BAB XI

101 16 2
                                        

"Tidak banyak orang baik di dunia ini
Maka jangan sia-siakan kebaikan orang-orang di sekitarmu"

(Fira)

♡♡♡

Tok! Tok!

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Iya Dek, ada apa ya?"

"Mbak Nana dikunjungi ayahnya di depan, Mbak," Seorang santri berperawakan kecil terlihat malu-malu menyembulkan kepalanya di pintu kamar Nana dan Fira.

"Oalah iya. Makasih ya," ucap Nana tersenyum melihat santri itu mengangguk dan berlari pergi.

"Lucu banget sih. Kelas berapa ya kira-kira?"

"Kayaknya baru kelas satu atau dua SMP," jawab Fira menyiapkan makanan untuk berbuka.

"Ikut aku aja yuk, Fir. Aku kenalin sama Ayah," ajak Nana dengan wajah penuh harap.

"Gak ah ... gak enak mengganggu waktu kalian," tolak Fira.

"Gak papa ... Ayah itu orangnya baik dan justru senang kalau anaknya banyak teman. Kemarin waktu aku telepon, aku ceritain kalau aku punya temen yang sangat bawel. Yuk ah, cepetan!"

Tanpa menunggu persetujuan dari Fira, Nana sudah menarik tangan Fira untuk pergi menemui ayahnya.

"Ayahhhh ...." Dari jauh Nana sudah berteriak memanggil ayahnya yang duduk di aula terbuka (tanpa tembok) tempat para santri dikunjungi.

Nana berlari tergopoh-gopoh menghampiri ayahnya. Sampai-sampai Fira yang badannya lebih kecil dari Nana, kesulitan mengikuti langkah kaki Nana yang panjang.

"Ayah, kangen!" Sampai di tempat ayahnya, Nana langsung berhamburan memeluk ayahnya dan mencium pipinya.

Fira yang melihat pemandangan itu menjadi malu sendiri. Memang benar itu adalah ayahnya tetapi diusia yang sudah sebesar ini apakah tidak malu dilihat orang?

Melihat Nana dan ayahnya begitu bahagia dan berganti mencium pipi Nana, Fira jadi menyimpulkan. Mungkin mereka sudah terbiasa seperti itu, dan Nana juga tidak pernah merasakan pelukan hangat seorang ibu.

Berbeda dengan dirinya yang dari kecil sudah penuh dengan kasih sayang seorang ibu. Namun, apa yang dimiliki Nana tidak dimiliki Fira, begitupun sebaliknya.

"Udahan manjanya! Malu sama yang lain, liat tuh ada anak-anak yang ketawa liat Nana," ucap ayah Nana melepas pelukan putrinya.

"Hehe biarin!"

"Eh ... ini siapa? Teman Nana?" tanya ayah Nana setelah menyadari Nana tidak datang sendirian.

"Ah, iya. Ini nih ... yang Nana ceritain kemarin, Yah. Bawelnya masyaallahhh ... udah kayak emak-emak tukang sayur keliling yang biasa jualan di rumah kita."

Fira yang mendengar penuturan Nana hanya diam. Dia sudah menduga pasti yang diceritakan kepada ayahnya adalah kejelekannya.

"Nana ... gak boleh kayak gitu. Lagian kemarin waktu ditelepon Nana gak bilang begitu, tuh. Malahan Nana banyak me-"

"Iya itu. Udah, gak usah diulang lagi ceritanya ya, Yah. Hehe ..." ucap Nana memetong perkataan ayahnya.

Nana tidak mau ketahuan oleh Fira kalau kemarin Nana menceritakan banyak hal tentang Fira kepada ayahnya. Mulai dari Nana yang ingin kabur namun tidak jadi, berkat ejekan dari Fira yang membuat Nana bertekad untuk tidak kalah dan menetap di pesantren. Kemudian hiburan dan bujukan Fira ketika Nana sedang kumat ingin pulangnya dan banyak hal lainnya.

Sempena 30 (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang