27. Tantangan untuk Chiko 2

1.2K 214 10
                                        


*****

"Good bye-bye." Chiko melambai ke bawah sambil memberikan ciuman jauh pada pria itu.

"Gak usah peduliin gue! Serang bocah itu, bodoh!"

Suatu suara membuat pandangan Chiko beralih ke belakang.

Kedua pria di sana beranjak berdiri, bersiap menyerang dirinya, sedangkan yang satunya mencoba memulihkan tubuhnya sendiri dari serangan dadakan Chiko tadi.

Chiko bergegas mundur beberapa langkah lalu lari dan melompat ke rooftop rumah lain dibantu tongkat benderanya.

Senyumannya melebar membanggakan diri sendiri. Dia sangat berani melompat padahal jarak rooftop dengan tanah cukup tinggi, mereka mana bisa.

"Gue gak akan berhenti sebelum bisa langkahin mayat lo, bocah tengil!" teriak salah satu pria berbadan besar.

Dengan mudah pria itu melompat ke rooftop yang dipijak Chiko dan diikuti temannya yang lain. Ternyata mereka tidak sepayah yang Chiko kira, memang dasarnya Chiko saja yang sok bisa, kondisi apa pun dia selalu yakin pasti menang.

"Sial!" umpat cowok itu.

Akhirnya mau tidak mau dia harus meladeni mereka. Chiko terus menepis setiap kali mereka menyerang, otaknya belum bisa bekerja merancang strategi untuk melawan, dia cukup kewalahan karena serangan dari mereka.

Sialnya lagi semakin lama anggota musuh semakin banyak. Mereka yang tadinya berpencar mencari keberadaan Chiko kini berkumpul saat mengetahui keberadaan cowok itu sekarang.

Chiko merunduk saat salah satu pria mencoba membogemnya, dia menendang perut pria itu dengan satu kakinya cukup keras sampai membuatnya tersungkur di atas lantai dengan ringisan tertahan.

Beralih ke arah lain Chiko menggerakkan tongkat benderanya ke samping, memukul dua pria yang mencoba mendekat hingga akhirnya tumbang.

Dia berlari ke bawah mengatur strategi lain untuk mengalahkan musuh. Masih ada empat orang yang belum dia tumbangkan, mereka mengejarnya menyusuri jalanan padat penduduk.

"Permisi! Permisi woi, permisi!" Chiko berteriak saat melewati beberapa orang yang berlalu lalang di jalanan.

Dia tidak mau merugikan orang tak bersalah, seperti menyenggol bapak-bapak sampai terjatuh ke got atau memorak-porandakan gerobak sayuran hingga membuat sang penjual kelimpungan karena rugi.

Itu adalah perbuatan tercela, senakal apa pun Chiko dia masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak.

Berbelok ke gang lain Chiko tanpa sengaja menabrak jamuran hingga membuat salah satu pakaian nyangkut di kepalanya.

Karena tidak ada waktu untuk mengembalikan jemuran itu akhirnya Chiko membawanya sekalian lari menghindari orang-orang yang mengejarnya.

"Besok saya balikin Bu!" teriak Chiko saat mendengar suara gerutuan ibu-ibu yang kemungkinan besar adalah sang pemilik daster itu.

Chiko berbelok lagi ke jalan lain yang jalannya lebih sempit.

Dia sama sekali tidak tahu jalan yang sekarang diambilnya benar atau tidak. Dia hanya bisa berharap semoga tidak dipertemukan dengan jalan buntu.

"Aduh, capek banget." Cowok itu bersembunyi di balik tembok.

Napasnya terengah-engah, dia menghirup udara cukup rakus seakan tidak ada udara lagi setelah ini.

Tubuhnya menegang saat empat pria tadi kini berhenti tak jauh di depannya. Kenapa juga mereka harus berhenti?

"Sial! Ke mana perginya bocah tengil itu," umpat seorang pria tersebut penuh amarah.

My ChikoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang