"Kemasi barang barangmu."
Raelyn mengangkat alisnya bingung pada ucapan ayahnya, "Barang barang sekolahku sudah dikemas sejak lama." balasnya lalu mulai melanjutkan sarapan.
"Apa maksudmu sekolah? Kau tidak akan kembali ke Hogwarts selama perang ini berlangsung."
Suapan oatmeal di tangannya yang tak dibaluti gips menggantung diudara, "Kenapa Dad?"
"Dasar bodoh, tutup mulutmu dan lakukan apa yang kuperintahkan!"
Raelyn tak mampu berdebat lebih lanjut, ia menegak kasar susu cokelat nya dan menaiki tangga dengan segera.
Raelyn memasuki kamar lalu membanting pintunya cukup kencang, ia mencoba berpikir jernih untuk sejenak. Hari ini adalah jadwal pemberangkatan ke Hogwarts di tahun terakhirnya. Jika ia tidak kembali ke sekolah, ia akan dicap pembohong oleh Harry. Itu tidak begitu penting, yang dipikirannya sekarang hanya Snape. Bagaiamana pria itu? Ayahnya pasti akan membawanya pergi ke suatu tempat dimana ia tidak bisa kabur, dan tak ada seorangpun bisa membawanya pergi darisana.
"Ayo Raelyn, berpikir!" gumam Raelyn pada dirinya sendiri.
"RAELYN CEPATLAH!" teriak Ayahnya dari lantai bawah.
Raelyn tersentak kaget, lalu kakinya memutuskan menuju Carl. Ia mengusap lembut bulu halus burung hantu kesayangan nya, dan membuka kunci yang terpasang pada sangkarnya. Carl ber-uhu pelan, sebelum terbang bebas meninggalkan dirinya sendirian. Raelyn menggoyangkan tongkat di tangannya, memberi mantra pengecil pada sangkar burung kesayangannya sebelum menatap jendela tempat Carl baru saja terbang.
Raelyn harap, Carl tahu dimana pemiliknya akan pergi.
***
Raelyn dan Ayahnya; Chadd ber Apprate ke sebuah hamparan luas padang rumput berukuran semata kaki. Tak ada apapun disini, kecuali serangga kecil yang hinggap di rumput dan burung burung terbang bebas di langit.
Dimana ini? Kemana ayahnya membawanya?
Raelyn melemparkan pandangannya ke segala arah, mencoba waspada walaupun ayahnya terlihat sangat santai disampingnya.
Raelyn menaikan alisnya bingung seketika, saat menatap ayahnya yang sedang menggumamkan sesuatu.
Tak lama kemudian setelah ayahnya berkomat kamit aneh, sebuah Manor bercorak warna gelap dengan arsitektur classy tiba tiba muncul dari bawah tanah secara perlahan, seakan ada sesuatu yang menyuruhnya naik. Raelyn menganga takjub bagaimana Manor itu tiba tiba tumbuh seperti tanaman dalam waktu sepersekian detik.
'DM'
Itulah yang dibaca Raelyn pada pagar masuk rumah tersebut, Dixie Manor, jelas rumah ini telah dipasang mantra Fidelius.
"Leon?" sapa ayahnya ketika melihat pria berumur 30 tahun dengan jubah navy nya menatap mereka dari balik pagar.
"Chadd?" balas suara berat diikuti senyum tipisnya.
Raelyn menatap pria yang dipanggil 'Leon' oleh ayahnya dengan pandangan kagum. Pria ini jelas adalah pamannya, mengingat ia begitu mirip dengan ayahnya, baik dari postur tubuh dan mimik wajah. Rambutnya berwarna coklat gelap, tubuhnya tak berotot namun cukup kekar untuk seukuran pria berumur tiga puluh tahun. Yang jelas artinya ia memiliki jadwal olahraganya sendiri. Serta, hidung yang lebih mancung dan alis yang lebih tebal daripada milik ayah Raelyn.
Astaga, apa pernikahan sedarah dilegalkan dalam keluarga Dixie? Pikir Raelyn.
Raelyn membuang pikiran bodohnya, tepat setelah ayahnya berteriak padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My HalfBlood Prince
General FictionIni bukan kisah Harry Potter atau Kau-Tahu-Siapa. Ini hanyalah sepenggal kisah antara karakter favorit saya, Severus Tobias Snape dengan gadis kecil bernama Raelyn Chadd Dixie. Kisah yang saya buat murni hasil imajinasi saya yang sangat mengidolakan...
