Seorang gadis hanya bisa terduduk diam sambil memeluk lututnya. Melihat sekilas penampilan pun semua orang tahu bahwa gadis itu lelah. lingkaran hitam yang samar mulai tercetak sekeliling mata gadis itu, bola matanya indah yang seperti manik-manik pun sedikit demi sedikit mulai sayup dan memerah seiring waktu berlalu.
Dapat di pastikan bahwa gadis itu mengantuk.
Rosie gadis itu hanya terdiam menahan kantuk dengan tampang depresi hampir gangguan mental.
Ia hanya bisa menjambak rambutnya sambil mengutuk di dalam hati.
Ingat kata si Manoban untuk tidur bersama.
Gagasan itu nyatanya kata lain untuk membunuh tanpa menyentuh.
Rosie, gadis itu menolak keras gagasan tidur bersama, ia hanya ingin tidur namun nyatanya temannya jauh lebih kejam jika sesuatu yang mereka inginkan tidak di penuhi.
Tiga lawan satu Rosie tidak punya pilihan lain. Dia kalah telak.
Dan tidak mungkin juga tumbuhnya membelah jadi tiga. Dia manusia bukannya Amoeba!
Pada akhirnya Rosie menyesal mengiyakan permintaan mereka. Dan hampir mati muda hanya mendengar perdebatan ketiga temannya. Untuk memperebutkan posisi tidur.
Iya sekarang Lalisa, Jennie dan Jisoo sedang berdebat siapa yang akan tidur di sisi Rosie.
Pada akhirnya mereka memutuskan untuk bermalam di rumah Lalisa.
Karena tidak ada satupun dari mereka yang mau kembali ke rumah masing-masing atau mengemudi di malam hari ke apartemen Jennie.
Jadilah rumah Lalisa menjadi tempat singgah untuk mereka tidur.
Menyebalkan.
Rosie ingin kabur dari sini dan pindah saja ke penthouse. Ia butuh ketenangan. Ia ingin tidur.
Rosie pada dasarnya tidak tahan lagi pun pada akhirnya berdiri, namun tatapan semua orang membuatnya mengurungkan niatnya.
Nyata urusan kabur lebih berbahaya dari apa yang bisa Rosie bayangkan. Jennie gadis itu lebih ganas jika ingin sesuatu.
"Mau kemana?" Tanya Jennie dengan tatapan mengintimidasi. Membuat Rosie ciut segera mendudukkan lagi dirinya. Rosie benar tidak menyangkan bahwa Jennie benar-benar mendominasi di kelompok mereka.
"Jangan mencoba kabur dari kami." Jelas Jisoo membuat Rosie menghela nafas pelan. Jennie pun beranjak pergi ke kamar mandi sambil membawa tali yang ia ambil dari bathrob.
Ini gila!
Rosie hampir menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia ingin menelpon JK untuk membawanya kabur dari temannya.
"Yaa—Kau ingin mengikatku?!" Jerit Rosie frustasi. Jennie pun mengangkat alisnya. "Jika kau mencoba kabur aku tidak segan-segan melakukannya." Jelas Jennie enteng. Membuat Rosie hanya bisa membanting kepalanya ke kasur. Gangguan mental.
"FUCK!!!" Jerit Rosie tersamar. Meredam semua kekesalan di bantal.
Sedangkan ketiganya hanya terkekeh seperti psikopat saat melihat mangsa mereka mulai depresi dan tertekan.
"Yaa— kenapa kalian melakukan ini, apa salahku?!" Tanya Rosie dengan muka memerah. Emosi sudah menumpuk di kepalanya.
Mendengar Rosie yang marah-marah Jennie pun terkekeh geli. "Salahkan dirimu sendiri yang terlalu cantik malam ini." Jelas Jennie tersenyum simpul. Membuat Rosie menganga.
KAMU SEDANG MEMBACA
We Are Her Mother
Humor18+ Bagaimana ceritanya saat empat orang gadis yang terkenal dingin, konyol, tomboy dan tidak perduli harus mengurus seorang bayi. Bagaimana kehidupan mereka yang tenang, tidak suka di atur, bebas. Tiba-tiba harus berubah karena kehadirannya bayi m...
