Sudah terhitung dua minggu setelah insiden kecelakaan itu terjadi hubungan Chiko dengan Sesil masih berjalan mulus tanpa kendala. Sekarang mereka menjadi pribadi yang saling terbuka, menceritakan apa pun tanpa ada aksi saling sembunyi.
Sesil memahami ketika Chiko sedang melaksanakan tugas. Namun yang membuat gadis itu ingin tertawa ketika Chiko mengatakan kalau sebenarnya dia tidak mempunyai niat untuk mengemban tugas tersebut, jadi dia melarang Sesil menuntut agar berhasil. Dan satu lagi, dia tidak mau Sesil menertawakannya kala gagal mengemban tugas.
"Hari Selasa tuh rasanya lama banget. Aku udah nunggu kamu di depan jendela sampai berjam-jam tapi bel istirahat gak bunyi juga."
Sesil menggeleng atas kelakuan Chiko, "Dari pada nungguin kayak tadi bukankah lebih bermanfaat kalau Kak Chiko mengikuti pelajaran?"
Chiko menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Udah belajar tadi malam, jadi sebelum diterangkan guru aku udah paham duluan."
Sesil memicingkan mata menatap Chiko yang dibalas cowok itu dengan cengiran jenakanya, "Iya-iya gak belajar. Tadi malam ada tugas di rumah Alex. Pantatnya minta di puk-puk biar nyenyak tidurnya."
Sesil mengurut pelipisnya, ada saja alasan tak masuk akal yang dilontarkan Chiko untuk nya. Lama-lama capek juga kalau harus menasehati Chiko pasal pentingnya mengikuti pelajaran. Dia sendiri juga tidak enak hati kalau harus mengatakan hal yang sama berulang kali layaknya kaset rusak.
"Sop buah seger kayaknya," kata Chiko.
Sesil mengangguk, "Boleh tuh."
"Ya udah yuk!" Chiko menggenggam tangan Sesil, menariknya supaya cepat sampai ke kantin.
Kondisi kantin sudah mulai ramai. Banyak antrian di sana. Belum lagi siswa-siswi yang berebut bangku hingga menimbulkan pertengkaran. Menurut pandangan Chiko bangku di kantin memang sudah penuh, tak ada satu pun bangku yang tersisa.
"Kita duduk di mana, Kak?" tanya Sesil memegang gelas berukuran besar berisi sop buah.
"Kalau sama temen-temen Kak Chiko gimana?" Sesil menatap bangku paling pojok kantin. Bangkunya cukup luas dan di sana hanya di tempati tiga orang saja.
"Jangan! Bisa ditelan hidup-hidup sama Alex ntar," larang Chiko.
"Segalak itu ya, Kak Alex?"
"Galak banget! Kalau kita di sana dia bakal ngira aku menghina dia yang lagi putus cinta sama Eva."
Sesil mengangguk. Pandangannya kembali menelusuri ke sepenjuru kantin lalu berhenti saat melihat ada Bella dan Anya disalah satu bangku.
"Kalau gabung sama Anya dan Bella nanti Kak Chiko ribut lagi."
Muka Chiko berubah menjadi tidak enak dipandang, "Dia yang mulai."
Sesil menghela napas, "Ya udah, kita ke taman aja yuk!"
Chiko menjentikkan jari, "Nah... Pilihan yang tepat."
Akhirnya mereka melangkahkan kaki keluar dari kantin. Namun sebelum benar-benar meninggalkan lokasi dua suara memanggil mereka berdua.
"Sesil!"
"Woi...! Chiko!"
Merasa namanya disebut mereka berdua menoleh menatap sumber suara. Di bangku tengah terlihat Anya melambaikan tangan pada Sesil, sedangkan di bangku paling pojok Bagas ikut melambaikan tangan pada Chiko.
"Apaan?! Gue lagi mau pacaran," seru Chiko tidak mau diganggu gugat.
"Pacarannya dipending dulu. Ada masalah penting nih!" Kini giliran Revan yang bersuara.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Chiko
Mistério / SuspenseNaksir cewek ✓ Langsung tunangan ✓ Cinta tak bertepuk sebelah tangan ✓ Sesimpel itu kisah cinta seorang Chiko Dava Pratama. Mendapatkan Sesil adalah sebuah kebanggaan yang patut dia sombongkan. Gadis itu bagaikan bidadari. Cantik wajah, cantik hati...
