29. Jocelyn vs Yuta = Kekacauan

601 137 18
                                    

    "Loh ramai ternyata."

    Erin tertawa kecil, melihat orang-orang yang berkumpul di rumahnya, saat mendengar Theo sakit, padahal cuma sakit biasa saja, tapi mereka semua datang, yakin laki-laki itu akan semakin pusing mendengar keributan yang dibuat oleh para tamu nya ini.

    "Eh, ini Arunika kan? Adik kelas kita dulu?" Jocelyn bangkit dari sofa langsung mendekat ke arah mereka.

    "Iya, kak Joy."

    "Ih gemes nya, sama siapa?" tanya Jocelyn, lalu melihat ke arah laki-laki di belakang Arunika. "Kakak kamu?"

    Seketika itu juga tawa menyembur dari bibir laki-laki yang tengah duduk di sofa, begitu juga Erin yang tidak bisa menahan tawanya, sementara Jesslyn ikut tertawa kecil tidak mau nanti ikut diamuk Justin.

    "Eh salah ya? Maaf, abis mirip loh, kirain kakak Arunika, maaf ya." Jocelyn yang melihat tingkah Erin dan juga Yuta langsung merasakan ada yang salah dengan ucapannya.

    Arunika membalas dengan senyum tapi juga seperti menahan tawa. "Ini pacar aku kak."

    Jocelyn makin menunjukkan tampang bersalah. "Maaf ya nggak tahu, eh tapi kalau kata orang, kalau mirip itu tandanya jodoh loh!"

    Mendengar hal itu Yuta makin tertawa. "Mana ada jodoh! Coba tanya orang tua lo, jangan-jangan lo punya saudara lain yang nggak lo tahu."

    "Heh diam lo, resek banget jadi orang!"

    Erin mencoba menetralisir tawanya, meminta kedua orang yang baru datang itu untuk masuk dan duduk di dalam, Jocelyn juga ikut masuk dan duduk di bawah, kebiasaan yang mendarah daging.

    "Jocelyn sini, duduk sini saja, kenapa malah di bawah." Jesslyn menepuk-nepuk space kosong di antara dirinya dan Yuta.

   "Nggak usah, enakan duduk di bawah, lagian mana sudi duduk sebelahan sama cowok ngeselin kayak si Yuta," balas Jocelyn  dengan wajah tanpa rasa bersalah.

    "Heh, lo pikir gue sudi berbagi udara sama cewek cerewet kayak lo?"

     "Aduh sudah-sudah nggak capek apa berantem terus? Nanti Theo malah keganggu karena kalian ribut."

    Erin tertawa. "Biarin saja kak, biar jadi hiburan, kasian nih temen Erin, abis diputusin, siapa tahu cocok sama kak Yuta."

    "Mana mau gue sama bocah labil kayak dia."

    "Selera gue juga tinggi, asap kenalpot kayak lo mana bisa memenuhi selera tinggi gue!"

    "Gue ganteng ya anjir."

    "Hah? Coba sesekali tuh ngaca coba."

    Erin akhirnya mengabaikan pertengkaran kedua orang itu, lalu beralih kepada Arunika dan Justin. "Mau minum apa kak? Arunika juga mau minum apa?"

    "Nggak usah repot-repot kak, eh iya ini aku lupa, tadi beli buah buat kak Theo."

    "Astaga, malah aku yang ngerepotin, kak Theo tuh cuma demam saja tahu, bukan sakit parah, nanti juga kalau minum obat sembuh," Jelas Erin.

    "Ini pasti sakitnya karena ditinggal kelamaan sama kamu Rin." Jesslyn mencoba menggoda Erin.

    "Erin pergi nggak sampai seminggu, masa iya dia sakit."

    "Ini tuh namanya penyakit rindu Rin, biasanya karena terlalu bucin."

    "Bucin, bucin otak lo isinya pacaran terus!"

    "Lah kenapa? Suka-suka gue lah, kok lo yang ribut."

    "Tanggalan di kantor dia, setiap hari di tandain, kirain hari libur, atau ada acara apa gitu, tau nya nungguin istrinya pulang." Justin ikut membesarkan.

BETWEEN [KTH] [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang