rasa lega, hanya sedikit jengkel karena dia membuang buang waktuku.
tidak ada perasaan lainnya yang aku rasakan.
sejak dulu, aku tidak pernah menyukai menunggu, karena itu membuang buang waktuku. tidak terkecuali saat ini.
Aku tidak pernah menyadari bahwa, ini baru permulaan dan ini bahkan tidak pernah seberapa jika dibandingkan dengan waktu waktu ketika aku harus menunggunya di masa depan.

KAMU SEDANG MEMBACA
TRY
Romanceketika mencoba adalah sesuatu hal yang harus kamu lakukan ketika kamu gagal dalam apapun. setidaknya itu yang aku tahu setelah aku melakukannya. seperi apa kamu dimasa depan atau dengan siapa kamu hanya kamu yang dapat memutuskannya jika kamu takut...